SBY adalah pembohong, pemimpin para pembohong. Kalau tak mau jadi pembohong jangan mau dipimpin pembohong. Kalau SBY masih memimpin sampai 2014, maka selama itu juga saya jadi pembohong.
Itulah kesimpulan saya hari ini berdasarkan pengamatan setelah membaca kompas dan diskusi yang luar biasa tadi sore. Sebuah diskusi dadakan CDIS diisi pendiri CDIS, Mas Yudi Haryono. Dia kini sudah menjadi ‘teman’ para menteri bergelar Ph. D
Mas Yudi menyampaikan tentang Indonesia dilihat dari segi ekonomi. Sudut pandang yang saya sendiri kurang memperhatikannya. Di awal diskusi dia menyampaikan apa yang pernah dikatakan oleh M. Hatta saat menerima gelar doktor Honoris Causa dari UGM, tiga hari sebelum mengundurkan diri dari jabatan wakil presiden. Kata Hatta “Kita berhasil membangun Negara tapi gagal membangun kesejahteraan”. Sebuah ungkapan yang hingga sekarang masih relevan. Indonesia gagal menciptakan kesejahteraan.
Negara seperti post-colonial seperti Indonesia sering lupa dengan ekonomi. Yang lebih dipikirkan adalah pertumbuhan bukan pemerataan. Akibatnya apabila terjadi kekurangan pangan maka solusinya adalah hutang. Bukan berpikir bagaimana menciptakan sebuah langkah untuk meningkatkan panen petani. Inilah penyebab keterpurukan, penyebab hancurnya ekonomi Indonesia. Saya menyebutnya kebijakan yang tidak bijak.
Reformasi yang terjadi di Indonesia hanya diwarnai oleh pergantian aktor politik. Pemegang uang, yakni para aktor ekonomi masih tetap orang-orang itu saja. Padahal merekalah yang punya peran mensejahterakan orang banyak.
Saya anggap reformasi 1998 adalah reformasi yang gagal. Sampai sekarang, sudah dua belas tahun lamanya setelah reformasi, tingkat kemiskinan dan pengangguran selalu saja dalam kisaran antara 18 sampai dua puluh lima persen.
Saya baru sadar bahwa Indonesia pernah dipimpin oleh orang-orang hebat dengan berbagai karakter. Mulai dari raja Majapahit, raja Sriwijaya, Deandles, Raffles, pemerintah Jepang, Soekarno dan lainnya. SBY juga orang hebat. Jenderal pintar yang dapat peringkat pertama dalam strategi. Tapi ternyata selama jadi presiden dia tak bisa berbuat banyak untuk negeri ini. Malah suka bohong dan menutupi kebohongannya.
Barangkali apa yang saya ungkapkan kali ini terlalu tinggi. Dalam istilah lain saya lebay. Tapi memang inilah kegelisahanku. Saya masih bingung. Sebenarnya langkah apa yang yang seharusnya saya tempuh untuk menuju masa depan Indonesia yang diidam-idamkan orang tuaku, guru-guruku, kiaiku, tetanggaku, teman-temanku dan seluruh penduduk Indonesia. Saya ingin mencari langkah yang efektif. Untuk saat ini saya hanya bisa baca, diskusi dan menulis untuk diriku sendiri.
Saya masih belum bisa mengajak orang-orang sekitarku. Tiga belas orang yang sekamar denganku, hanya Adon dan Iqbal yang bisa diajak diskusi. Sayangnya sepertinnya Adon sekarang sering ke Solo menemui pacar barunya. Terlepas dari apa yang dilakukannya disana, pastinya konsentrasinya telah terbagi. Saya tak bisa mengajak teman-teman untuk punya visi yang sama denganku.
Namun yang sangat saya kecewakan adalah teman-temanku ini adalah peraih beasiswa santri berprestasi dari Departemen Agama, salah satu lembaga negara. Uangnya pasti dari masyarakat Indonesia. Mereka malah suka main game, berpacaran entah langsung atau melalui telpon dan sedikit sekali pedulinya untuk masa depan pemberi beasiswa. Tapi itulah mereka, mahasiswa yang sudah besar dan bisa berfikir dewasa.
Agaknya saya harus belajar ekonomi. Paling tidak, suatu saat saya bisa mengetahui ekonomi apa yang seharusnya diterapkan di Indonesia. Bukan seperti sekarang, ekonomi neoliberal yang menekankan pada tiga iman:
1.Iman pada pertumbuhan dan menomorduakan pemerataan,
2.Iman pada hutang
3.Iman pada privatisasi.
Saturday, January 15, 2011
Jumat, 14 JANUARI 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment