Tuesday, March 29, 2011

SABTU, 26 MARET 2011

Ternyata saya bisa kenyang wacana hingga ingin muntah. Namun syukur Alhamdulillah tidak sampai merasa kenyang dengan bacaan. Tiga hari berturut-turut diskusi tentang UU KDRT, Sosiologi Hukum dan Politik menyebabkan saya memantapkan diri berpaling ke sastra. Tapi saya yakin tak selamanya saya membaca sastra. Saya masih ingin memperdalam filSafat sekalipun sudah dibuatnya frustasi.

Sebetulnya sejak Kamis kemarin saya dipusingkan oleh buku-buku baru. Terutama Tahafut at Tahafut dan Tahafutul Falasifah yang terkenal itu. Tentang ghozwul fikri antara Imam Ghozali dan Ibnu Rusyd. Sedikitpun saya belum bisa mengerti apa maksud kedua pemikir besar itu. Yang saya ingat hanya kedua ulama itu telah terjebak dalam sarkasme mutual.
Sudah kedua kalinya saya dibuat putus asa mendalami filsafat. Pertama dulu waktu membaca pengantar filsafat Louis Katsoff. Setelah lama membacanya dan tak faham-faham juga, akhirnya saya merasakan kelelahan intelektual dan tak lagi mau membaca.
Saya tak mau mengulangi kesalahan yang sama. Berpisah dengan buku. Saya yakin sastra bisa membantuku mencegah putus hubungan dengan buku. Dan ternyata benar. Novel Dwilogi Padang Bulan telah mengembalikanku sebagai manusia yang sebenarnya. Makhluk yang suka terhadap karya sastra yang mengandung seni yang tinggi. Dulu pernah saya jauh dengan buku dan mencoba mendekatinya lagi dengan buku tasawuf. Hasilnya nihil.
Saya juga merasa bosan dengan film. Sekalipun saya merasa ada banyak hal yang bisa dipelajari dalam film. Entah apa sebabnya.

No comments:

Post a Comment