Monday, February 14, 2011

SABTU, 5 FEBRUARI 2011



Surabaya. Ibukota Jawa Timur yang penduduknya tidak bersahabat membuat saya menyebutnya sebagai kota ‘menakutkan’. Bukan karena perseteruan antara Bonex dan LA Mania saya menyebut demikian. Namun setelah mengunjungi Surabaya beberapa kali, saya merasakan ada jurang pemisah yang dalam antara si miskin dan si kaya seperti halnya Jakarta. Banyak gedung-gedung megah dibangun berdekatan dengan kawasan kumuh. Bahkan terkadang rumah penduduk yang ‘mengenaskan’ itu digusur untuk membangun gedung-gedung angkuh kaum elit.
Melihat banyak penduduk Surabaya yang terpinggirkan membuat hati saya miris dan takut. Miris karena kasihan pada nasib mereka dan takut sebab mereka jarang menampakkan wajah ceria dan sumringah. Cara bicaranya yang kasar juga membuat saya kikuk saat terpaksa berdialog salah dari mereka. Tapi saya yakin tak semua penduduk Surabaya bersifat demikian. Banyak teman-teman sepondok dulu berperilaku baik dan santun seperti Abdullah Ala, Syaifuddin Zuhri.
Baru kali ini saya ke Surabaya naik Kereta Api. Selain tak jauh dari stasiun Gembong, rumah saya juga dekat dengan stasiun Pucuk. Tadi saya naik kereta dari Pucuk. Saat menunggu angkot untuk ke Pucuk saya bertemu Zani dan Arif dengan Mega pronya. Kebetulan mereka akan pergi ke tempat yang se arah dengan saya. Untuk menghemat biaya, saya ikut naik sepeda motornya.
Di kereta KRD menuju Surabaya banyak ibu-ibu pedagang asongan. Setelah saya amati, kebanyakan pedagang-pedagang asongan itu tubuhnya gemuk meski sudah terlihat agak tua. Tiap hari tubuh gemuk mereka basah oleh peluh keringat demi menyambung nyawa dengan jajanan yang dijualnya. Kelihatannya apa yang mereka jual, baik makanan, minuman, tisu dan sebagainya tak terlalu laku.
Nasib kurang beruntung, saya harus berdiri dengan penumpang lain dalam kereta ekonomi. Para penumpang ini adalah orang-orang yang membiayai kuliahku. Beasiswa yang saya dapat secara tak langsung berasal dari pajak yang mereka bayar. Total biaya kuliah dari awal sampai lulus kira-kira menghabiskan lima puluh juta rupiah. Para penumpang ini membayar pajak pada negara dan negara membayar saya kuliah. Jadi para penumpang ini sudah membayar dan berkorban untukku. Kali ini saya harus bisa berkorban demi tidak mendapatkan tempat duduk dalam kereta. Pengorbanan ini tak sebesar pengorbanan penumpang-penumpang ini.
Sesampai di perbatasan Gresik Surabaya saya sudah mendapatkan tempat duduk. Cukup melelahkan berdiri dalam kereta lebih dari satu jam. Stasiun yang menjadi tujuanku adalah Pasar Turi yang belum pernah saya kunjungi sebelumnnya.
Beberapa menit setelah dapat tempat duduk, kereta sudah sampai di pasar Turi. Jam sudah menunjukkan setengah empat. Saya langsung mencari Musholla untuk sholat Ashar. Penjaga Musholla di sana ramah dan menyenangkan. Sehingga saya tak ragu-ragu memasukkan uang dalam kotak amal.
Icha menjemput saya di Pasar Turi. Namun saya dan Icha sempat kebingungan dan saling mencari. Setelah berunding dalam telpon akhirnya kami menemukan jalan keluar dan bisa bertemu juga di depan Pusat Grosis Surabaya.
Saya diboncengnya di jalanan Surabaya yang ramai. Saya masih grogi membonceng cewek. Dari pada celaka lebih baik saya menahan malu. Nyali untuk bersepeda dalam diri saya masih ciut.
Pada malam hari saya menyempatkan melihat-lihat suasana malam Minggu di Galaxy Mall dengan Bida. Budaya hedonis di Mall yang membuqt saya tersenyum sinis dan berpikir macam-macam tentang orang-orang Tiong hoa. Mereka menghabiskan uang dengan pacar, teman dan keluarga dengan hiburan-hiburan di sana. Harga tiket bioskop saja bisa dipakai orang-orang pribumi untuk biaya hidup selama seminggu. Kaum elit China dengan mudah menghabiskan uang di sana padahal masyarakat pribumi sukit sekali mencarinya. Mereka seolah memiliki negara dalam sebuah negara. Mereka tak bisa merasakan penderitaan orang-orang Indonesia yang miskin dan sulit cari uang untuk makan. Apakah agama yang mereka anut tak mengajari unuk berbagi dengan sesama?
Kehidupan malam minggu Surabaya yang memuakkan membuat saya ingin cepat-cepat ke rumah kontrakan yang saya jadikan penginapan semalam sebelum berangkat ke Bali besok. Rumah kontrakan yang saya tempati berada di perumahan Plaza Marina. Kamar yang saya tempati sangat kondusif untuk beraktifitas apapun terutama belajar. Maklum biaya kontrakannya senilai Empat Puluh juta setahun.
Saya bisa melepaskan penat dalam kasur empuk kamar sambil mendengar radio dan musik. Tiba-tiba Anis mengirim pesan singkat yang cukup memukul diriku. Secara tak langsung dia mengingatkan saya tentang keinginanku untuk belajar qiroah sab’ah. Saya benar-benar tolol. Kenapa niat yang sangat luhur itu hilang begitu saja dari ingatan saya. Seandainya setahun yang lalu saya benar-benar belajar, mungkin sekarang saya bisa mengusai beberapa ilmu qiroah sab’ah.

No comments:

Post a Comment