Thursday, March 17, 2011

KAMIS, 17 MARET 2011

Baru kali ini saya berdialog panjang mendukung konsep negara Islam. Selama ini saya manut dengan konsep negara demokrasi. Meskipun demokrasi telah menghancurleburkan kondisi Indonesia. Entah setan apa yang merasukiku hingga bisa begitu getolnya membela penegakan syariah Islam di Indonesia.

Berawal dari obrolan ringan tentang terjadinya bom yang diarahkan pada Ulil Abshor Abdalla, tadi setelah sholat maghrib saya, Harir, dan Ade melanjutkannya dengan apa yang seharusnya dilakukan oleh negara ini agar kekacauan ekonomi, hukum dan politik bisa segera teratasi.
Memang akhir-akhir ini saya gelisah dengan konspe negara Islam. Selama ini saya menganggap negatif konep tersebut. Pada dasarnya ada atau tidaknya negara Islam tergantung pada kepercayaan kita selama ini. Percaya kepada teman kita yang bergabung dalam HTI, MMI atau pada ideologi barat yang sudah dikemas indah dalam metodologi studi tentang Islam. Sehingga kita malah mencurigai orang Islam sendiri dari pada orang Barat.
Harir tak sepaham dengan saya. Dia termasuk orang sendiko gusti dengan perkataan ustaznya. Berbeda dengan Ade yang pernah masuk dalam aliran Mujahidin. Apa yang disampaikannya banyak yang mendukung pikiran saya. Dia menjelaskan kalau sekarang sudah waktunya kita meningkatkan dakwah Islamiyah dengan tujuan utama meluruskan akidah. Katanya, akidah umat islam selama ini banyak yang melenceng bahkan umat NU yang mayoritas sekalipun. Banyak praktek ritual orang NU yang perlu dibenahi seperti konsep tawassul dan tahlil.
Diskusi tiga orang tadi menarik perhatian mas Rifki, Lukman dan Yadi. Mereka ikut nimbrung dan berbicara menanggapi apa yang saya sampaikan.
Saya masih belum menemukan arti kata yang pas untuk mengartikan kata din dalam bahasa Indonesia. Saya mencoba mengaitkannya dengan kata ma din ah, nama kota di arab yang sebelumnya adalah Yatsrib. Ada indikasi yang menunjukkan bahwa din bukan hanya sekedar agama yang mengatur ritual. Tapi juga berkaitan dengan daulah eperti praktek rasulullah waktu itu.
Bagi saya sistem khilafah Islamiyah pada masa Umayah dan Abbasiyah lah yang menjadi sebab utama kemajuan peradaban Islam pda saat itu. Seandainya saat ini diterapkan kemungkinan Islam mampu mencapai kejayaannya lagi. Sayangnya sekarang umat Islam banyak dikelabuhi oleh pemikiran yang menafikan konsep negara Islam dan jihad. Pemikiran inilah yang banyak dipercayai. Orang-orang yang mempercayainya dianggap orang moderat dan yang menentangnya dianggap kaum fundamental konservatif.
Untuk saat ini saya masih penasaran dengan langkah-langkah yang ditempuh oleh HTI untuk mencapai cita-cita mewujudkan khilafah. Mereka terlihat lebih efektif dalam berdakwah dari pada NU akhir-akhir ini. Tapi saya belum bisa secara pasti akan bertahan dengan pikiran saya sekarang untuk menegakkan khilafah.

No comments:

Post a Comment