Wednesday, February 17, 2016

KAMIS, 17 FEBRUARI 2016


Apa memang benar kalau jodoh tak kemana? Kalau memang iya, aku tak masalah jika Dek Rahma sengaja menghilang untuk sementara waktu. Dek Rahma yang dulu pernah memakai akun fb dengan nama Fiki Rohmatul izzah itu biar saja kurindukan, menjelma jadi untaian doa saat aku mengingatnya. Agar dia baik-baik saja dan menjadi lebih baik. Walaupun untuk menjadi lebih baik harus dengan menjauh dariku setelah anggukan itu. Anggukan yang mungkin saja dianggapnya buru-buru.

Bagaimana aku terus ingat, wadah kamera yang masih kubawa itu ada bau parfumnya. Semoga dia tetap konsisten dengan jawabannya sembari menjaga jarak dariku. Mengapa menjadi demikian. Barangkali ini tak bisa dibicarakan. Tapi aku lama-lama merasakan rasa cinta, merindu yang tak diduga setelah lama merasa hampa.

Bahkan di sela aktifitasku mengerjakan proposal tesis, aku sempat teringat dia. Ingatan yang membuatku tiba-tiba jadi diam dan ingin bernyanyi demi menghibur hati. Nyanyian berjudul Nyali Terakhir dan Sabda Rindu sedikit sedikit telah kuhafal untuk mengenangnya yang tak ada kabar dan tak mau mengabariku.

Maafkan saya jika aku harus menjadi begini. Menjadi lelaki yang buru-buru sebelum kita saling mengenal. Sebelum aku mengirimu puisi-puisi yang kutahan agar tak terungkapkan sampai kelak kumenikahinya.

“Berarti jenengan pandai merangkai kata?” Tanya Dek Rahma.

Aku tak menjawab dengan kalimat puitis. Aku hanya bilang,”Ya. Begitulah.” Aku menahan diri untuk tak membuat puisi untuknya.

Aku merindukannya malam ini. Rindu yang menjejak di muka bumi, mendekapku yang tak berdaya. Apa yang kubisa, mengingatnya sambil membasuh peluh di malam hari. Aku bukan makhluk yang bisa terbang. Namun tak mungkin juga menitikkan air mata. Sebab tangisan takkan bisa memanggilnya.

Mengingatnya menjelang tidur bukan jaminan akan menghadirkannya masuk dalam mimpi. Dan mengingatnya dalam malam mungkin akan membuatku susah tidur. Apa yang menguatkanku malam ini? Hanya doa dan keyakinan yang terkadang meragu.

Hati yang letih ini tidak sedang menjerit agar aku melupakan waktu tanpa harus meneteskan air mata. Benarkah aku dan dia saling mencintai? Cinta yang tak berani terucap karena takut pada agama? Ah, agama apa yang melarang rasa cinta? Justru agama yang mengajarkan cinta.

Semakin malam rindu ini semakin hebat membuatku semakin yakin bahwa aku memang sedang dalam romansa. Kelak mungkin aku akan tahu bahwa sebetulnya aku hanya sedang bertepuk sebelah tangan. Atau ada keajaiabn yang tanpa sepengetahuanku sedang diatur Tuhan sehingga dia mau seperti yang pernah dianggukkanya dulu.

Rasanya memang seperti romansa anak belasan tahun. Anak muda yang sok tahu soal rasa. Biarlah. Rasanya memang demikian. Dia yang di sana mungkin saja lebih pilu dariku karena keputusannya sehingga rasa itu oleh alam dikirimkan padaku malam ini. 

Aku tak ingin jika cinta ini tak harus memilikinya. Aku harus memilikinya, mencari gadis mungil bertubuh kurus itu.

No comments:

Post a Comment