Thursday, February 11, 2016

KAMIS, 11 FEBRUARI 2016

Pemilihan kata, intonasi, logat dan sikap perempuan adalah hal-hal kecil yang selama ini kuperhatikan dalam rangka mencari pendamping hidup di luar kecantikan fisik. Seseorang pernah bilang, perihal demikian hanya akan jadi wacana. Dengan kata lain kehadiran perempuan itu hanya akan hadir dalam dunia khayal. Namun tidak bagiku. Perempuan seperti itu ada dalam dunia nyata. Mereka ada di daerah-daerah pedesaan daerah Jawa Timur wilayah Barat Daya mulai dari Blitar ke Barat. Warganya memiliki kekayaan tutur kata yang lembut tanpa dibuat-buat.

Sebetulnya persoalan di atas tidak mempengaruhi pada kebaikan seseorang. Hanya bagiku itu termasuk bagian dari sisi keindahan lain yang perlu dimiliki perempuanku kelak. Dalam hal ini sebenarnya aku adalah manusia materialistis, yang memandang perempuan dari penampilan fisik saja. Pandangan demikian bisa menyakiti perasaan perempuan. Mereka tak ingin dipandang hanya penampilan fisik saja walaupun kenyataannya kebanyakan dari mereka suka memperindah penampilan fisik untuk mengundang decak kagum laki-laki sepertiku. Sebagaimana Rose dalam Titanic. Lagi-lagi dia yang kujadikan contoh. Dia disekolahkan tinggi oleh ibunya. Kata ibunya agar bisa mendapatkan lelaki bangsawan. Padahal Cal lebih tertarik oleh penampilan fisik Rose bukan pada pengetahuannya yang lebih banyak dari pada Cal.

Penampilan Rose pun menarik Jack, lelaki yang berani hidup dengan bekal kertas dan pensil untuk melukis. Dia berani ke Eropa meninggalkan Amerika tanah airnya pada awal abad 20. Harusnya aku pun berani sepertinya agar tak jadi pria rumahan tanpa tantangan begini. Dalam waktu dekat aku harus berani memutuskan untuk mencari kerja di Tulungagung sambil menyelesaikan tesis di sana. Orang tua sudah kuberitahu alasanku. Siapa tahu aku bernasib sebagaimana Jack, bertemu perempuan special untuk kunikahi kelak.

Aku jadi ingat Romdhon. Setelah bapaknya meninggal, dia pulang ke Jepara. Setelah beberapa waktu dia mendapatkan kerja menjadi pencatat keluar masuknya kayu dengan gaji sekitar dua puluh lima ribu perhari. Sementara kerjanya sudah masuk pukul tujuh pagi dan pulang di atas pukul empat sore. Beberapa kemudian, dia menikah dengan kekasihnya yang dulu. Mereka berani hidup berdua. Sementara aku? Masih seperti ini saja padahal ijazah sudah di tanganku. Namun baru baru kemarin aku resmi jadi WNI karena baru kemarin aku memiliki E-KTP.

No comments:

Post a Comment