Sejak kemarin aku
tinggal di kos-kosan dekat kampus. Jaraknya sekitar lima ratus meter. Nama kos
ini dikenal dengan camp Gusdurian. Barangkali karena tempat komunitas Gusdurian
Tulungagung tinggal dan berdiskusi. Namun aku belum pernah mendapai mereka
diskusi. Hanya ada banyak buku-buku kiri yang sangat-sangat menggairahkan untuk
dibaca sampai aku bingung mau membaca yang mana dulu. Akhirnya aku memutuskan
untuk membaca dari yang paling kiri. Judul bukunya Palu Arit Di Ladang Tebu tentang
pembantaian missal yang terjadi di Jombang dan Kediri pada tahun 1965-1966.
Menjadi anak kos
sebenarnya sudah pernah kurasakan saat di Semarang. Bedanya dulu saya mendapat
beasiswa sehingga tak terpikir cara mencari uang. Sekarang saya harus bisa
survive, mencari uang sendiri untuk hidup sehari-hari dan membayar SPP. Untuk biaya
kos, Alhamdulillah pemilik rumah membebaskanku dari biaya alias gratis.
Jarak yang cukup jauh
dari kampus mengharuskanku memiliki kendaraan sendiri. Setelah kemarin masuk
rumah si Mbah dan Bu Sholikhah, aku melihat ada sepeda yang mungkin bisa
kumanfaatkan. Setelah aku izin memakai, beliau mempersilakan dengan senang
hati. Si Mbah yang hidup sebatang kara juga memberiku makan. Kasihan si Mbah. Anak-anaknya
sudah berada di luar kota. Sehingga tak ada yang menemani kecuali kami
anak-anak kos.
Aku mendapatkan kos
ini karena Bu Sholikhah adalah wali santri pondok MBS Blitar. Putrinya adalah
muridku di kelas jurnalistik. Aku dan beliau berkenalan di FB. Beberapa minggu
lalu beliau menawariku untuk tinggal di kos ini. Namun aku belum butuh. Sampai akhirnya
seminggu lalu aku terpikir bahwa aku harus konsentrasi dalam menyelesaikan
tesis seperti dulu waktu aku menyelesaikan skripsi. Setelah kupikir matang dan
kudiskusikan dengan bapak, beliau setuju.
Dengan terpaksa aku
harus mengatur majalah dari jarah jauh. Dan aku sudah sengaja melakukannya. Aku
ingin menjadi dosen di sini kelak. Di IAIN Tulungagung. Untuk sementara ini,
sambil menyelesaikan tesis, aku ingin mencari kerja. Apapun yang bisa
dikerjakan dan membuatku bisa bertahan hidup di sini. Tadi pembantu dekan sudah
memberiku kabar tentang seleksi dosen baru fakultas Syariah. Dekan fakultas
Syariah adalah pembimbing tesisku. Semoga di bawah bimbingannya aku bisa
memiliki kedekatan emosional. Ke depannya aku bisa mengikuti seleksi dosen di
fakultas Syariah.
Dengan tinggal di
kos-kosan, aku bisa tidak sering-sering pulang. Aku juga bisa belajar hidup
dengan aturan yang kubuat sendiri tanpa banyak ikatan. Dulu terikat beasiswa,
sekarang tidak. Apapun yang kulakukan adalah untuk diriku dan kebaikanku. Di luar
itu aku juga perlu untuk segera mencari jodoh. Aku harus sedikit mengalahkan
egoku. Dan targetku sampai sekarang tetap. Dek Rahma. Dek Rahma yang mengangguk
ketika kutanya apakah dia mau kunikahi. Tapi dia sepertinya menghilang. Mungkin
dia suka tapi dia mau fokus dulu pada kuliah sehingga memilih jauh dariku dulu.
Solusinya, aku harus ke rumahnya.
No comments:
Post a Comment