Malam
minggu kemarin saya merasa sedih. Ternyata redektur majalahku tak bisa menulis
news dengan baik. Menurutku tulisannya buruk sekali. Selama ini aku tak
memperhatikan tulisannya dalam news sebab dia sudah semester enam. Betapa aku
sangat khusnudhon padanya. Baik sangkaku beralasan. Selain karena sudah
semester enam, dia juga sudah lama ada di majalah. Jauh sebelum aku jadi
pimred.
Kualitas
tulisannya masih di bawah anak-anak jurnalis MBS Blitar yang masih SMP-SMA.
Dalam hal ini tulsian news. Aku belum tahu tulisan yang lain. Namun bagiku,
membuat berita adalah dasar dari jurnalistik. Jika sudah bisa membuat berita
yang bagus saya kira untuk membuat tulisan yang lain akan bisa lebih baik pula.
Aku sudah menegurnya malam itu juga. Pagi berikutnya dia kuberi penjelasan
kekuarangannya.
Masalah
ini adalah masalah mendasar selain masalah-masalah majalah lainnya. Majalah
yang dikelola asal-asalan karena sejak awak sudah salah, termasuk proses
penunjukan pimpinan umum dan pimred (aku). Akhirnya kesalahan itu merembet
kepada lainnya. Mulai dari masalah keuangan, distribusi dan lain sebagainya.
Melihat
hal demikian, aku jadi terpikir untuk mengundurkan diri saja, seperti Agus
Salim. Dia beberapa kali mengundurkan diri dari media yang dia kelola karena
bertentangan dengan prinsip. Kalau tidak demikian, yang ada hanya adalah
pikiran-pikiran buruk saja yang muncul. Walaupun sebenarnya memang buruk
sebagaimana pengelolaan pondok.
Aku tak
habis pikir kenapa pondok terus membangun dan membangun di saat kesejahteraan
guru jauh dari ideal. Akhirnya ada yang sepertiku, memilih untuk tak mengajar
atau beberapa guru lain yang nggerundel. Saya memilih tidak mengajar sebenarnya
karena malas saja. Malas mengajar murid yang sering tidur, malas melihat system
kacau balau yang dipertahankan. Tidur murid di kelas adalah akibat dari system
yang kacau balau itu.
Bangunan
semakin megah, kualitas semakin merosot. Pengasuh pondok dalam hal ini pernah
menyampaikan sekitar tujuh tahun lalu. Namun sama saja, tak ada perubahan. Yang
ada justru merosot walaupun perlombaan demi perlombaan bisa dimenangkan.
Nyatanya yang gagal banyak. Keluar pondok nasibnya entah bagaimana. Yang
berhasil yang sebagian kecil saja. Namun yang berhasil itu kemudian dianggap
karena barokah bukan karena usaha santri itu sendiri.
Tulisan
ini, bagi banyak orang barangkali dianggap suul adab. Biar saja dianggap suul
adab. Membicaraknnya pun sama saja tak aka nada hasilnya. Menyampaikan langsung
dalam forum pun juga takkan ada hasilnya dan pada akhirnya kalau tersamaikan
akan dianggap suul adab pula dan disingkirkan.
Ritus
ibadah memang baik di sana, namun secara keilmuan sangat lemah. Perlu
penelitian mendalam secara kuantitafi berapa santri yang serius belajar, berapa
yang suka tidur dan berharap berkah. Lalu bagaimana kelak seteah lulus. Adab
santri juga baik. Saking baiknya sampai proses belajar tidak maksimal karena
peghormatan kepada guru yang berlebihan sampai tak tahu bagaimana dulu nabi dan
sahabat berinteraksi.
Namun
aku juga salah, mengundurkan diri tanpa membicarakannya lebih dulu kepada pihak
sekolah. Yang baru mengetahui hanya Kiai dan teman-teman di majalah. Pihak
madrasah belum tahu. Waktunya sepertinya sudah terlambat. Aku sudah terlanjur
begini. Mau menyampaikan sungkan. Ini sikap tak baik. Aku harus berani, katakan
apa adanya. Yang pasti hari ini aku adalah orang yang diam-diam mengatakan
tidak kepada Kiai sebagaimana dulu para aktivis berani katakan tidak kepada
Soekarno dan Suharto. Tapi saya akan dibilang mufarraqah dan tidak mendapat
ridha lalu masuk neraka. Suatu saat nanti, mungkin saya akan menyesali tulisan
ini. Wallahu a’lam wa ila Allahi turja’ul umur.
No comments:
Post a Comment