Monday, February 14, 2011

RABU, 9 FEBRUARI 2011


Saya sangat setuju pada adagium bahwa waktu menulis terbaik adalah saat hati sedang gundah. Apalagi untuk orang seperti diriku. manusia tak jelas. Saya merasakan perasaan aneh sekali. Sebuah kegilaan di saat kondisi diri normal. Kegilaan itu ada saat saya berada dalam kerumunan mahasiswa CSS MORA. Saat berjalan sendiri di sela keramaian orang orang yang asyik engan aktifitas sendiri. kenapa hal ini tak terjadi pada saat saya berada di acara Kongres HMI November lalu. Saat itu saya bisa merasakan kondisi diri yang normal tanpa keanehan dan kegilaan serta ketidakjelasan.
Pengabdian berupa pelatihan pengukuran arah kiblat di desa Banyubiru, Negara Jembrana tadi siang cukup memuaskan. Antusias peserta cukup baik meski dipenuhi oleh bapak-bapak yang sudah uzdur. Mereka sulit sekali diarahkan. mungkin karena angka-angka di kalkulator yang membingungkan, atau sebab usianya yang sudah tua dan mungkin penglihatan yang tak baik lagi.
Akhir-akhir ini saya jarang baca buku. Gara-gara ponselku tak sengaja terformat semua datanya. Buku-buku yang saya simpan dalam ponsel sudah hilang semua. Rasanya saya kehilangan seorang kekasih. Saya lupa bahwa selama ini buku menjadi kekasihku, sehingga tiba-tiba saja saya menginginkan kehadiran seorang wanita di sisi saya. Benar-benar kesalahan fatal.
Haruskah kesalahan itu saya lanjutkan? Tidak. Saatnya saya bangkit untuk kembali mengumpulkan data dalam memory otak agar siap menghadapi universalitas kehidupan.
Detik telah terburu-buru untuk secepatnya mengakhiri geraknya agar dia tak merasa bersalah oleh desakan bumi dan langit yang bosan dengan kehidupan ini. waktu yang berjalan dengan cepat ini saya rasakan dalam acara penutupan agenda CSS MORA Nasional di Bali. CSS MoRA adalah organisasi terkaya di Indonesia. Namun sayang sekali, kekayaan itu banyak digunakan untuk acara 'foya-foya'. Saya merasakannya sendiri dan juga menikmati 'foya-foya' itu dengan hati yang sangat-sangat nggerundel. Bentuk acara yang selalu sia sia itu membuat saya tak suka dengan ketuanya.
Tadi siang saya sempat ke warung membeli lontong. Saya tahu warga Bali yang ramah dan bersahabat. makanya saya tak malu untuk mengawali bicara. Di warung saya menyapa seorang gadis kecil. "Mau beli apa dik?"
"Mau beli rujak lontong"
"Sekolahnya kelas berapa?"
"Kelas satu"
"Berapa harga lontongnya?"
"Dua ribu".
Tiba-tiba penjual di warung itu bicara pada saya.
"Anak ini tak sekolah. Anak rantau dari jawa. Anak orang tak punya. Tak punya biaya buat sekolah"
Dan ibu itu bertanya ke anak tadi. Tapi masih ngaji ya?"
"Ya" jawab anak itu malu-malu.
Si ibu melanjutkan pembicaraan sambil melayani pebeli. "Sekolah itu bekal hidup dan ngaji itu bekal mati". Kalimat singkat dan sangat bermakna. Tadi saya tak berpikir jauh tentang anak itu. Baru malam hari saya merasakan ada sesuatu yang menggelisahkan saya. Anak itu tak mampu sekolah karena kendala biaya. Tapi para mahasiswa PBSB yang melakukan pengabdian di daerah itu tak tahu ada anak malang yang membutuhkan bantuan biaya agar bisa sekolah. Kenapa hal semacam ini sering kali terjadi di bumi Indonesia....

No comments:

Post a Comment