
Kenapa hasil belajar harus dinilai dengan angka atau huruf? setelah tahu beberapa nilai semester 5 ini saya bertanya-tanya pada diri saya sendiri. Saya belajar selama ini. dari TK, SD, MTS, MA dan perguran tinggi selau saja menerima raport hasil belajar yang dinilai dengan angka.
Hari ini sejumlah mata kuliah semester lima sudah keluar nilainya. Yang tidak memuaskan dari nilai yang tadi saya dapat adalah mata kuliah Tasawuf. Dengan kode huruf C alias cukup. Padahal saya sudah mngkhatamkan buku-buku tasawuf. Dari ringkasan Ihya Ulumuddin, terjemah al Hikam. tentang Rabiah Adawiyah, sejarah tasawuf dalam buku membedah islam di barat dan lainnya. Buku-buku yang saya baca ternyata dinilai cukup oleh dosen Tasawuf.
Model penilaian dengan angka yang sudah menjangkit pendidikan di Indonesia sudah terlalu parah. Saya teringat raport SD saya. Pelajaran-pelajaran seperti Matematika, PPKN, IPA, IPS dan lain sebagainya dinilai dengan angka setelah belajar beberapa bulan dan ujian cawu (catur wulan). Untuk masalah akhlak, wali kelas tak ambil pusing. Selalu saja penilaian akhlak selalu dibubuhi kata ‘baik’ dengan simbol b tanpa memperhatikan secara intensif. Malah raport adikku yang masih TK diberi nilai berupa kalimat panjang hingga berbentuk paragraf. Masalah ilmu hitung, bahasa, agama dan pelajaran lainnya dinilai dengan kalimat panjang terkadang sulit dibaca karena menggunakan tulisan tangan. betapa telatennya guru TK dalam menilai. Tak hanya dengan angka atau simbol huruf.
Sudahlah, saya tak terlalu memusingkan angka. Masalah cabe lebih penting dari anga. Bukannya karena saya maniak pedas dan akhir-akhir ini cabe mahal. Namun import cabe yang meresahkan pedagang dan para petani cabe tentunya perlu ditindak dengan bijak. Mahalnya cabe lokal menjadikan cabe impor yang lebih murah menjdi serbuan konsumen. Kalau masalah ini tak dikendalikan denga baik, saya yakin para petani cabe di Indonesia akan bangkrut. Ini adalah salah satu bukti system ekonomi neoliberal. Sungguh kasihan petani. bapak saya juga petani.kasihan
Jam setengah sebelas malam ada ftv dengan judul Cinta Dua dunia. Dari cuplikannya di sela-sela iklan, saya yakin film itu jiplakan dari film Thailand berjudul Superstar. Tak kreatif juga film di Indonesia. Sepertinya kebanyakan FTV adalah plagiat dari film-film luar tapi saya yang tak tahu. Dulu ada sejumlah sinetron yang ketahuan bajak film drama Asia.
Artalita Suryani alias Ayin ‘Sang Ratu’ Suap dijadwalkan bebas bersyarat tahun ini. Dari sudut pandang manapun saya tak setuju sama sekali. Kasus-kasusnya, baik suap maupun penjaranya dengan fasilitas yang jauh lebih hebat dari rumah saya belum bisa dimaafkan dengan hanya hukuman penjara selama dua tahun ini. Dari informasi yang saya dapat dia sudah dapat surat resmi terkait kebebasaanya dari Patrialis Akbar Menteri Hukum dan Ham. Aneh bukan? orang PKS sepertinya bisa dengan mudah memberikan SK.
Ketika diwawancarai melalui telpon oleh Tina Talisha, reporter TV one, Patrialis merasa difitnah atas adanya surat itu dan dia juga menolak diundang dalam salah satu dialog di Apa Kabar Indonesia Malam. Katanya mau menghadiri acara peresmian. Malang sekali pejabat-pejabat Indonesia. Mereka sering sibuk dalam acara-acara peresmian dan undangan-undangan tak penting. Mungkin untuk pendapatan tambahan. Ironis bukan?
hari ini timur tengah sedang panas.setelah tunisia berhasil menggulingkan presiden ben ali, mesir juga berupya melengserkan husni mubarak. dan tanpa terpikir di benak saya, yaman, negara yang jadi negara favorit kyai saya karena hadramaut, juga melakukan demonstrasi untuk mengglingkan presidennya.ada apa gerangan dengan negara negara itu.
Thursday, February 3, 2011
KAMIS, 27 JANUARI 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment