Thursday, February 3, 2011

SABTU, 29 JANUARI 2011


Hari ini saya diajak Kulub ke Suci untuk menemaninya mengambil ijazah Aliyah. Katanya dia ingin melanjutkan kuliah. Entah mau kuliah dimana. Setelah sedikit dibingunkan oleh birokrasi madrasah, akhirnya Kulub belum bisa mendapatkan ijazahnya karena harus melunasi SPP, SP3 dan biaya administrasi lainnya yang jumlahnya lebih dari sembilan ratus ribu.
Saya bertemu dengan teman-teman lama seperti Malik, Yunan, Afif, Yaul, dan kawan-kawan redaksi Alfikrah. Saya juga lama singgah di kantor alfikrah. Di sana saya bertemu Hakim, adik kelas yang kata sebagian orang wajahnya mirip dengan saya. Dia cukup brilian. Bisa diajak diskusi dan tukar pikiran tentang Gus Dur, Soe Hok Gie, dan banyak lainnya. Dari perbincangan selama kurang lebih sejam, sepertinya kami agak berseberangan. Dia cenderung ke kanan dan katanya, saya cenderung berpikir kiri. saya kurang tahu.
Dia pengagum Yusuf Qordhowi, salah seorang pemikir Ikhwanul Muslimin Mesir. Saya pernah menikmati tulian tulisan Yusuf Qordlowi pada tahun 2009. Yang saya tahu terkadang dia berpikir moderat namun kadang radikal juga. Perbincangan tadi sedikit mengobati kediaman saya selama beberapa hari ini.
Saya melihat aktifitas dan mental santri masih sama seperti saya berada di sini. Bangunan fisik pesantren Mambaus Sholihin yang semakin besar tak diimbangi bangunan mental dan intelektual santri. Dari kegagalan pembangunan intelektual dan mental itu akhirnya santri masih tetap. belum ada yang bisa berani mengubah atau memperbaiki sistem managerial. Akankah nanti ketika saat pengabdian saya di sini akan mengubah sistem ini atu saya malah ikut arus? tergantung mental. Akankah saya berani melawan dan dianggap sebagai orang sok tahu?

No comments:

Post a Comment