Kembali
lagi saya melihat fakta buruk dalam dunia pendidikan. Tak perlu kutuliskan apa
yang sedang terlihat ini. Aku hanya perlu belajar atas segala keburukan yang
terjadi dan jangan sampai aku melakukannya. Melihatnya membuatku terpikir bahwa
ada banyak hal yang harus kuurungkan, terutama niatku untuk menjadi dosen.
Pertama karena praktek nepotisme tidak akan pernah bisa lepas dari mental
orang-orang Indonesia. Kedua, saya tak habis pikir, dosen bergelar doktor dalam
bidang tafsir tak menjadi pembimbing proposal tesis. Sebaliknya, dosen yang tak
memiliki bidang justru menjadi pembimbing tesis, termasuk pembimbingku. Ketiga,
orang miskin memang memalukan dan menyedihkan. Sepertiku, dibentak oleh pegawai
bagian pembayaran karena belum melunasi biaya.
Dalam
dunia kerja, hal-hal demikian akan terus ada jika masih hidup di NKRI. Oleh
karenanya saya tak ingin untuk menjadi orang seperti itu. Semalam aku
menyampaikan hal itu kepada adikku. Dia bilang, berat hidup jadi pekerja otot.
Aku menjawab, tapi kerjamu itu bisa halal. Sedang menjadi pegawai negeri bisa
membuat orang korup. Potensinya besar.
Aku
sempat mendatangi dosenku yang ‘dizalimi’ birokrat kampus, saya membicarakan
ketidakberesan yang terjadi dalam pasca. Kesimpulannya sentiment organisasi dan
perebutan kekuasaan di kampus adalah hal yang akrab dalam perguruan tinggi
kampus berlabel Islam. Dan hal ini menjadi salah satu penyebab kampus tak
maju-maju. Ah, apa itu kampus maju. Kelakuan ilmuwan sama saja dengan politisi.
Orang-orang baik akan sama nasibnya baik di kampus maupun di parlemen.
Disingkirkan.
Sempat
aku kemudian terpikir, lalu aku kelak mau kerja dimana untuk memenuhi kebutuhan
hidup, untuk melamar Dek Rahma, untuk membahagiakannya jika di banyak lini
banyak hal haram dihalalkan untuk mencapai ambisi. Semoga Tuhan kelak member
jalan. Dan yang penting Dek Rahma tetap konsisten dengan anggukannya sehingga
jika waktu sudah tepat, aku bisa mendatangi rumahnya.
Di luar
itu semua ada kabar baik untukku. Teman satu kosku ternyata pengikut Syiah.
Sejak awal aku sudah curiga. Ada banyak buku koleksinya yang bertemakan Syiah.
Aku akan mendapat tema diskusi baru dari orang yang berbeda. Mendapat
pengetahuan yang lebih luas dari pengikut setia Imam Ali.
Mengenal
orang yang berbeda sudah kualamai sejak kecil. Pakdeku Muhammadiyah. Waktu SD
temanku banyak yang LDII. Beberapa kebiasaan berkaitan dengan furuiyah agama
ada yang berbeda. Namun aku dan teman-teman tak pernah menjaga jarak. Ketika
Tsanawiyah aku menemui guru dan teman-teman dari Muhammadiyah. Waktu mondok,
temanku homogen. Perbedaan hanya terletak pada kerajinan. Ada yang rajin ada
yang tidak. Namun semuanya NU. Waktu kuliah, temanku ada yang dari Persis, PKS
dan HTI. Dan sewaktu S2, aku memiliki teman Wahabi, Ahmadiyah dan Syiah.
Alhamdulillah saya bisa berteman dengan semua.
Teman
memang banyak. Tapi?
Tapi
mengapa Dek Rahma menghilang meninggalkan jejak rindu di saat perasaannya yang
meragu takkan pernah berkompromi dengan waktu. Apa menunggu aku merayunya,
dengan kalimat-kalimat yang yang membuat hati sendu. Atau aku langsung saja ke
rumahnya, dengan bertindak konyol menunggunya datang di kampusnya seperti orang
bodoh. Yang jelas, aku kembali menyukai lagu-lagu sendu, tentang cinta yang
lama-lama mendalam sedang orang yang dicintai tiba-tiba hilang, meninggalkan
banyak tanya. Apa kisah ini salah?
No comments:
Post a Comment