Friday, February 19, 2016

JUMAT, 19 FEBRUARI 2016


Pendaftaran tesis sudah selesai. Tinggal tanda tangan pengesahan pembimbing yang belum. Waktunya memikirkan dan dan mengerjakan majalah yang kuterlantarkan sejak beberapa hari. Bismillah semoga bisa fokus mengerjakan majalah beberapa hari ke depan sampai waktu ujian proposal tesis tiba.

Tinggal di Tulungagung semakin menyenangkan. Kos tempatku tinggal dekat dengan warung kopi yang menyediakan wi fi yang bisa diakses dengan bebas tanpa malu walau hanya pesan minum secangkir kopi atau segelas teh seperti tadi malam. Aku bisa menulis banyak hal di sini. Suasana yang masih pedesaan, jauh dari jalan raya dan dekat dengan persawahan.

Hari-hariku takkan pernah terlupa dari Dek Rahma walaupun dia tak hadir dan tak mau hadir dulu dalam hidupku. Dia lebih memilih hidup dengan aktifitasnya sebelum aku datang. Jika saatnya tiba, tinggal aku masih konsisten dengan perasaan ini atau tidak. Jika iya, aku akan mendatanginya lagi dalam kondisi yang harusnya lebih siap sekarang. Ya, lebih siap. Bagaimana saya berani melamar seorang gadis jika pekerjaan tetap belum ada. Membayar semester kuliah saja masih menghutang. Bagaimana bisa saya bertindak senekat itu?

Dek Rahma belum juga kutuliskan kisahnya dalam cerita sastra melankolis khas diriku sehingga kelak aku bisa memberikannya sebuah hadiah sebuah buku yang mengkisahkan tentangku dengannya. Yang kubisa baru mengirim doa yang tak bersuara. Tuhan Maha Tahu, Dia hanya menunggu. Menunggu hambanya meminta dan berusaha.

Ketika aku sudah suka pada satu sosok seperti sekarang ini, seolah perempuan mana pun tidak akan memberikan efek padaku untuk sekedar tertarik. Secantik apapun perempuan itu. Kalau tidak dalam kondisi seperti ini, seolah perempuan menjadi menarik karena sesuatu yang dimilikinya. Dan rasanya inilah yang dimaksud dengan buta. Buta bukan karena tidak dapat melihat namun apa yang dilihat tidak memberikan dampak apapun pada hati. Buta seperti ini lebih baik dari pada buta atas kebenaran. Buta akan kebenaran akan membuat pandangan pudar. Kata seseorang padaku, setiap orang punya mata hati. Tapi kalau sudah kepepet, pandangan mata hati bisa kabur. Memang ada benarnya yang dia bilang.

Dalam hal ini kebutuhan hidup seringkali membuat banyak orang kepepet. Keimanan bisa menjadi salah satu solusinya. Orang yang beriman akan jernih mata batinnya. Tak selamanya demikian memang. Sebab “Kada al-faqru an yakuuna kufroon.” Kefakiran mendekati kekafiran. Dalam hal ini banyak contohnya betapa keimanan menjadi rapuh saat dihadapi masalah hidup. Tak peduli siapa pun. Maka, hal-hal semacam ini harusnya dipikirkan sejak dini.

Faktanya, pada zaman postmodernisme macam sekarang, siapakah orang yang kaya? Rata-rata orang yang bukan dari kalangan santri (seorang yang taat beribadah). Banyak yang dari kalangan abangan. Bahkan yang kafir jauh lebih banyak. Akhirnya yang bisa membuka lowongan kerja adalah orang yang tidak beragama dengan taat. Orang yang beriman menjadi buruh dan pembantu orang-orang yang tak terlalu perhatian pada agama. Bagaimana nasib santri? Kalau berani jujur, banyak santri yang menjadi kalangan menengah ke bawah secara ekonomi. Ada santri sukses, menjadi kaya, menjadi bos, menjadi tokoh dan lain sebagainya. Hanya saja prosentasenya sedikit.

Di kampusku dan kampus sewaktu aku masih S1, banyak dosen, pejabat kampus dan bahkan rektornya adalah dulunya santri. Tapi mereka ini tidak bisa jadi contoh. Dalam masalah jabatan di kampus, jatah mengajar dan kebijakan lainnya banyak terjadi nepotisme. Tidak ada meritokrasi. Kebijakan kampus yang berkaitan dengan jabatan dan jam mengajar tidak didasarkan pada kualitas melainkan pada ikatan organisasi. Orang NU akan berkoalisi dengan NU. Muhammadiyah juga berkoalisi Muhammadiyah. Konfrontasi antara alumni PMII dan HMI juga masih ada dalam kampus-kampus. Jika rebutan kekuasaan ini terjadi berdasar pada kualitas tak ada masalah. Sayangnya tidak terjadi demikian. Yang seperti ini banyak terjadi pada kampus-kampus berlebel Islam. Aku dengar kampus-kampus sekuler juga terjangkit hal demikian.

Kelak aku juga bakal memasuki dunia seperti itu. Mental demikian sudah mendarah daging dalam dunia pendidikan. Pengaruh negatif akan hal ini akan berdampak pada para pelajar mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Maka, meningkatkan kualitas diri tidak bisa hanya mengandalkan apa yang diajarkan oleh seorang pengajar dalam kelas. Untuk memperkaya harus banyak berdiskusi dengan orang di luar kampus dan tentunya harus membaca buku.

Ruwet memang. Tidak akan akan habisnya membahas keburukan itu. Dan tidak bisa meningkatkan kualitas diri. Lebih baik kembali mengingat Dek Rahma sambil mendengarkan alunan musik Jazz Gunung. Sejak lama aku ingin tahu bagaimana acara Jazz Gunung ini. Baru ini tadi bisa mengunduh beberapa videonya. Suatu saat aku ingin nonton langsung dengan istriku (Semoga Dek Rahma yang jadi istriku). Dengan satu syarat, aku berumur panjang.

Dia juga suka musik. Kemarin, sebelum dia menghapus kontak bbm, kulihat dia sedang mendengarkan lagu-lagu Geisha. Apa dia suka music Jazz juga? Aku belum tahu. Kalau tak suka akan kuberitahu dia tentang Kahitna, Maliq n D Essential, Monita Tahalea dan lainnya. Aku sendiri tak banyak tahu tentang music Jazz. Hanya suka mendengarnya saja.



No comments:

Post a Comment