Tuesday, February 22, 2011

SELASA, 22 FEBRUARI 2011


Sudah saatnya saya menulis tentang aktifitas santri Darun Najah Semarang. Saya masuk pesantren ini karena 'dipaksa' oleh sebuah sistem yang menguntungkanku. Keuntungan itu berupa beasiswa santri berprestasi. Bagi penerima program beasiswa di IAIN Walisongo Semarang harus bertepat di Darun Najah.
Pada mulanya saya bisa menikmati pesantren ini karena kamarnya lebih baik dari pada pondokku dulu. Saya masih ingat betapa saya sangat patuh pada aturan Darun Najah dan pengasuhnya. Terkadang dengan kepatuhan itu penampilan saya terlihat seperti orang dungu. Saya tak pernah absen jamaah, ngaji dan kegiatan pondok lainnya. Saya sadar kegiatan kuliah dan di pondok tak sepadat waktu di Mambaus Sholihin. Tiap pulang kuliah saya istirahat di pondok.
Seiring berjalannya waktu, Saya merasa ada yang kurang dengan aktifitasku sebagai mahasiswa. Akhirnya saya mencari sesuatu di luar dua aktifitas pondok dan menyebabkan waktu di pondok berkurang.
Sampai sekarang saya masih bertepat di Darun Najah. Sudah lebih dari dua tahun. Peraturan di sini tak seketat pondokku dahulu maka saya mudah untuk melanggar peraturan seperti tak tidur di pondok atau tak ikut ngaji. Saya malas mengikuti kegiatan dan lebih suka dengan kegiatan pribadi seperti membaca buku, nonton film, dengar musik dan lainnya. Saya bisa membaca buku banyak di sini. Sering juga saya bercanda dengan teman-teman sekamar. Penghuni kamar Jabal Nar mayoritas orang Jawa Timur. Selainnya dari Jawa Tengah, Jawa Barat, Yogya, Aceh, Kalimantan dan Medan. Kami bisa hidup harmonis seperti saudara. kami tak pernah berseteru di kamar. Seringnya kami guyonan yang menggelegar. kamar kami dikenal dengan sebutan Jabal Nar. Plesetan dari nama asli Jabal Nur. Nama gunung bersejarah pada zaman Muhammad.
Kamar paling seru adalah Jabal Nar. Saking serunya pengurus sering kali dipusingkan oleh ulah-ulah penghuninya. Pengurus yang berani mentang-mentang akan 'dibabat' dan tak akan berani mengulangi lagi. Beberapa kali pengurus beradu mulut dan berkelahi dengan salah satu dari kami. Bahkan ketua pengurus pondok sekalipun ditantang. luar biasa.
di pondok Darun Najah tak hanya diisi oleh mahasiwa falak. Ada beberapa mahasiswa reguler di sini. Mereka seusia dengan mahasiwa falak. Namun saya lihat mereka sering kali sok dan belagu saat nyuruh kegiatan. Saya paling tak suka disuruh-suruh ikut kegiatan.
Dengan keberadaan mahasiswa reguler, Saya merasakan adanya penekanan kreatifitas. Seandainya mahasiswa falak ditempatkan sendiri saya yakin kegiatan bisa dikendalikan dan diatur seektifts mungkin. bukan seperti ini, dimana kami sering diatur atur dan dipaksa untuk melakukan kegiatan.

No comments:

Post a Comment