Kampus B Unair terletak di Gubeng Surabaya. Mungkin kampus ini yang dibilang Rofi dan Tutus dekat dengan rumahnya. Bukan kampus C yang saya anggap selama ini. Saya sampai di kampus B Unair sekitar pukul sebelas Siang setelah diantar Icha dari rumah kontrakan Ikhwan di Perumahan Plaza Marina.
Sesampai di Unair saya berjalan ke depan gedung Magister Manajemen (MM). Kelihatannya masih sepi. Baru satu bus yang sudah parkir di sana. Bus itu nanti akan mengantarkan saya ke Bali. Setelah mengambil foto gedung MM saya ke masjid sambil menunggu Iqbal dan rombongan mahasiswa CSS MoRA Unair. Di masjid saya mencoba menghubungi Ayin, berharap bisa bercakap-cakap dan bercanda dengannya. Setelah saling kirim pesan singkat dengannya ternyata keinginan saya tak tercapai. Saya hanya bisa melihat wajahnya yang alami dihiasi senyumnya yang indah. Cukup membuat saya lega. Karena memang ini saya tunggu setelah lima tahun tak melihatnya secara langsung. Sepertinya dia juga sudah putus dengan Sidik pacarnya.
Sekitar Jam satu siang, bus berangkat. Saat itu juga saya dapat kabar kalau teman-teman Semarang baru sampai daerah Solo setelah terjebak macet di Banyumanik.
Perjalanan bersama mahasiswa Unair berbeda dengan perjalanan dengan teman-teman CSS MoRA IAIN Walisongo. Suasana bus lebih tenang tanpa ada yang guyon, teriak atau berjoget. Saya duduk di samping Saipul, mahasiswa CSS MoRA UIN Syarif Hidayatullah yang sudah lulus. Sesuai perjanjian dia sekarang mengabdi di pesantren asalnya di al-Amin Madura. Saya mendapat informasi darinya kalau sudah pengabdian Depag tak lagi memberikan uang living cos. Mengetahui hal itu saya merasa harus mengubah langkah untuk mengarungi kehidupan saya ke depan. Entah langkah seperti apa itu.
Usul Saipul, lebih baik melegalisir banyak fotocopy ijazah sebelum ijazah dikumpulkan ke pihak Depag selama tiga tahun agar bisa mendaftar pekerjaan atau mendaftar kuliah lagi. Katanya, model pengabdian tiap-tiap pesantren berbeda-beda tergantung keinginan pengasuh. Kalau demikian, kemungkinan saya nanti harus pengabdian selama Dua Puluh Empat jam di pondok.
Pukul 23:36 saya menginjakkan kaki di Bali. Sewaktu di kapal, saya bertemu dengan mahasiswa CSS MoRA IAIN Sunan Ampel. Di sana saya bertemu Syafa dan Fakihah alumni Mts Mambaus Sholihin yang masih tergolong himpunan alumni mambaus Sholihin (HAMAM).
Saya melihat ada beberapa mahasiswi IAIN yang berani memakai celana Jeans. Cukup mengherankan sebab mahasiswi Unair dimana kampusnya sekuler, tak ada satupun dari mereka yang memakai celana jeans. Meskipun dosen perempuan Unair yang ikut ke Bali memakai Jeans.
Air laut di pelabuhan Gilimanuk jernih. Saya bisa melihat banyak ikan-ikan nampak di sekitar pelabuhan. Meskipun sudah larut malam masih ada yang masih memancing di sana. Bahkan beberapa remaja berani melawan dinginnya air laut di malam hari. Saya senang melihat ikan-ikan disana dan ingin ikut memancing.
Monday, February 28, 2011
MINGGU, 6 FEBRUAI 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment