Pendaftaran
tesis sudah selesai. Tinggal tanda tangan pengesahan pembimbing yang belum.
Waktunya memikirkan dan dan mengerjakan majalah yang kuterlantarkan sejak
beberapa hari. Bismillah semoga bisa fokus mengerjakan majalah beberapa hari ke
depan sampai waktu ujian proposal tesis tiba.
Tinggal
di Tulungagung semakin menyenangkan. Kos tempatku tinggal dekat dengan warung
kopi yang menyediakan wi fi yang bisa diakses dengan bebas tanpa malu walau
hanya pesan minum secangkir kopi atau segelas teh seperti tadi malam. Aku bisa
menulis banyak hal di sini. Suasana yang masih pedesaan, jauh dari jalan raya
dan dekat dengan persawahan.
Hari-hariku
takkan pernah terlupa dari Dek Rahma walaupun dia tak hadir dan tak mau hadir
dulu dalam hidupku. Dia lebih memilih hidup dengan aktifitasnya sebelum aku
datang. Jika saatnya tiba, tinggal aku masih konsisten dengan perasaan ini atau
tidak. Jika iya, aku akan mendatanginya lagi dalam kondisi yang harusnya lebih
siap sekarang. Ya, lebih siap. Bagaimana saya berani melamar seorang gadis jika
pekerjaan tetap belum ada. Membayar semester kuliah saja masih menghutang.
Bagaimana bisa saya bertindak senekat itu?
Dek
Rahma belum juga kutuliskan kisahnya dalam cerita sastra melankolis khas diriku
sehingga kelak aku bisa memberikannya sebuah hadiah sebuah buku yang
mengkisahkan tentangku dengannya. Yang kubisa baru mengirim doa yang tak
bersuara. Tuhan Maha Tahu, Dia hanya menunggu. Menunggu hambanya meminta dan
berusaha.
Ketika
aku sudah suka pada satu sosok seperti sekarang ini, seolah perempuan mana pun
tidak akan memberikan efek padaku untuk sekedar tertarik. Secantik apapun
perempuan itu. Kalau tidak dalam kondisi seperti ini, seolah perempuan menjadi
menarik karena sesuatu yang dimilikinya. Dan rasanya inilah yang dimaksud
dengan buta. Buta bukan karena tidak dapat melihat namun apa yang dilihat tidak
memberikan dampak apapun pada hati. Buta seperti ini lebih baik dari pada buta
atas kebenaran. Buta akan kebenaran akan membuat pandangan pudar. Kata
seseorang padaku, setiap orang punya mata hati. Tapi kalau sudah kepepet,
pandangan mata hati bisa kabur. Memang ada benarnya yang dia bilang.
Dalam
hal ini kebutuhan hidup seringkali membuat banyak orang kepepet. Keimanan bisa
menjadi salah satu solusinya. Orang yang beriman akan jernih mata batinnya. Tak
selamanya demikian memang. Sebab “Kada al-faqru an yakuuna kufroon.” Kefakiran
mendekati kekafiran. Dalam hal ini banyak contohnya betapa keimanan menjadi
rapuh saat dihadapi masalah hidup. Tak peduli siapa pun. Maka, hal-hal semacam ini
harusnya dipikirkan sejak dini.
Faktanya,
pada zaman postmodernisme macam sekarang, siapakah orang yang kaya? Rata-rata
orang yang bukan dari kalangan santri (seorang yang taat beribadah). Banyak
yang dari kalangan abangan. Bahkan yang kafir jauh lebih banyak. Akhirnya yang
bisa membuka lowongan kerja adalah orang yang tidak beragama dengan taat. Orang
yang beriman menjadi buruh dan pembantu orang-orang yang tak terlalu perhatian
pada agama. Bagaimana nasib santri? Kalau berani jujur, banyak santri yang
menjadi kalangan menengah ke bawah secara ekonomi. Ada santri sukses, menjadi
kaya, menjadi bos, menjadi tokoh dan lain sebagainya. Hanya saja prosentasenya
sedikit.
Di
kampusku dan kampus sewaktu aku masih S1, banyak dosen, pejabat kampus dan
bahkan rektornya adalah dulunya santri. Tapi mereka ini tidak bisa jadi contoh.
Dalam masalah jabatan di kampus, jatah mengajar dan kebijakan lainnya banyak
terjadi nepotisme. Tidak ada meritokrasi. Kebijakan kampus yang berkaitan
dengan jabatan dan jam mengajar tidak didasarkan pada kualitas melainkan pada
ikatan organisasi. Orang NU akan berkoalisi dengan NU. Muhammadiyah juga
berkoalisi Muhammadiyah. Konfrontasi antara alumni PMII dan HMI juga masih ada
dalam kampus-kampus. Jika rebutan kekuasaan ini terjadi berdasar pada kualitas
tak ada masalah. Sayangnya tidak terjadi demikian. Yang seperti ini banyak
terjadi pada kampus-kampus berlebel Islam. Aku dengar kampus-kampus sekuler
juga terjangkit hal demikian.
Kelak
aku juga bakal memasuki dunia seperti itu. Mental demikian sudah mendarah
daging dalam dunia pendidikan. Pengaruh negatif akan hal ini akan berdampak
pada para pelajar mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Maka,
meningkatkan kualitas diri tidak bisa hanya mengandalkan apa yang diajarkan
oleh seorang pengajar dalam kelas. Untuk memperkaya harus banyak berdiskusi
dengan orang di luar kampus dan tentunya harus membaca buku.
Ruwet
memang. Tidak akan akan habisnya membahas keburukan itu. Dan tidak bisa
meningkatkan kualitas diri. Lebih baik kembali mengingat Dek Rahma sambil
mendengarkan alunan musik Jazz Gunung. Sejak lama aku ingin tahu bagaimana
acara Jazz Gunung ini. Baru ini tadi bisa mengunduh beberapa videonya. Suatu
saat aku ingin nonton langsung dengan istriku (Semoga Dek Rahma yang jadi istriku).
Dengan satu syarat, aku berumur panjang.
Dia juga
suka musik. Kemarin, sebelum dia menghapus kontak bbm, kulihat dia sedang
mendengarkan lagu-lagu Geisha. Apa dia suka music Jazz juga? Aku belum tahu.
Kalau tak suka akan kuberitahu dia tentang Kahitna, Maliq n D Essential, Monita
Tahalea dan lainnya. Aku sendiri tak banyak tahu tentang music Jazz. Hanya suka
mendengarnya saja.
No comments:
Post a Comment