Tadi siang saya mengikuti pembukaan Temu Nasioanl Tokoh Pendidikan di Hotel Inna Bali. Acara itu dihadiri Suryadarma Ali, menteri agama RI, Depag Bali yang beragama Hindu, Amin Haedari mantan Dirjen PD Pontren, KH Mujib Imron, KH Abdullah Syarwani, KH Fuad Yusuf dan sejumlah anggota komisi V DPR RI. Dalam acara tersebut Dirjen pendidikan Depag RI melaporkan PBSB. Acaranya dibuka langsung oleh Menag.
Teman-teman yang berada di Jembrana kecewa karena Suryadarma Ali batal membuka agenda pembinaan yang sudah dijadwalkan sebelumnya. Saya kurang tahu alasan kenapa Menag tak menghadiri agenda pembinaan.
Ada keanehan dalam acara itu. Saya melihat mayoritas pesertanya adalah orang-orang yang bermukim di Jakarta sehingga saya bertanya jika demikian mengapa acara itu tidak diselenggarakan di Jakarta malah menghabiskan transpot dan sewa hotel di Bali. Mengapa menteri harus pergi jauh ke Bali hanya untuk membuka acara itu. Bukankah malah menghabiskan uang? Memang kebiasaan buruk menteri-menteri Indonesia perlu diubah. Mereka lebih sering menghabiskan waktu ke luar kota untuk acara yang sifatnya ceremonial saja. Sama seperti Presidennya. Kebiasaan buruk ini sedikit banyak telah menular ke mahasiswa Depag.
Denpasar tak terlalu mengesankan meski banyak turis domesik dan turis asing menjadikannya sebagai tujuan wisata yang wajib dikunjungi. Saat di Denpasar saya lebih sering menghabiskan waktu di dalam ruangan Hotel Inna Kuta. Pantai Kuta yang eksotis hanya bisa saya lihat saat menaiki mobil.
Setelah dari Denpasar, saya kembali ke Jembrana. Dalam perjalanan saya bercengkerama dengan mimpi-mimpi. Sempat sejenak terbangun dan melihat keunikan Bali dengan Pura yang jumlahnya tak terhitung. Hampir tiap-tiap rumah mempunyai Pura di depan rumah. Karena inilah Bali disebut dengan pulau seribu Pura. Keberadaan Pura sama dengan Musholla yang ada di tiap-tiap rumah orang muslim. Sesekali terlihat orang-orang beragama Hindu sedang ‘sembahyang’ di waktu petang.
Lebih dari dua jam perjalanan, akhirnya sampai juga di pondok pesantren Nurul Ikhlas (Nuris) Jembrana. Ponpes Nuris adalah lokasi pembinaan mahasiswa PBSB yang ke lima. Sebelumnya pada tahun 2006 pembinaan dilakukan di Mojokerto, 2007 di Lembang Bandung, selanjutnya 2008 di ponpes al Hikmah Brebes (pertama kali saya ikut pembinaan). Pada tahun 2009 pembinaan dilakukan di masing-masing regional. Untuk regional tengah pembinaannya dilakukan di Ponpes Pandan aran Kaliurang Yogyakarta.
Dari semua pembinaan Depag yang pernah saya ikuti, baru kali ini terlihat betapa ribetnya konsep acara yang dilaksanakan. Kegiatan yang dilaksanakan tak seimbang dengan jumlah uang dari negara. Menurut informasi yang saya terima biaya yang dikeluarkan mencapai tiga milyar rupiah. Subhanallah
Lokasi pembinaan berpencar di tiga tempat dengan ponpes Nuris sebagai pusatnya. Kebetulan saya berada di Nuris sehingga saya tak merasakan lelahnya bolak-balik ke Gilimanuk atau ke Negara. Angkatan 2006, 2007 dan 2008 dilokasikan di MAN Negara dan angkatan 2009 dan 2010 ditempatkan di Gilimanuk.
Meskipun lokasi saya strategis, kamar yang saya tempati kurang nyaman. Tempatnya mirip dengan pondok yang ada di kampung saya dulu, terbuat dari kayu dan mirip gubug. Kamarnya sempit berisi lima belas orang. Lebih pantas saya menyebut tempat itu dengan ‘gubug derita’.
Saya sempat berbincang dengan Ade Mukhlas. Di atampak kecewa dengan kondisi acara ini karena tak mengena subtansi pembinaan dan pengabdian. Malah lebih banyak menghabiskan uang.
Saya juga melihat majalah ‘Santri’ yang mirip album photo. ‘Santri’ belum pantas dikatakan sebagai majalah karena lebih banyak memuat photo dari pada tulisan-tulisan. Dari bentuknya majalah itu pasti mahal sekali. Semua halaman full colour dengan kertas tebal. Saya tak tahu betapa rupiah uang yang dikeluarkan untuk ‘album photo’ itu.
Monday, February 28, 2011
SENIN, 7 FEBRUARI 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment