
Karena kemarin saya tak sedetik pun bisa bertemu dengan Ayin, saya berusaha untuk menemuinya hari ini atau kalau tidak bisa cukup dengan sekedar menatap senyumnya yang indah.
Agenda pengabdian CSS MORA hari ini banyak dilaksanakan di lokasi masing-masing sehingga Ayin dan semua mahasiswa angkatan 2009 dan 2010 melakukan kegiatannya di Gilimanuk. Untuk hari ini saya kosong tak ada kegiatan pengabdian. Sejak pagi saya pergi ke pantai terdekat pondok Nurul Ikhlas dengan Adon, Ikhwan, Alvian, Purwanto dan Chusnul Huda. Lokasinya cukup jauh.
Di jalan sering kali terlihat anjing bermain. Saya agak takut kalau anjing itu mengejar. Tapi atas usul teman untuk tenang jika ada anjing, maka saya tak takut lagi.
Saya juga sesekali melihat 'musholla' nya pemeluk agama Hindu di depan rumah penduduk. Sepertinya masih banyak orang islam dari pada hindu di daerah yang saya lewati.
Setelah sekitar setengah jam, pantai dengan pasir hitam terlihat di depan saya. Ombaknya kecil dan tenang. Saya langsung putuskan untuk langsung mandi di laut. sudah sejak kemarin sore saya belum mandi. Dari kejauhan terlihat para nelayan sedang mengumpulkan hasil tangkapannya di dekat sebuah perahu. Saya mednekatinya dan ternyta ikan yang mereka dapat sedikit. Tak sampai seperempat wadah yang mereka bawa. Tampaknya mereka hanya mendapatkan ikan-ikan kecil dan beberapa ikan ukuran sedang dengan bentuk yang bermacam-macam. Ada yang gepeng, panjang seperti ular dan ikan yang bentuknya sama dengan ikan wader kali. Saya lanjutkan bercengkerama dengan air laut. saya tak berani ke tengah. Bagaimanapun juga aura pantai selatan yang mistis tak bisa dibuat main-main.
Pada malam hari saya berpikir tak perlu memaksakan diri untuk bisa cinta pada seorang wanita. Biarkan saja tumbuh dengan sendirinya. Mengapa saya harus pura-pura mencintai Ayin atau wanita manapun. Bukankah saya sudah merasakan cinta yang luar biasa tanpa seorang wanita. Cinta itu terus membelai indah diri ini tanpa harus menyesali kesalahan dan kekuranganku. Cinta itu ada pada mata saat memandang. Ada pada hidung saat bernafas. Ada pada telinga saat mendengar dan ada pada semua yang ada pada diriku. Mataku tiap hari bercinta dengan pandangannya. hidungku bercinta dengan udara yang keluar masuk dalam tubuh, telingaku bercinta dengan apa yang didengar, kakiku bisa bercinta dengan langkah, dan cintaku bercinta dengan cinta itu sendiri.
Saya harus bisa memahami apapun tanpa harus menunggu hati ini mengungkapkan kata-kata indah maupun kata-kata mencela. Segala yang saya jalani hari ini hanyalah sebuah kebohongan. kehidupan semu anak manusia yang tak tahu diri. Apa yang saya bicarakan pada lawan bicara bukanlah cermin dari diri saya sendiri, bukan pula gambaran dari manusia yang ahsani taqwim. Astaghfirullah, Ampuni saya Tuhanku, Penciptaku yang Agung. Saya disini merengkuh dalam kemunafikan yang sulit dilepas. Maafkanlah saya tuhan...
Maksudmu mengatakan kehidupan ini hanyalah permainan memang benar. hanya saja saya belum bisa merasakan permainan itu secara hakiki.
Monday, February 28, 2011
SELASA 8 FEBRUARI 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment