Dukuan, 27 Februari 2016
Dalam
film Jaka Swara yang di dalamnya terdapat lagu Pertemuan, diceritakan tentang perlawanan
seorang lelaki pemberani melawan penjajah. Salah satu yang bikin Jaka Swara
semangat dalam melawan Belanda adalah merebut kekasihnya yang akan dijadikan
selir. The Power of Love.
Jumlah
pemberani seperti Jaka Swara dalam setiap zaman tidak banyak. Yang banyak malah
yang bersekongkol atau orang yang takut pada penguasa zalim. Seandainya hidup
di masa itu, kemungkinan saya pun tak seberani Jaka Swara. Sebaliknya akan
menjadi budak Belanda yang pasrah pada keadaan.
Bagi orang yang bisa mendekat dengan penguasa, posisi ini akan menjadikan orang yang tak punya semangat juang akan menjadi seorang oportunis. Pada setiap zaman, orang seperti ini akan selalu ada. Pada masa Diponegoro, sosok itu diwakili oleh Danurejo IV. Dia memakai jabatan patihnya untuk mencari keuntungan pribadi walau harus menurunkan harga dirinya di hadapan Belanda. Dia tak peduli nasib rakyatnya. Sebaliknya ikut-ikutan seperti Belanda menjadi penindas. Danurejo IV ini sangat berbahaya.
Dalam perwayangan, Danurejo sikapnya seperti Sengkuni. Mulutnya berbahaya dan bisa merusakkan semua. Itulah mengapa Diponegoro sangat kesal padanya sampai beberapa kali memukul patih itu.
Perilaku seperti itu diwarisi oleh para politisi hari ini. Juga para aktivis LSM dan orang-orang yang memiliki akses kepada Pemerintahan. mereka menggunakan segala cara agar bisa kecipratan proyek. Tanpa peduli bahwa yang dilakukan seringkali harus mengorbankan rakyat yang seharusnya lebih berhak mendapatkan proyek tersebut.
Dalam hal ini, deal politik yang membagi jatah uang dengan cara yang tidak baik juga terjadi dalam lingkungan pendidikan. Biaya pembangunan sekolah misalnya, jika mau dikucurkan kepada lembaga, maka harus ada upeti kurang lebih 20% untuk pemberi cap stempel dan tanda tangan. Kadang lebih dari itu.
Itu hanya contoh kecil dalam dunia pendidikan. Segala hal yang berkaitan dengan pemerintahan bisa diberlakukan untuk mencari keuntungan pribadi. Oleh karenanya perlu sosok cerdas dan pemberani sebagaimana Jaka Swara dan Pangeran Diponegoro untuk memeranginya. Jika dulu yang dilawan adalah Belanda, hari ini yang dilawan adalah pribumi.
No comments:
Post a Comment