

Akhirnya mahasiswa CSS MORA penerima beasiswa program santri berprestasi kementerian agama selesai berfoya-foya yang sesungguhnya di Tanjung Benoa Nusa Dua, Pantai Kuta dan Pusat oleh-oleh Dewata. Saya juga ikut menikmati agenda penghambur-hamburan uang negara itu. Berenang bersama turis di pantai Kuta.
Saat di Tanjung Benoa saya tak berenang dan tak juga berlayar ke pulau Penyu, seperti yang dilakukan berapa rekan-rekan. Saya cukup dengan berjalan menyusuri pantai dan melihat turis yang memenuhi tempat wisata tersebut. Ada turis Eropa, China, Turis asia dan sebagainya. Karena kelelahan di jalan, saya memutuskan duduk di salah satu tempat berteduh bersama Dayat dan Ade. Atas kesepakatan kita bertiga, kita patungan membeli Sprite. Saya lupa sudah berapa lama saya tak meneguk minuman berkarbonasi yang kata orang tua saya dulu sewaktu masih kecil Sprite adalah minuman terfavoritku. Kalau tak dipenuhi keinginan untuk minum Sprite maka saya marah sejadi-jadinya. Di tempat itu saya sempat kaget karena harga spritenya 20 ribu. Jika dipikir-pikir harganya bisa buat beli nasi selama dua hari. Harga sebesar itu mungkin murah buat turis mancanegara, namun bagi wisatawan domestik miskin seperti saya harga itu cukup menguras saku. sebelumnya saya sudah berniat menyisakan 30 ribu untuk membelikan kitab Tanwirul Qulub untuk Pipin adikku. Sekarang sepertinya uang saya tak sampai 30 ribu. Meskipun demikian, niat saya sudah bulat saya akan berusaha untuk membelikan kitab adikku yang sekarang berjuang di pondoknya.
Di kuta, saya sukses berbincang-bincang dengan turis asal Swiss dan Kanada dalam rentang waktu yang berbeda. Baru pertama kali saya bicara langsung dengan orang barat. Alhamdulillah.
Saya akui keindahan pantai dan suasana Kuta memang luar biasa. Sehingga saya bisa bercinta dengan ombak dan pasir putih yang lembut di sana. Tak salah jika pada tahun 2010, Kuta menjadi obyek wisata yang dikunjungi wisatawan terbanyak di dunia. Rata-rata wisatawan asing mengunjungi bali tiap harinya pada tahun 2010 mencapai sembilan ribu orang per hari.
Tak terasa saya bermain air di kuta selama sejam lebih. tak terasa capeknya karena rasa senang. Saya di sana tak memakai sandal setelah sandal yang saya pinjam dari Adon terinjak kaki Manan.
Setelah waktu menunjukkan hampir jam empat sore WITA, saya kembali menunggu angkot yang menuju ke parkir pusat Kuta. Cukup lama menunggu, angkot tak datang juga. Akhirnya saya yang awalnya naik bus 1 rombongan CSS Semarang terpaksa harus ikut bus 2 karena datang terlambat ke parkir.
Sudah saya duga sebelumnya bahwa kondisi bus 2 pasti sangat rame. Saya tahu bagaimana karakter teman-teman seangkatan saya yang lebih seru dari pada mahasiswa angkatan 2007. Apalagi ditambah dengan pemandu wisata bus 2 yang kocak. Dia sering meluncurkan guyonan dewasa yang mengocok perut seisi bis. Dibandingkan dengan pemandu wisata bus 1, pemandu ini sepertinya lebih berpengalaman. Meskipun demikian saya lebih banyak tahu tentang Bali dari pemandu wisata bis 1. Tentang panggilan ‘bli’ yang setara dengan ‘mas’, tentang daerah Luna Maya, lokasi syuting Ftv dan lainnya yang saya tanyakan pada pemandu wisata bis 1.
Ketika kami menuju tanah Lot, Pengurus CSS nasional mengalami kebingungan yang berujung pada miskomunikasi. Akibatnya, rombongan css zona timur pulang terlebih dahulu. Agenda berkumpul nasional mahasiswa CSS di Tanah Lot gagal. Padahal karcis masuk sudah dibeli seharga lima belas ribu per orang. Atau tiga puluh juta untuk dua ribu mahasiswa. Saya kurang tahu bagaimana akhirnya dengan uang tiga puluh juta itu. Apakah dikembalikan atau hangus begitu saja karena kami tak jadi masuk ke lokasi Tanah Lot.
Sejak dulu saya sudah penasaran dengan tanah Lot. Saya tahu tanah Lot dari gambar yang ada di buku agenda Mbak Erna. Tapi tak apalah tak jadi kesana. Sepertinya ada obat yang bisa mengusir kekecewaan itu. Ketika saya kembali naik bis 1, saya duduk sendiri. Teman-teman memutar music dari flasdisk. Ada beberapa lagu yang easy listening. Beberapa teman bergantian bernyanyi. Saya menyanyikan lagu Tak Kan Tergantinya kahitna yang dinyanyikan Marcell.
Beberapa waktu kemudian Latifah, salah satu mahasiswa angkatan 2007 asal Kalimantan ikut nyanyi. Saya tahu suaranya yang tak kalah dengan Citra Idol. Saya persilahkan dia duduk di samping saya. Setelah bernyanyi dia cerita banyak tentang dirinya. Saya juga tak malu mengungkapkan kekaguman saya pada wanita yang bersuara indah seperti Shreya Ghosal dan dia. Dia bercerita banyak sekali dan saya lebih suka mendengar. Nyaman sekali bisa di sampingnya dan bicara dengannya. Seperti kita sudah kenal sangat lama meski seingat saya baru pertama kali kami berdua telibat pembicaraan langsung. Dan akhirnya Latifah lah yang mengusir kekecewaan karena gagal ke Tanah Lot
Monday, February 14, 2011
KAMIS, 10 FEBRUARI 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment