Thursday, February 3, 2011

SELASA, 25 JANUARI 2011

Ada tiga hal yang bisa menjadikan orang dinilai ‘hebat’. Pertama karena karyanya, kedua perbuatannya dan terakhir sebab kedua-duanya. Yang saya maksud dengan karya di sini sangat luas. Bisa karya tulis, karya lukis, karya yang menghaslkan film dan lain-lain. Contoh orang hebat karena karyanya adalah Hujjatul Islam, Imam Ghozali, Andrea Hirata, JK Rowling, James Cameroon, Ebiet G Ade dan masih banyak yang lainnya.
Sedangkan yang dimaksud dengan hebat karena perbuatan bisa berbentuk dakwah, tingkah laku, gerakannya dan lainnya. Contohnya seperti Muhammad saw, Imam Ahmad Muhajir, salah satu ulama aswaja seperiode dengan Imam Ghozali yang lebih berkonsentrasi pada dakwah dan akhirnya ajarannya diterima oleh mayoritas umat islam di Indonesia melalui Walisongo, Muhammad Ali Pasya, salah satu pemimpin Turki yang tak bisa baca, Che Guevara, Nelson Mandela, Pele, Maradona, para pejuang dan masih banyak lainnya.
Yang termasuk hebat karena kedua-duanya banyak sekali. Gus Dur, Gus Musthofa Bisri, Soe Hok Gie, Muhammad Abduh, Mahatma Ghandi dan sebagainya.
Mereka adalah orang-orang hebat. diakui oleh orang banyak sampai pada generasi sekarang. Generasi masa kini bisa menjadi generasi hebat bagi orang-orang di masa depan tergantung apa yang dilakukannya sekarang.
Semua orang bisa dikatakan sebagai orang hebat, namun orang hebat yang terbatas. Bisa terbatas di sebuah desa, wilayah., negara atau bisa juga hebat di seluruh dunia. Itu pun tak bisa diakui oleh seluruh penduduk dunia. sehebat apapun nabi Muhammad, pasti masih juga ada orang yang tak suka dengannya. Bahkan sebagian orang menggambarnya denga kartun yang sangat menghina. Kesimpulannya tak ada manusia yang hebat secara mutlak karena kehebatan mutlak hanya milik Tuhan. Namun manusia sebagai pemegang mahkota ahsani taqwim tak sepatutnya putus asa. Dia harus berusaha menjadi orang hebat, paling tidak hebat menurut orang tuanya atau orang dekatnya.
Dan orang hebat boleh salah tapi tak boleh bohong. Adagium ini mungkin jarang dimiliki para politisi negara ini. Akibatnya ujungnya adalah ketidakpercayaan terhadap pilar-pilar negara Seperti pemerintah, aparat penegak hukum dan Satgas Pemberantas Mafia Peradilan. Kondisi seperti ini sangat membahayakan keutuhan Indonesia. Yang menjadi kekhawatiran saya adalah orang oang islam garis keras yang akan memanfaatkan kondisi ini dengan mengkampanyekan lagi isu negara islam. seperti yang dilakukan oleh HTI beberapa hari yang lalu di sejumlah kota di Indonesia.
keutuhan nkri harus dijaga bersama agar ngra ini tak runtuh. ta hanya pemerintah saj yang bertanggung jawab atas kondisi bangsa ini, masyarakat juga harus bersama mendukung pemerintah dan yang didukung hrus bisa mengemban amanat dengan sebaik baiknya.

No comments:

Post a Comment