Birokrasi IAIN Walisongo masih ribet. Mahasiswa dipersulit dengan beberapa aturannya. seperti registrasi yang tidak bisa dilakukan secara online dan pendaftaran mata kuliah yang hanya bisa dilakukan intranet bukan internet. Bagi mahasiswa yang rumahnya jauh dari Semarang seperti saya, kebijakan demikian bisa mempersulit proses daftar ulang. Akibatnya mahasiswa yang tak mau repot lebih memilih untuk menitip pendaftaran kepada teman dekatnya seperti yang dilakukan Alvian, Harir, Adon, Sadam dan mahasiswa lainnya. Orang yang dititipi akan bertambah lagi tugasnya seperti saya. Untungnya saya bisa minta bantuan Hanif untuk mngurusi segala macam keperluan registrasi milik Harir. Sedangkan milik Alvian saya titipkan Maruf meski akhirnya dibawa Dayat. Karena dayat agak teledor akhirnya titipan Alvian dan Rifki sampai sekarang masih terbengkalai padahal hari ini adalah hari terakhir pendaftaran. Kata Dayat dalam situs resmi IAIN ditulis bahwa pendaftaran terakhir adalah besok bukan sekarang, Maka sebenarnya dia mau mendaftar mata kuliah besok. tapi jadwal di fakultas hari inilah hari terakhir. Meskipun terlambat, Dayat masih berdalih menyalahkan birokrasi IAIN yang masih ‘primitif’.
Sudah tiga kali Dayat terlambat mengurus KST. Katanya dengan keterlambatan itu akhirnya dia bisa dikenal bu Soimah Kabag Akademik fakultas Syariah.
Sekarang malam Jumat. Orang NU punya tradisi tahlilan dan diba'an. Namun saya malah jalan-jalan ke bandara mencari suasana bersama si Dayat yang aneh. saya merasa sumpek di Darun Najah. Apalagi setelah Isya ada kumpulan santri dan pengurus. Sudah lama saya tak suka dengan perilaku pengurus yang tak kreatif. Aturan yang dibuat kelihatan sekali menganggap santri seperti bukan mahasiwa. Contohnya seperti pengadaan Diniyah dimana kitab yang dipelajari adalah kitab-kitab dasar. seperti Jurumiyah, tajwid dan Kailani. Saya sudah mempelajarinya sewaktu kelas satu Aliyah. bahkan saat SD sudah menerima tajwid. Seandainya boleh mengusulkan ide. saya lebih setuju jika kegiatan diniyah diganti seperti diskusi di CDIS. Pengadaan screening terlebih dahulu untuk mengkategorikan santri pada wacana tertentu.
Tiap santri pasti punya keebihan dalam kajian tertentu, entah filsafat, hukum, atau lainnya. pengurus harus membuat silabi yang akan dibahas selama setahun dengan rincian tiap santri punya tugas masing-masing untuk memperdalam satu bab. Kalau memungkinkan santri diharuskan membuat artikel terkait bab masing-masing. Artikel itu pada akhir tahun dikumpulkan dan dibukukan. Jika bisa demikian santri bisa berkembang wacananya. Saya yakin model semacam inilah yang pantas untuk mahasiswa.
Saya melihat ada potensi besar untuk santri Darun Najah seandainya pengurusnya bisa berkomunikasi dengan baik dan berani membuat terobosan baru. Bukan hanya melanjutkan tradisi usang yang sudah ditinggalkan santri.
Saturday, February 26, 2011
KAMIS, 24 FEBRUARI 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment