Wednesday, January 12, 2011

SELASA, 11 JANUARI 2011

Mimpi. Tidur sore setelah membaca “Pak Beye dan politiknya”, mengantarkanku pada sebuah mimpi. Mimpi yang aneh. Ya, semua mimpi memang aneh. Dan yang paling aneh diantara semua mimpi adalah mimpi itu sendiri. Bagaimana seseorang bisa bermimpi adalah keanehan.
Dalam mimpi saya bertemu dengan Yusuf, Sogol, Irfan, Ali, Wasian, Anas dan teman-teman Kutub. “Sekarang Domisili dimana Li?” Saya sempat bertanya seperti itu pada Ali. Salah satu temanku yang sekarang ada di Yaman. Saya mengiranya sudah pulang dari Yaman. Ali pasti sekarang sudah sangat pandai dengan ilmu-ilmu islam salaf ala Yaman. Saya ingin diskusi tentang islam dengannya.
Saya juga bertemu teman-teman PD dalam mimpi. Anas, Mahzumi, Najih, si Bos dan lainnya. Mimpi yang sering saya alami. Dan di mimpi itu ada satu hal yang belum pernah saya alami. Bertemu Nia dan menggandeng tangannya. Dia berbaju Pink dan berjilbab Pink.
Masalah gandengan tangan, saya teringat dengan dua tahun yang lalu. Seorang perempuan yang biasanya saya panggil dengan “Dinda”. Sangat dekat, dalam sejarah hidup tak ada perempuan yang bisa sedekat itu dengan saya. Icha, Iin, Rois dan lainnya belum pernah melebihi kedekatan saya dengan Dinda.
Setelah saya memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengannya, saya tak lagi berhubungan dengan perempuan lain. Sampai sekarang saya belum pernah merasakan indahnya kebersamaan dengan perempuan.
Sebenarnya kalau teringat Dinda, saya merasa menyesal, kenapa saya begitu tega melepaskan perempuan sebaik dan seindah Dinda sehingga luka yang dirasakannya sangat perih. Dan akhirnya dia memutuskan untuk mengobati lukanya dengan mencari pengganti posisiku.
Itulah jalan hidup. Dengan memutuskannya, saya bisa lebih dewasa, lebih berani mengambil keputusan hidup, lebih terbuka dalam memahami sesuatu dan yang terpenting adalah lebih bebas dalam melangkah. Kehidupan yang dialami oleh dua insan yang sedang menjalin cinta cukup sempit. Sempit sekali. Tiap keputusan harus dengan pertimbangan kekasihnya. Sehingga kebebasannya terkadang drenggut oleh sang kekasih tanpa terasa.
Sekarang saya tahu kehidupan mahasiswa-mahasiswa di IAIN, setelah lama mataku ditutup oleh Dinda. Dia menutup mataku dengan rindu dan kecantikannya. Saya menutup pertemanan dengan wanita lain bahkan dengan teman sekelaspun. Saya jadi orang tertutup, jarang bicara dan acuh tak acuh.
Saya berharap, Dinda yang sekarang saya anggap telah tiada bisa berjalan di jalurnya. Menjadi wanita pemberani, tegas dan beranggung jawab. Terus terang saya masih saying dengan Dinda yang lalu saat masih hidup

3 comments:

  1. From Pak Beye and his politic goes to Dinda,,

    *tema postinganmu curcol (curhat colongan). gokil,, menggabungkan antara politik dan cinta,, dalam sebuah MIMPII.. haha.. :)berawal dari kebingungan meh kument apa ng postingan'e mas,, seng ono ng pikiranQ saiki yo iki..

    mas Mubit2.. Mobat Mabit, hahay.. :P

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. maksud dari curhat colongan itu apa...??

    ReplyDelete