Wednesday, February 10, 2016

RABU, 10 FEBRUARI 2016


Membaca Panggil Aku Kartini Saja membuatku sadar bahwa selama beberapa waktu ini aku telah menjadi penakut. Dalam buku itu digambarkan betapa sengsaranya orang-orang yang hidup saat Belanda menerapkan Culturestelsel. Korban penjajahan kelaparan, dipaksa bekerja untuk tanahnya sendiri dengan gaji tak seberapa atau bahkan tanpa gaji. Namun mereka bertahan karena pasrah. Segelintir orang berani melawan seperti halnya Kartini walau hanya lewat tulisan. Sedang hari ini aku dengan status Sarjana Hukum Islam dengan mahasiswa pascasarjana tingkat akhir tidak memiliki pekerjaan tetap seperti sepupuku dan adikku yang hanya lulus SMA. Mereka berani bekerja halal. Sedang aku malah jadi pengangguran tanpa sadar. Apa yang kulakukan adalah penjajahan dengan nama lain. Orang-orang menyebutnya dengan pengabdian, khidmah atau ngawulo.

Sosok Kartini saat ini bertahan sebagai mitos, hari lahirnya dirayakan dengan hal-hal tak penting dan tanpa arti. Kartini menjadi candu. Dan memang seperti itulah yang diharapkan banyak orang seperti halnya agama. Menganggap tokoh sebagai mitos tak menuntut untuk berpikir rasional. Hingga detik ini hal-hal demikian terus dipertahankan. Sosok Kiai, wali, habaib dan bermacam lainnya masih dikultuskan sedemikian rupa menjadi candu. Yang sudah meninggal kisahnya masih didengarkan. Seperti kisah tentang karomahnya atau hanya sekedar mimpi Kiai bertemu sosok-sosok suci itu. Pertanyaannya, jika pun mimpi bertemu orang suci itu ada, mengapa orang Suci itu tidak datang kepada orang-orang tersesat agar bisa disadarkan? Mengapa Nabi tidak datang ke dalam mimpi orang kafir yang berpengaruh di dunia agar dia bisa jadi beriman dan membuat banyak orang ikut langkahnya?

Banyak hal yang jadi pertanyaan mengenai perilaku irasional para orang-orang beragama di sekitarku. Ada seorang peranakan arab yang disebut habib yang secara kasat mata dia adalah orang gila. Namun bagi sebagian pecinta habaib (akhir-akhir ini disebut muhibbin) orang itu sedang jadzab. Orang biasa takkan memperoleh gelar itu. Orang biasa jika gila ya gila.

Jika mati si jadzab akan diziarahi, diperingati haulnya sampai menghabiskan puluhan juta. Peringatan ini seolah tak peduli bahwa banyak manusia di samping kanan kirinya butuh uang. Bukan aku tak setuju dengan haul. Namun memperingati kematian seseorang dengan menghaburkan banyak uang di saat banyak orang miskin di sekitar, bukankah ini sebuah hal yang konyol?

Orang yang jadzab tadi Jika masih hidup, segala jenis cerita orang-orang sholih belum dianggap sebagai cerita wali, hanya saja perlakuannya kepada sosok itu menjadi berlebihan. Sampai aku pun sempat terbawa ikut-ikutan mereka karena sekitar tiga tahun ini hidup bersama dengan orang yang memiliki pemikiran demikian. sampai hari ini belum semuanya tercerabut.

Aku hidup di sekeliling orang-orang yang bersikap berlebihan kepada Kiai sampai melupakan bagaimana dulu para sahabat bersikap kepada nabi. Hanya sedikit saja orang yang berani bersikap biasa saja dengan Kiai. Kenapa bisa jadi demikian? kata Pram, sudah bawaan kebanyakan pribumi memiliki sikap begitu. Negeri ini dijajah bukan hanya karena kerakusan kolonial namun karena perilaku warganya sendiri.

Orang biasa merunduk-runduk di hadapan orang kaya, di hadapan elit agama, di hadapan bos dan orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi baik secara materi ataupun dalam hal spiritual. Akibatnya hukum bisa dipermaikan, tatanan masyarakat rusak bahkan agama juga demikian. semuanya dimonopoli oleh elitnya sendiri.

Rasa-rasanya hal yang demikian akan terus dipertahankan entah sampai kapan. Memiliki pemahaman yang berbeda akan dianggap liberal atau dengan kata lain, telah menjadi ghoiruna (kelompok selain kita). Orang-orang sepertiku barangkali akan dianggap orang sesat yang keluar dari rel yang ditetapkan oleh apa yang disebut dengan ahlussunah wal jamaah. Sedang hari ini, aku masih menjabat sebagai seorang pimpinan redaksi sebuah majalah yang memiliki tagline meneguhkan Islam ahlussunnah wal jamaah. Harusnya aku berani seperti Agus Salim, memilih mundur dari pada pemikiranku berbeda dengan apa yang kulakukan. Dalam hal ini aku harus mengumpulkan keberanian untuk mundur sedikit demi sedikit. Terlalu frontal kalau terang-terangan keluar.

Hari ini, ahlussunnah wal jamaah adalah mayoritas di NKRI. Namun kondisi negeri ini tetap ditindas seperti ini. Maka mau tak mau umat Islam harus berani bertanggung jawab untuk mencari jalan keluar baik melalui politik atau pendidikan yang mencerahkan. Bukan pendidikan yang mengajarkan hal-hal yang irasional dalam beragama waluapun sampai hari ini pendidikan agama tidak disampaikan secara rasional sehingga umat masih begini-begini saja.

“Bagaimana jika ternyata pola pendidikan yang sekarang bertahan melalui pesantren diubah dan menjadikan negeri ini tidak damai seperti di Timur Tengah?” suatu ketika temanku pernah bertanya demikian setelah aku berbicara tentang ketidaksetujuanku mengenai hal-hal irasional di atas.

Jawabanku sederhana. Di negara-negara Barat yang maju atau China yang komunis hari ini tak mengalami apa yang terjadi di Timur Tengah. Dan mereka tidak dilandaskan pada agama. Mereka sekuler dan hari ini menjadi negara maju. Apa hubungan agama dalam hal ini? Kalau melihat masyarakat NKRI, maka agama hanya sebatas candu yang memabukkan, membuat orang-orang sabar atas kemiskinan, pasrah pada keadaan yang menyengsarakan. Wallahu a’lam wa ila Allahi turjaul umuur.




6 comments:

  1. Kapan hari lalu juga bicarain topik ini sama beberapa mahasiswa yg sepaham tentang rancu-nya politik religius baik yg diterapkan dalam scope pemerintahan sampai ke mikro macam pondok pesantren dan keluarga inti. Fokusnya pada islamisme dan javanisme, agama dan budaya yg bercampur, (sisi buruknya yaitu) beban ilusi dan mistisme yg secara sengaja diimplementasikan pada proses didikan mendasar sebagai anak, orang tua, perempuan, laki-laki, dan warga negara. Well, hal sentimentil macam ini gak akan ada ujungnya jika kita gak berusaha membebaskan diri dari ikatan abstrak pahala-dosa-surga-neraka (yg kurasa dimanfaatkan sefleksibel mungkin, tergantung kepentingan) pemegang kuasa.
    Semoga gak salah paham nih, framework diskusi jadi sekuler justru karena ingin menjaga kesucian Tuhan dan kematangan spiritualis masing-masing dari kotornya politik dan nafsu egocentric manusia, yg mengatas-namakan simbol-simbol tertentu.
    Tapi zal, pada ujungnya, entah salah atau benar gak perlu lah diambil kesimpulan, toh setiap orang bebas memilih dan mempertahankan pendapatnya sendiri dan tugas kita hanya memberi pandangan dari sisi lain lalu menghormati pemikiran lawan bicara jika ternyata gak nemu titik sepakat. Orang diluar adat seperti kita, sampai pecah pita suara pun gak akan dapat tempat ditengah masyarakat yg katanya madani ini, kebanyakan sudah terlalu nyaman dan pantang sekali diubah pola pikirnya. So, anyway.
    Kapan-kapan kukenalin deh sama pasukan penuh kegelisahan, aku juga baru ketemu sekali tanpa sengaja, asik kan biar diskusinya makin kaya, insyaallah :)

    ReplyDelete
  2. Ayo. Temukan aku dg mereka. Besok rencana mau ke Malang. Mau beli buku.

    ReplyDelete
  3. Halah, alesanmu mau beli buku.
    Oke insyalloh, kucari dulu orang"nya, aku lupa kenalan lupa nanya nama mereka, apalagi kontaknya. My bad.

    ReplyDelete