Friday, February 19, 2016

KAMIS, 18 FEBRUARI 2016

Kembali lagi saya melihat fakta buruk dalam dunia pendidikan. Tak perlu kutuliskan apa yang sedang terlihat ini. Aku hanya perlu belajar atas segala keburukan yang terjadi dan jangan sampai aku melakukannya. Melihatnya membuatku terpikir bahwa ada banyak hal yang harus kuurungkan, terutama niatku untuk menjadi dosen. Pertama karena praktek nepotisme tidak akan pernah bisa lepas dari mental orang-orang Indonesia. Kedua, saya tak habis pikir, dosen bergelar doktor dalam bidang tafsir tak menjadi pembimbing proposal tesis. Sebaliknya, dosen yang tak memiliki bidang justru menjadi pembimbing tesis, termasuk pembimbingku. Ketiga, orang miskin memang memalukan dan menyedihkan. Sepertiku, dibentak oleh pegawai bagian pembayaran karena belum melunasi biaya.

Dalam dunia kerja, hal-hal demikian akan terus ada jika masih hidup di NKRI. Oleh karenanya saya tak ingin untuk menjadi orang seperti itu. Semalam aku menyampaikan hal itu kepada adikku. Dia bilang, berat hidup jadi pekerja otot. Aku menjawab, tapi kerjamu itu bisa halal. Sedang menjadi pegawai negeri bisa membuat orang korup. Potensinya besar.

Aku sempat mendatangi dosenku yang ‘dizalimi’ birokrat kampus, saya membicarakan ketidakberesan yang terjadi dalam pasca. Kesimpulannya sentiment organisasi dan perebutan kekuasaan di kampus adalah hal yang akrab dalam perguruan tinggi kampus berlabel Islam. Dan hal ini menjadi salah satu penyebab kampus tak maju-maju. Ah, apa itu kampus maju. Kelakuan ilmuwan sama saja dengan politisi. Orang-orang baik akan sama nasibnya baik di kampus maupun di parlemen. Disingkirkan.

Sempat aku kemudian terpikir, lalu aku kelak mau kerja dimana untuk memenuhi kebutuhan hidup, untuk melamar Dek Rahma, untuk membahagiakannya jika di banyak lini banyak hal haram dihalalkan untuk mencapai ambisi. Semoga Tuhan kelak member jalan. Dan yang penting Dek Rahma tetap konsisten dengan anggukannya sehingga jika waktu sudah tepat, aku bisa mendatangi rumahnya.

Di luar itu semua ada kabar baik untukku. Teman satu kosku ternyata pengikut Syiah. Sejak awal aku sudah curiga. Ada banyak buku koleksinya yang bertemakan Syiah. Aku akan mendapat tema diskusi baru dari orang yang berbeda. Mendapat pengetahuan yang lebih luas dari pengikut setia Imam Ali.

Mengenal orang yang berbeda sudah kualamai sejak kecil. Pakdeku Muhammadiyah. Waktu SD temanku banyak yang LDII. Beberapa kebiasaan berkaitan dengan furuiyah agama ada yang berbeda. Namun aku dan teman-teman tak pernah menjaga jarak. Ketika Tsanawiyah aku menemui guru dan teman-teman dari Muhammadiyah. Waktu mondok, temanku homogen. Perbedaan hanya terletak pada kerajinan. Ada yang rajin ada yang tidak. Namun semuanya NU. Waktu kuliah, temanku ada yang dari Persis, PKS dan HTI. Dan sewaktu S2, aku memiliki teman Wahabi, Ahmadiyah dan Syiah. Alhamdulillah saya bisa berteman dengan semua.

Teman memang banyak. Tapi?

Tapi mengapa Dek Rahma menghilang meninggalkan jejak rindu di saat perasaannya yang meragu takkan pernah berkompromi dengan waktu. Apa menunggu aku merayunya, dengan kalimat-kalimat yang yang membuat hati sendu. Atau aku langsung saja ke rumahnya, dengan bertindak konyol menunggunya datang di kampusnya seperti orang bodoh. Yang jelas, aku kembali menyukai lagu-lagu sendu, tentang cinta yang lama-lama mendalam sedang orang yang dicintai tiba-tiba hilang, meninggalkan banyak tanya. Apa kisah ini salah?

No comments:

Post a Comment