Batu, 25 Februari 2016
Jumlah Ulama di Indonesia
dengan China atau Amerika tidak sebanding. Di Indonesia jumlahnya sangat banyak
sekali. Jika dibandingkan dengan seantero benua Eropa pun. Jumlah agamawan di
Indonesia jauh lebih banyak. Ini memang bukan hitungan ilmiah. Hanya perkiraan
dengan hitungan jumlah pemeluk Islam. Jika umat Islam banyak, maka tentu
ulamanya juga banyak.
Jumlah ulama yang banyak ini
dengan nyata dan jelas tidak bisa membuat negara ini menjadi makmur. Negara ini
tetap saja miskin. Dengan tegas saya katakan bahwa istighosah, majlis dzikir,
pengajian dan pondok pesantren yang dielu-elukan banyak orang bukanlah solusi
atas permasalahan negara baik dalam level makro maupun mikro. Barangkali agama,
secara umum hanya mampu menjadi sebatas penenang hati.
Benarkah demikian bahwa agama
hanya jadi penenang hati? Tentunya tidak. Yang benar adalah bahwa agama salah
dipahami. Ajaran agama didominasi oleh ajaran yang berorientasi pada
masalah-masalah ukhrowi yang terputus dengan persoalan duniawi. Berbeda sama
sekali jika menilik sejarah baik pada masa nabi, sahabat dan masa kejayaan
dinasti. Betapa agama pada waktu itu menjadi solusi yang mutakhir sehingga
banyak yang tertarik untuk masuk Islam. Hari ini ajaran agama hanya direduksi
pada masalah-masalah sepele terkait furuiyah. Kajian Fikih masih mendominasi
ajaran agama. Di pondok pesantren ngaji fikih dilakukan berkali-kali. Yang
membedakan adalah kitab dan pengarangnya.
Sejak kapan sebenarnya Islam
menjadi begini, khususnya di Indonesia. Agama menjadi membosankan umat karena
tak mampu mengeluarkan masyarakat dari kemiskinan, budaya korupsi dan perilaku
buruk lainnya. Dulu nabi Muhammad pada masa Jahiliyah bisa mengajarkan hal yang
dibutuhkan umat manusia. Mulai dari pengurangan perbudakan, perdamaian negara,
mengenalkan perekonomian dengan sistem yang tidak merugikan kedua pihak dan
menghapus diskriminasi kepada perempuan. Sehingga Islam menjadi solusi yang
dibutuhkan manusia.
Ilmu pengetahuan berkembang
sedikit demi sedikit setelahnya sehingga tamaddun mewujud, masyarakat sejahtera
dan Islam menjadi daya tarik tersendiri bagi umat manusia. Namun kemudian
digerogoti oleh politik kekuasaan dan ajaran-ajaran yang menjauhkan umat Islam dari
berpikir filsafat. Sedang oleh masayarakat Barat, justru filsafat inilah yang dikaji
sehingga melahirkan disiplin ilmu yang banyak sampai hari ini. Dalam Islam
sendiri, cabang pengetahuan tersebut baik sosial science maupun natural
science tidak dianggap sebagai ilmu agama. Yang dianggap agama hanya
sebatas akidah, fikih dan akhlak. Dan jadilah umat Islam seperti hari ini.
Miskin, kalah, pengemis dan korup.
Lulusan pesantren yang kuliah
ke laur negeri lagi-lagi mempelajari akidah, fikih dan akhlak. Kembali ke
Indonesia tidak membawa perubahan yang signifikan selain hanya mengajar santri
hal-hal yang tidak revolusioner. Posisi ini terus saja dipertahankan. Oleh
sebagian kalangan dianggap sebagai sebuah prestasi. Padahal sebenarnya tidak
sama sekali. Kemiskinan dan mental korup tidak hilang. Santri yang lulus dan
mendapat jabatan akan tetap korupsi dengan berbagai modusnya. Pejabat kampus
sebagaimana di tempatku belajar melakukan kolusi dan nepotisme. Dan pengusaha santri yang ingin cepat kaya menyogok calon bupati agar usahanya bisa berkembang
denagn bantuan pejabat negara. Untuk yang terakhir ini terjadi di Gresik
sebagaimana cerita seorang komisioner KPU Gresik.
Jumlah umat Islam yang
berpikiran bahwa agama hanya sebatas akidah, fikih dan akhlak jumlahnya
mayoritas. Orang yang memiliki pemikiran berbeda dengan yang mayoritas akan dianggap
sesat, keluar dari pemikiran aswaja atau sebatas sebagai orang yang su’ul adab.
Siapa yang kelak bisa mengeluarkan umat dari pola pemikir demikian? Seorang
walikah? Habaibkah? Kiaikah? Professorkah?
Tuhan pun nampaknya membiarkan
kondisi umat. Dia tidak akan mengubah suatu kaum, kecuali individu-individunya
mau berubah. Mengubahnya bukan hanya dengan berdoa dan istighosah. Kedua cara ini dan
sejenisnya tidak ampuh. Seorang ulama Yaman yang diagungkan di Indonesia saja
ternyata tidak mampu membuat negerinya damai. Padahal sosoknya sudah dianggap mitos. Oleh salah seorang pengagumnya dianggap sebagai wali tertinggi abad ini. Kenyataannya bagaimana? Ternyata doanya dikalahkan oleh konflik
politik yang mengobrak-abrik Yaman. Sebaliknya negara Barat dan China yang
komunis hari ini menjadi negara maju meskipun di sana umat Islam tidak banyak.
No comments:
Post a Comment