Apa
memang benar kalau jodoh tak kemana? Kalau memang iya, aku tak masalah jika Dek
Rahma sengaja menghilang untuk sementara waktu. Dek Rahma yang dulu pernah memakai
akun fb dengan nama Fiki Rohmatul izzah itu biar saja kurindukan, menjelma jadi
untaian doa saat aku mengingatnya. Agar dia baik-baik saja dan menjadi lebih
baik. Walaupun untuk menjadi lebih baik harus dengan menjauh dariku setelah
anggukan itu. Anggukan yang mungkin saja dianggapnya buru-buru.
Bagaimana
aku terus ingat, wadah kamera yang masih kubawa itu ada bau parfumnya. Semoga
dia tetap konsisten dengan jawabannya sembari menjaga jarak dariku. Mengapa
menjadi demikian. Barangkali ini tak bisa dibicarakan. Tapi aku lama-lama
merasakan rasa cinta, merindu yang tak diduga setelah lama merasa hampa.
Bahkan
di sela aktifitasku mengerjakan proposal tesis, aku sempat teringat dia.
Ingatan yang membuatku tiba-tiba jadi diam dan ingin bernyanyi demi menghibur
hati. Nyanyian berjudul Nyali Terakhir dan Sabda Rindu sedikit sedikit telah
kuhafal untuk mengenangnya yang tak ada kabar dan tak mau mengabariku.
Maafkan
saya jika aku harus menjadi begini. Menjadi lelaki yang buru-buru sebelum kita
saling mengenal. Sebelum aku mengirimu puisi-puisi yang kutahan agar tak
terungkapkan sampai kelak kumenikahinya.
“Berarti
jenengan pandai merangkai kata?” Tanya Dek Rahma.
Aku tak
menjawab dengan kalimat puitis. Aku hanya bilang,”Ya. Begitulah.” Aku menahan
diri untuk tak membuat puisi untuknya.
Aku
merindukannya malam ini. Rindu yang menjejak di muka bumi, mendekapku yang tak
berdaya. Apa yang kubisa, mengingatnya sambil membasuh peluh di malam hari. Aku
bukan makhluk yang bisa terbang. Namun tak mungkin juga menitikkan air mata.
Sebab tangisan takkan bisa memanggilnya.
Mengingatnya
menjelang tidur bukan jaminan akan menghadirkannya masuk dalam mimpi. Dan
mengingatnya dalam malam mungkin akan membuatku susah tidur. Apa yang
menguatkanku malam ini? Hanya doa dan keyakinan yang terkadang meragu.
Hati
yang letih ini tidak sedang menjerit agar aku melupakan waktu tanpa harus
meneteskan air mata. Benarkah aku dan dia saling mencintai? Cinta yang tak
berani terucap karena takut pada agama? Ah, agama apa yang melarang rasa cinta?
Justru agama yang mengajarkan cinta.
Semakin
malam rindu ini semakin hebat membuatku semakin yakin bahwa aku memang sedang
dalam romansa. Kelak mungkin aku akan tahu bahwa sebetulnya aku hanya sedang
bertepuk sebelah tangan. Atau ada keajaiabn yang tanpa sepengetahuanku sedang
diatur Tuhan sehingga dia mau seperti yang pernah dianggukkanya dulu.
Rasanya
memang seperti romansa anak belasan tahun. Anak muda yang sok tahu soal rasa.
Biarlah. Rasanya memang demikian. Dia yang di sana mungkin saja lebih pilu
dariku karena keputusannya sehingga rasa itu oleh alam dikirimkan padaku malam
ini.
Aku tak
ingin jika cinta ini tak harus memilikinya. Aku harus memilikinya, mencari
gadis mungil bertubuh kurus itu.
No comments:
Post a Comment