Monday, February 1, 2016

BERJUMPA DENGAN RAHMA

2 Februari 2016

Susah sekali tidur malam. Kukira dengan tidak tidur sore, aku bisa tidur tak terlalu malam. Ini sudah jam satu lebih dan aku masih tak ingin tidur. Apa ini termasuk sakit atau bagaimana? Ya sudahlah tak apa-apa. Asal aku bisa melakukan hal positif agar waktu tak sia-sia.

Malam ini aku di Malang, menginap di kos Saifullah yang baru setelah bertemu Rahma tadi sore. Pertemuan yang kedua. Pertemuan pertama dengannya adalah saat dia mengikuti festival santri di Unair. Aku mendampingi salah satu santri Blitar dulu. Rahma juara mading bersama teman-temannya. Santri yang kudampingi juga meraih juara sampai dia menitikkan air mata waktu mengangkat tropi di panggung. Sayang nasibnya kini tak tahu bagaimana. Semoga dia tetap melanjutkan bakatnya. Syukur kalau bisa sampai tingkat international. Bakatnya harusnya bisa sampai mencapainya kalau dia mau dan berada di lingkungan yang tepat.

Setiap kali aku bertemu perempuan, selalu ada rasanya dan Tanya untuk diriku sendiri. Apa dia saja yang nanti kupinang? Selalu begitu sampai akhirnya perempuan-perempuan itu juga berpisah denganku. Apa kelak Rahma juga demikian? Aku tak tahu. Hari ini tadi, di luar dugaanku, ternyata mau menemaniku nonton Surat Dari Praha. Apa karena dia merasa nyaman denganku atau memang orangnya demikian adanya? 

Sebelum nonton, hampir sejam aku berbincang dengannya di foodcourt Matos. Dia dan aku duduk di meja di mana dulu aku dan seorang yang pernah kukira akan kupinang pernah berada di situ. Bedanya, perempuan yang sudah memiliki anak itu memesan kentang pedas, Rahma hanya memesan kentang goreng biasa dengan saus.

Waktu Rahma bilang sudah sampai di foodcourt, aku masih di Gramedia untuk sekedar melihat-lihat buku.  Aku sepat sedikit deg-degan sampai di depan foodcourt pun aku mencari-cari di mana dia memilih tempat duduk sebab dia berbeda dengan yang biasanya ada di instagram. Dia lebih cantik.

Aku dan dia sempat membicarakan tentang perkenalan kita. Dia bertanya dari mana kok bisa tahu instagramnya. Aku menceritakan apa adanya. Pertama tertarik dengan poto yang akhirnya kujadikan salah satu model dalam majalah. Kedua, ternyata aku dan dia pernah bertemu walupun tak jelas dan tak saling menyapa. Dan hari ini tadi adalah pertemuan yang memang disengaja, direncanakan jauh-jauh hari.

Rahma kuliah semester enam sekarang. Usianya sama dengan perempuan yang pernah menghianatiku. Sehingga pengetahuannya soal sejarah tak banyak. Terutama tentang orde baru. Ketika Soeharto tumbang, usianya baru tiga tahun. Sepertinya dia juga tak banyak membaca sejarah. Rahma tak tahu bagaimana kebijakan Soeharto menghabisi eks PKI dan orang yang dituduh PKI.

Waktu memasuki gedung bioskop, kami sudah terlambat sepuluh menit. Awalnya kukira dia bosan dengan film yang terlalu banyak dialog. Ternyata tidak. Dia menyukainya bahkan sempat menangis juga. Sama sepertiku. Hanya bedanya dia menangis karena membayangkan jika berada di posisi Jaya (Tyo Pakusadewo) sedang aku karena lagu-lagu yang sendu dalam beberapa adegan. Lagu-lagu itu menyanyikan tentang cinta yang mendalam dan rindu yang tak bisa diam.

Tulisan ini barangkali tidak penting bagi siapapun kecuali diriku sendiri. Tak masalah. Tak perlu dibikin penting. Menulis hal penting seperti tentang agama, rasanya tak pantas buatku. Ya, setidaknya inilah yang sedang kurasakan. Melihat kelakukan, ibadah dan hubunganku dengan Tuhan, menyampaikan tentang agama bukanlah kapasitasku. Ilmu yang kudapat cukup untukku sendiri saja. Di sana ada banyak orang pintar yang lebih pantas dariku untuk menyampaikan.

Kembali ke Rahma. Dia pernah kutanyai kesiapannya untuk menikah. Jawabannya dia belum siap karena masih ingin fokus kuliah. Baiklah. Aku tak menunggu dan tak berharap. Biasa-biasa saja. Jika melihat profil dan kepribadiannya, kurasa tak ada salahnya jika aku menikahinya. Banyak sudah yang diceritakan padaku. Mulai dari keluarga, kuliah dan pondoknya dulu. Di badning gadis seusianya, penampilannya standar tak seperti mahasiswi kebanyakan sekarang, yang terlihat modis dan pandai berdandan. Rahma biasa-biasa saja.

Apakah perjumpaan tadi akan bermakna atau menjadi yang terakhir kalinya. Wallahu a’lam. Semoga dia baik-baik saja dan mendapat pilihan yang tepat kelak jika dia sudah siap menikah. 

No comments:

Post a Comment