Monday, February 29, 2016

MITOS DI KALANGAN SANTRI

Plosokandang, 29 Februari 2016

Pernyataan Kiai adalah sabda yang harus dipatuhi. Santri tak perlu bersusah payah mencari dasar hukumnya baik melalui Al-Quran dan Hadis. Juga tak perlu mempertanyakannya apalagi mendebatnya sebab bisa menjadi su’ul adab. Singkatnya, apa yang dikatakan seorang Kiai akan menjadi sebuah kebenaran bagi seorang santri. Satu santri dengan santri yang lain seringkali berbeda dalam menafsirkan apa yang dikatakan oleh Kiai. Sehingga di kemudian hari pernyataan kiai bisa menghasilkan perbedaan pandangan dan pengambilan keputusan. Jika kiai tersebut masih hidup maka pernyataan Kiai bisa diklarifikasi. Jika sudah tiada, kata-kata tersebut akan berbeda ceritanya.

Bagaimanapun juga, pernyataan Kiai yang sampai kepada santri tersebut akan menyebar dari mulut ke mulut dari satu generasi ke genari di bawahnya. Pada generasi selanjutnya pun boleh jadi akan semakin berkembang pula pernyataan Kiai itu namun kebenaran tersebut akan terus ada walaupun menjadi banyak versi. Terlepas dari perbedaan tersebut cerita tentang sosok Kiai akan menjadi sebuah mitos. Jika sudah menjadi mitos, maka kebenaran ilmiah akan terkalahkan oleh mitos tersebut.

Hari ini pula bertebar kisah macam-macam tentang seorang tokoh agama jauh pada masa lalu. Mulai dari kisah karomah, kisah barokah dan kisah-kisah lainnya. Kisah ini banyak yang tak tertulis tapi tetap hidup. Bagi santri cerita-cerita tersebut adalah inspirasi yang segar untuk ditiru. Misalnya, konon Kiai Hasyim Asyari memiliki keistimewaan saat nyantri yakni ketaatan kepada guru sampai rela mencari cincin istri gurunya yang tercebur dalam kolam yang pada waktu itu dijadikan tempat berak. Konon, Kiai Kholil bangkalan mampu melihat apa yang dipikirkan orang. Syaikh Nawawi Banten ketika mengarang kitab, penanya bisa berjalan sendiri dan banyak kisah lainnya.

Para santri mengagungkan sosok tersebut. Bangga dengan masa lalu tokoh-tokoh panutannya tanpa adanya upaya untuk mengetahui apa sebenarnya yang dilakukan oleh para ulama salafus sholih dalam belajar, dalam bekerja dan dalam berusaha sehingga menjadi orang hebat dengan karya yang berpengaruh sampai sekarang. Santri lebih memilih menganggap sosok ulama tersebut menjadi mitos tentang orang suci yang mendapat karunia ilahi.

Saya menduga kisah ini ada kalanya tidak benar adanya atau salah dalam menafsirkannya. Sebab saya pernah mendengar kisah yang sama tentang seorang Kiai pada masa lalu. Cerita tersebut disampaikan oleh dua orang yang berbeda. Pertama oleh guruku saat ngaji di pesantren tetangga desa dan seorang lagi seorang ustadz yang berbeda. Inti kisah tersebut sama namun tokoh yang ada dalam cerita tersebut berbeda. Kisah yang pernah kudengar ini sampai sekarang masih hidup tanpa ada yang berupaya untuk mencari kebenarannya. Sosok itu (siapa pun dia) telah menjadi sebuah mitos yang kebenarannya belum bisa diketahui secara pasti.

Saya juga melihat dua orang atau lebih yang mendengar penyampaian Kiai seringkali berbeda menangkap pernyataannya sehingga mengakibatkan multitafsir. Maka, segala jenis cerita tentang karomah dan barokah ini perlu diklarifikasi kebenarannya demi kebenaran. Sebab cerita ini sedikit banyak mempengaruhi santri dalam belajar. Ada beberapa santri yang malas belajar dan mengharapkan barokah dengan ‘menghamba’ kepada gurunya. Jumlahnya banyak. Terkadang malah hal ini dijadikan kedok untuk tidak belajar.

Alasan lain mengapa kisah-kisah tersebut perlu diklarifikasi kebenarannya adalah bahwa sebagaimana dalam ilmu hadis, dapat diketahui betapa ketatnya seorang imam hadist dalam mencari kebenaran yang diriwayatkan oleh orang kepadanya. Tidak lantas menerima begitu saja karena pengaruh dari hadis tersebut kelak akan dijadikan sumber hukum.

Fenomena dawuh Kiai yang multitafsir dan bisa bercabang penyampaiannya bisa berdampak negatif. Jika dampaknya positif maka tak jadi masalah. Namun kalau negatif, maka harus diuji dulu kebenarannya. Sebab ini nanti boleh jadi akan menjauhkan dari agama itu sendiri. Apalagi melihat kondisi masyarakat Indonesia yang pada umumnya tidak terlalu gemar dalam mengkaji sejarah. Tidak menutup kemungkinan pula kisah tentang habaib, wali dan lain sebagainya juga memiliki cacat baik secara isi (matan) ataupun penyampai kabar (sanad). Oleh karenanya tidak bisa cerita tentang karomah ini diterima begitu saja. Sebab jika cerita mengenai karomah kebanyakan bertolak dengan rasio. Padahal agama harus selaras dengan akal. Jika tidak, agama boleh jadi hanya menjadi tertawaan dan ditinggalkan. Wa ila Allahi turjaul umuur.

No comments:

Post a Comment