Sudah lama saya tak menikmati suasana malam kota Semarang. Seingat saya, udara malam di kawasan kota Semarang terakhir saya nikmati saat kecopetan hp bersamaan dengan acara ketoprak di gedung TBRS.
Karena ingin menikmatinya lagi, malam ini saya ikut Dayat ke pasar malam minggu di lapangan Simpang lima. sebelum berangkat saya dan Dayat diskusi di musholla al Azhar. Kali ini Dayat mempersoalkan waktu-waktu yang diharamkan untuk melaksanakan sholat. Kebetulan saya membawa kitab fikh Syafiiyah, Tanwirul Qulub.
Penjelasan dalam kitab itu sama dengan apa yang tertulis dalam kitab yang dibawa Dayat, Taqrirotus Sadidah dan Minhajul Qowim. Ketiga kitab itu saling melengkapi dalam menerangkan waktu sholat yang diharamkan dalam islam.
Diskusi singkat itu kami lakukan di saat kiai Siroj membaca kitab. terus terang saya lbih suka pembelajaran dengan sistem diskusi dari pda mndengar ceramah. Apalagi pembacaan kitab dengan menggunakan dialektika utawi, iki, iku tanpa memberikan kesempatan santri untuk bertanya. Dengan pengajian seperti itu seolah apa yang dijabarkan oleh mushonnif dalam kitabnya sejajar dengan firman Allah. Kalam-kalam pengarang kitab diterima tanpa dikritisi atau dilihat latr belakangnya terlebih dahulu. Kasus semacam ini agak bertolak belakang dengan ajaran islam yang menyuruh umat islam agar meelaah hadis sesuai dengan apa yang dirangkum dalam kitab-kitab Mushtolah hadis.
Kembali pada malam di Semarang. Perjalanan menuju Simpang Lima kami tempuh dengan angkutan Semarang-Kaliwungu. Sesampai di sekitar terminal Poncol saya melihat banyak prempuan-perempuan liar atau kupu-kupu malam. Tentunya apa yang baru saja terlihat mengingatkan saya pada lirik kupu-kupu malam. "Apa yang terjadi-terjadilah yang dia tahu Tuhan penyayang umat-Nya, yang terjadi-terjadilah yang dia tahu hanyalah mnyambung nyawa, dosakah yang dia kerjakan, sucikah mereka yang datang?"
Saturday, March 5, 2011
SABTU, 5 MARET 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment