2 Februari 2016
Susah sekali tidur
malam. Kukira dengan tidak tidur sore, aku bisa tidur tak terlalu malam. Ini sudah jam
satu lebih dan aku masih tak ingin tidur. Apa ini termasuk sakit atau bagaimana? Ya sudahlah tak apa-apa. Asal aku bisa melakukan hal positif agar waktu tak sia-sia.
Malam ini aku di Malang, menginap di kos Saifullah yang baru setelah bertemu Rahma tadi sore. Pertemuan yang kedua. Pertemuan pertama dengannya adalah saat dia mengikuti festival santri di Unair. Aku mendampingi salah satu santri Blitar dulu. Rahma juara mading bersama teman-temannya. Santri yang kudampingi juga meraih juara sampai dia menitikkan air mata waktu mengangkat tropi di panggung. Sayang nasibnya kini tak tahu bagaimana. Semoga dia tetap melanjutkan bakatnya. Syukur kalau bisa sampai tingkat international. Bakatnya harusnya bisa sampai mencapainya kalau dia mau dan berada di lingkungan yang tepat.
Malam ini aku di Malang, menginap di kos Saifullah yang baru setelah bertemu Rahma tadi sore. Pertemuan yang kedua. Pertemuan pertama dengannya adalah saat dia mengikuti festival santri di Unair. Aku mendampingi salah satu santri Blitar dulu. Rahma juara mading bersama teman-temannya. Santri yang kudampingi juga meraih juara sampai dia menitikkan air mata waktu mengangkat tropi di panggung. Sayang nasibnya kini tak tahu bagaimana. Semoga dia tetap melanjutkan bakatnya. Syukur kalau bisa sampai tingkat international. Bakatnya harusnya bisa sampai mencapainya kalau dia mau dan berada di lingkungan yang tepat.
Setiap kali aku
bertemu perempuan, selalu ada rasanya dan Tanya untuk diriku sendiri. Apa dia
saja yang nanti kupinang? Selalu begitu sampai akhirnya perempuan-perempuan itu juga berpisah denganku. Apa kelak
Rahma juga demikian? Aku tak tahu. Hari ini tadi, di luar dugaanku, ternyata
mau menemaniku nonton Surat Dari Praha. Apa karena dia merasa nyaman denganku
atau memang orangnya demikian adanya?
Sebelum nonton, hampir sejam aku berbincang dengannya di foodcourt Matos. Dia dan aku duduk di meja di mana dulu aku dan seorang yang pernah kukira akan kupinang pernah berada di situ. Bedanya, perempuan yang sudah memiliki anak itu memesan kentang pedas, Rahma hanya memesan kentang goreng biasa dengan saus.
Sebelum nonton, hampir sejam aku berbincang dengannya di foodcourt Matos. Dia dan aku duduk di meja di mana dulu aku dan seorang yang pernah kukira akan kupinang pernah berada di situ. Bedanya, perempuan yang sudah memiliki anak itu memesan kentang pedas, Rahma hanya memesan kentang goreng biasa dengan saus.
Waktu Rahma bilang
sudah sampai di foodcourt, aku masih di Gramedia untuk sekedar melihat-lihat
buku. Aku sepat sedikit deg-degan sampai
di depan foodcourt pun aku mencari-cari di mana dia memilih tempat duduk sebab
dia berbeda dengan yang biasanya ada di instagram. Dia lebih cantik.
Aku dan dia sempat
membicarakan tentang perkenalan kita. Dia bertanya dari mana kok bisa tahu
instagramnya. Aku menceritakan apa adanya. Pertama tertarik dengan poto yang
akhirnya kujadikan salah satu model dalam majalah. Kedua, ternyata aku dan dia
pernah bertemu walupun tak jelas dan tak saling menyapa. Dan hari ini tadi
adalah pertemuan yang memang disengaja, direncanakan jauh-jauh hari.
Rahma kuliah semester
enam sekarang. Usianya sama dengan perempuan yang pernah menghianatiku. Sehingga
pengetahuannya soal sejarah tak banyak. Terutama tentang orde baru. Ketika Soeharto
tumbang, usianya baru tiga tahun. Sepertinya dia juga tak banyak membaca
sejarah. Rahma tak tahu bagaimana kebijakan Soeharto menghabisi eks PKI dan
orang yang dituduh PKI.
Waktu memasuki gedung
bioskop, kami sudah terlambat sepuluh menit. Awalnya kukira dia bosan dengan
film yang terlalu banyak dialog. Ternyata tidak. Dia menyukainya bahkan sempat
menangis juga. Sama sepertiku. Hanya bedanya dia menangis karena membayangkan
jika berada di posisi Jaya (Tyo Pakusadewo) sedang aku karena lagu-lagu yang
sendu dalam beberapa adegan. Lagu-lagu itu menyanyikan tentang cinta yang
mendalam dan rindu yang tak bisa diam.
Tulisan ini
barangkali tidak penting bagi siapapun kecuali diriku sendiri. Tak masalah. Tak
perlu dibikin penting. Menulis hal penting seperti tentang agama, rasanya tak
pantas buatku. Ya, setidaknya inilah yang sedang kurasakan. Melihat kelakukan,
ibadah dan hubunganku dengan Tuhan, menyampaikan tentang agama bukanlah
kapasitasku. Ilmu yang kudapat cukup untukku sendiri saja. Di sana ada banyak
orang pintar yang lebih pantas dariku untuk menyampaikan.
Kembali ke Rahma. Dia
pernah kutanyai kesiapannya untuk menikah. Jawabannya dia belum siap karena
masih ingin fokus kuliah. Baiklah. Aku tak menunggu dan tak berharap. Biasa-biasa
saja. Jika melihat profil dan kepribadiannya, kurasa tak ada salahnya jika aku
menikahinya. Banyak sudah yang diceritakan padaku. Mulai dari keluarga, kuliah
dan pondoknya dulu. Di badning gadis seusianya, penampilannya standar tak
seperti mahasiswi kebanyakan sekarang, yang terlihat modis dan pandai
berdandan. Rahma biasa-biasa saja.
Apakah perjumpaan
tadi akan bermakna atau menjadi yang terakhir kalinya. Wallahu a’lam. Semoga dia
baik-baik saja dan mendapat pilihan yang tepat kelak jika dia sudah siap
menikah.
No comments:
Post a Comment