Pemilihan
kata, intonasi, logat dan sikap perempuan adalah hal-hal kecil yang selama ini
kuperhatikan dalam rangka mencari pendamping hidup di luar kecantikan fisik.
Seseorang pernah bilang, perihal demikian hanya akan jadi wacana. Dengan kata
lain kehadiran perempuan itu hanya akan hadir dalam dunia khayal. Namun tidak
bagiku. Perempuan seperti itu ada dalam dunia nyata. Mereka ada di
daerah-daerah pedesaan daerah Jawa Timur wilayah Barat Daya mulai dari Blitar
ke Barat. Warganya memiliki kekayaan tutur kata yang lembut tanpa dibuat-buat.
Sebetulnya
persoalan di atas tidak mempengaruhi pada kebaikan seseorang. Hanya bagiku itu
termasuk bagian dari sisi keindahan lain yang perlu dimiliki perempuanku kelak.
Dalam hal ini sebenarnya aku adalah manusia materialistis, yang memandang
perempuan dari penampilan fisik saja. Pandangan demikian bisa menyakiti
perasaan perempuan. Mereka tak ingin dipandang hanya penampilan fisik saja
walaupun kenyataannya kebanyakan dari mereka suka memperindah penampilan fisik
untuk mengundang decak kagum laki-laki sepertiku. Sebagaimana Rose dalam
Titanic. Lagi-lagi dia yang kujadikan contoh. Dia disekolahkan tinggi oleh
ibunya. Kata ibunya agar bisa mendapatkan lelaki bangsawan. Padahal Cal lebih
tertarik oleh penampilan fisik Rose bukan pada pengetahuannya yang lebih banyak
dari pada Cal.
Penampilan
Rose pun menarik Jack, lelaki yang berani hidup dengan bekal kertas dan pensil
untuk melukis. Dia berani ke Eropa meninggalkan Amerika tanah airnya pada awal
abad 20. Harusnya aku pun berani sepertinya agar tak jadi pria rumahan tanpa
tantangan begini. Dalam waktu dekat aku harus berani memutuskan untuk mencari
kerja di Tulungagung sambil menyelesaikan tesis di sana. Orang tua sudah
kuberitahu alasanku. Siapa tahu aku bernasib sebagaimana Jack, bertemu
perempuan special untuk kunikahi kelak.
Aku jadi
ingat Romdhon. Setelah bapaknya meninggal, dia pulang ke Jepara. Setelah
beberapa waktu dia mendapatkan kerja menjadi pencatat keluar masuknya kayu
dengan gaji sekitar dua puluh lima ribu perhari. Sementara kerjanya sudah masuk
pukul tujuh pagi dan pulang di atas pukul empat sore. Beberapa kemudian, dia
menikah dengan kekasihnya yang dulu. Mereka berani hidup berdua. Sementara aku?
Masih seperti ini saja padahal ijazah sudah di tanganku. Namun baru baru
kemarin aku resmi jadi WNI karena baru kemarin aku memiliki E-KTP.
No comments:
Post a Comment