Tuesday, February 9, 2016

SELASA, 9 FEBRUARI 2016


Malam minggu kemarin saya merasa sedih. Ternyata redektur majalahku tak bisa menulis news dengan baik. Menurutku tulisannya buruk sekali. Selama ini aku tak memperhatikan tulisannya dalam news sebab dia sudah semester enam. Betapa aku sangat khusnudhon padanya. Baik sangkaku beralasan. Selain karena sudah semester enam, dia juga sudah lama ada di majalah. Jauh sebelum aku jadi pimred.

Kualitas tulisannya masih di bawah anak-anak jurnalis MBS Blitar yang masih SMP-SMA. Dalam hal ini tulsian news. Aku belum tahu tulisan yang lain. Namun bagiku, membuat berita adalah dasar dari jurnalistik. Jika sudah bisa membuat berita yang bagus saya kira untuk membuat tulisan yang lain akan bisa lebih baik pula. Aku sudah menegurnya malam itu juga. Pagi berikutnya dia kuberi penjelasan kekuarangannya.

Masalah ini adalah masalah mendasar selain masalah-masalah majalah lainnya. Majalah yang dikelola asal-asalan karena sejak awak sudah salah, termasuk proses penunjukan pimpinan umum dan pimred (aku). Akhirnya kesalahan itu merembet kepada lainnya. Mulai dari masalah keuangan, distribusi dan lain sebagainya.

Melihat hal demikian, aku jadi terpikir untuk mengundurkan diri saja, seperti Agus Salim. Dia beberapa kali mengundurkan diri dari media yang dia kelola karena bertentangan dengan prinsip. Kalau tidak demikian, yang ada hanya adalah pikiran-pikiran buruk saja yang muncul. Walaupun sebenarnya memang buruk sebagaimana pengelolaan pondok.

Aku tak habis pikir kenapa pondok terus membangun dan membangun di saat kesejahteraan guru jauh dari ideal. Akhirnya ada yang sepertiku, memilih untuk tak mengajar atau beberapa guru lain yang nggerundel. Saya memilih tidak mengajar sebenarnya karena malas saja. Malas mengajar murid yang sering tidur, malas melihat system kacau balau yang dipertahankan. Tidur murid di kelas adalah akibat dari system yang kacau balau itu.

Bangunan semakin megah, kualitas semakin merosot. Pengasuh pondok dalam hal ini pernah menyampaikan sekitar tujuh tahun lalu. Namun sama saja, tak ada perubahan. Yang ada justru merosot walaupun perlombaan demi perlombaan bisa dimenangkan. Nyatanya yang gagal banyak. Keluar pondok nasibnya entah bagaimana. Yang berhasil yang sebagian kecil saja. Namun yang berhasil itu kemudian dianggap karena barokah bukan karena usaha santri itu sendiri.

Tulisan ini, bagi banyak orang barangkali dianggap suul adab. Biar saja dianggap suul adab. Membicaraknnya pun sama saja tak aka nada hasilnya. Menyampaikan langsung dalam forum pun juga takkan ada hasilnya dan pada akhirnya kalau tersamaikan akan dianggap suul adab pula dan disingkirkan.

Ritus ibadah memang baik di sana, namun secara keilmuan sangat lemah. Perlu penelitian mendalam secara kuantitafi berapa santri yang serius belajar, berapa yang suka tidur dan berharap berkah. Lalu bagaimana kelak seteah lulus. Adab santri juga baik. Saking baiknya sampai proses belajar tidak maksimal karena peghormatan kepada guru yang berlebihan sampai tak tahu bagaimana dulu nabi dan sahabat berinteraksi.

Namun aku juga salah, mengundurkan diri tanpa membicarakannya lebih dulu kepada pihak sekolah. Yang baru mengetahui hanya Kiai dan teman-teman di majalah. Pihak madrasah belum tahu. Waktunya sepertinya sudah terlambat. Aku sudah terlanjur begini. Mau menyampaikan sungkan. Ini sikap tak baik. Aku harus berani, katakan apa adanya. Yang pasti hari ini aku adalah orang yang diam-diam mengatakan tidak kepada Kiai sebagaimana dulu para aktivis berani katakan tidak kepada Soekarno dan Suharto. Tapi saya akan dibilang mufarraqah dan tidak mendapat ridha lalu masuk neraka. Suatu saat nanti, mungkin saya akan menyesali tulisan ini. Wallahu a’lam wa ila Allahi turja’ul umur.

No comments:

Post a Comment