Thursday, March 3, 2011

KAMIS, 3 MARET 2011



Pengurus Zenith mengadakan rapat evaluasi hari ini. Saya mendapatkan undangan. Informasinya Pak Iman Fadhilah juga hadir. Sepulang kuliah saya lupa. Benar-benar lupa dengan undangan itu. Padahal posisi saya sudah berada di Jerakah. Baru setelah ada yang bilang rapat zenith, saya langsung teringat dengan agenda itu.
Dengan tergesa-gesa saya berangkat ke kampus lagi. TamPak raut wajah saya penuh keringat di kaca spion bis. Turun dari bis saya berjalan dari depan gerbang kampus menuju gedung PKM Syariah. Waktu sudah menunjukkan pukum 13:30 lebih. Artinya saya sudah terlambat satu jam.
Di gedung PKM, acara sudah dimulai. Karena saya datang atas nama ‘redaktur senior’, saya mendapat tempat duduk di depan di samping Iman Fadhillah. Selama ini, dialah yang ngeramut majalah Zenith sejak zaman mas Syamsul sampai sekarang. Komitmen dan cintanya untuk bernagi ilmu kepenulisan benar-benar patut diacungi jempol. Saya banyak mendapat inspirasi darinya. Dulu sewaktu masih menjabat Pimred Zenith saya sering ke rumahnya. Rumahnya berada di Meteseh. Untuk kesana harus naik bis kemudian berjalan kaki kira-kira satu kilometer. Tempat tinggalnya di pesantren. Kebetulan mertuanya adalah seorang Kiai.
Saat saya berada di rumahnya tak hanya masalah majalah yang dibicarakan Pak Iman. Tapi juga pengalamannya ketika menjadi mahasiswa. Dari cerita itu saya mendapat banyak inspirasi. Akhirnya berawal dari situ lah akhirnya saya berani untuk mengubah haluan menjadi mahasiswa aktifis.
Entah mengapa saya merasa akrab dan biasa saja dengan Pak Iman. Teman-teman sepertinya masih malu-malu saat berbincang-bincang dengannya. Jujur saja, selama di Semarang, dialah yang bisa menjadi partner sekaligus guru yang sesuai dengan keinginan saya. Sering kali dia memberiku motivasi.
Apa yang dibicarakan Pak Iman terkait Zenith sama dengan apa yang pernah disampaikannya pada saya. Bedanya sekarang semua redaktur bisa mendengar langsung dari Pak Iman. Kritikan dan masukannya. Saya yakin dengan masukan-masukan yang disampaikan Pak Iman akan memupuk rasa cinta terhadap Zenith. Katanya “bagaImanapun Zenith lah yang menjadi ruh keberadaan mahasiswa falak”.
Di akhir pertemuan dia sempat menyinggung tentang pembuatan buku. Ini yang saya tunggu lantaran saya memang punya proyek semacam ini. Mudah-mudahan keinginan saya untuk membuat buku bunga rampai semester ini terwujud. Amin.

No comments:

Post a Comment