Tuesday, March 29, 2011

SELASA, 29 MARET 2011

Mimpi adalah misteri seperti hidup ini. Mimpiku semalam adalah salah satu mimpi yang saya harapkan selama ini. Barangkali diharapkan oleh banyak santri sepertiku.

Tadi malam saya tidur sendirian di beskem. Ketenangan tidur ditemani alunan ayat-ayat suci alquran mengantarkanku bertemu Kiai Masbuchin Faqih, Gus Suhaimi dan Gus Huda di pondok tercinta. Mambaus Sholihin. Dalam mimpi itu saya berbincang ketiga tokoh karismatik itu. Pertama saya menyapa dan mencium tangan Gus Suhaimi, Kepala Madrasah Aliyah Mambaus Sholihin. Beberapa kali saya bertemu dan berurusan degan Gus haimi sebelum keberangkatanku ke Semarang. Banyak sekali jasa beliau sehingga bisa mengantarkanku ke sini.
Seingatku saya menyalami Yai Buch in dan Gus Huda. Lalu Gus Huda bertanya.
"Sekarang dimana?"
"Semarang" Jawabku.
Tanpa kusangka Yai Buchin menyela pembicaraan kami berdua.
"Yang dapat beasiswa falak"
"Injih yai"
"Disana kitab apa yang dipelajari?"
"Khulashoh wafiyah"
"Siapa Muallifnya"
Deg. Tiba-tiba saya lupa sama sekali siapa gerangan muallifnya.
"Eh....itu Yai...eh...muridnya Kyai Turaichan Kudus" jawabku gaguk.
"Yai Turaichan?" Sepertinya nama itu asing bagi Yai Buchin.
"Injih"
Ternyata Yai masih ingat denganku. Di antara puluhan ribu santrinya, dikenal Yai merupakan salah satu kebanggaan tersendiri. Semoga di alam nyata Yai Buchin juga mengenalku.
Entah karena apa, saya ingin berfoto dengan mereka. Setelah berfoto Gus Huda meminjam hpku dan melihat foto-foto yang ada di hape. Saya ragu jangan-jangan ada foto cewek di dalamnya dan beliau tak suka. Dalam kekhawatiranku, Gus Huda meihat-lihat foto-foto di hapeku yang sebagian besar adalah kegiatan diskusi baik di HMI, CDIS atau Ikajatim. Tak ada foto cewek disana, saya lega.
"Gus Huda pantas untuk mengasuh pondok ini setelahku". Lanjut Yai Buchin. Saya tak tahu apa sebab Yai mengatakannya.
Setelah itu kurasakan antara sadar dan masih dalam mimpi. Sebelum terbangun masih kuingat dengan jelas perkataan Kiai Masbuchin. "Yang penting itu mendapat RIDHO ALLAH"
Saya terbangun. Kalimat akhir itu. mudah diucapkan namun sulit dilakukan. Aku akan berusaha Yai. Insya Allah. Doakan santrimu yang liar ini.

No comments:

Post a Comment