Sore ini aku tersungkur di pojok kamar sendirian mendengar untaian lagu-lagu sendu untuk menusuk-nusuk hatiku yang tak jelas. Akhirnya aku dan ribuan manusia lainnya bertemu dengan akhir tahun. Ada yang senang, sedih, rindu, menyesal dan tanpa ekspresi. Aku masuk yang terakhir, sebagai manusia biasa yang selalu biasa menghadapi apapun dan siapapun. Aku yang benci penghormatan pada orang lain secara berlebihan, benci pada suasana bising tak jelas, dan aku yang suka sendiri dalam ketidakpastian dunia.
Semua yang telah kualami beberapa hari terakhir hampir membuatku berubah menjadi laki-laki aneh yang berharap kasih sayang seorang wanita. Barangkali aku harus sangat membenci diriku yang punya sifat buruk seperti itu. Ingin punya pasangan lawan jenis dengan kriteria yang sedemikian rupa. Meskipun bisa saja aku disebut orang yang idealis dalam memilih wanita. Siapapun yang pernah kulihat, kuajak bicara dan kudekati adalah wanita-wanita yang tak jelas. Dari Husna, Nikmah, Nana dan puluhan wanita lain yang dulu pernah lewat sebentar di hatiku. Tapi masih saja aku ingin dekat dengannya. Kalau sudah bingung aku mengandalkan kelemahanku. Pemuda yang mudah lupa. Dengan kelemahan itu aku punya kelebihan. Karena lupa, akhirnya wanita-wanita itu hilang begitu saja.
Tahun 2010 akan segera lewat tanpa satupun kenangan indah. Kehidupan setahun bisa terasa lama, bisa terasa sebentar. Aku sendiri kadang merasa lama dan kadang merasa sebentar. Di tahun ini aku bergabung dengan HMI. di tahun ini pula aku masuk dalam jajaran pejabat HMI, meski di tingkat komisariat. Aku yang berubah tapi tak terasa karena perubahan itu berjalan sedikit demi sedikit. Dari aku yang dulu pernah mencoba jadi sufi, menjadi aku yang suka berfikir logis dan menjauh dari kehidupan sufi. Aku yang tak tahu politik menjadi aku yang peduli dengan politik. Aku yang anti organisasi menjadi aku yang mengkampanyekan organisasi. Inilah hidupku. Aku yang benci jabatan, sekarang ingin sekali jabatan. Namun apapun itu, aku berusaha bahwa perubahanku adalah proses menjadi manusia kamil. Manusia yang punya manfaat besar untuk Islam dan Republik Indonesia.
Di akhir tahun ini, aku punya banyak keinginan jangka panjang. Aku ingin membuat perpustakaan besar di kampungku. Ingin mempromosikan pemikiran-pemikiranku ke para santri. Entah pemikiran itu baik atau tidak. Dan yang terakhir aku ingin menjadi orang besar di negara ini dengan manfaat besar untuk Islam dan Indonesiaku. Untuk mewujudkan itu, aku berusaha mencontoh Gus Dur, tokoh idolaku. Dia adalah orang yang sangat rajin membaca. Aku ingin seperti itu meski aku merasa kesulitan memahami susunan kata-kata. I will not give up. Tak akan menyerah.
Kehidupanku di HMI, FLP dan CDIS akan kujadikan kendaraan untuk belajar. Belajar bicara, menulis, demokrasi, organisasi dan belajar menghadapi orang-orang yang plural. Karena HMI sekarang aku bisa kenal dengan orang seperti Pak Harun dosen Syariah, pak hakim ketua KPU, mas Ulul, pengusaha muda sukses dan semuanya yang bisa memberiku inspirasi untuk menghadapi masa depan. Karena FLP salah satu cerpenku akan masuk dalam buku, karena CDIS aku berusaha menjadi orang yang punya komitmen tinggi untuk kemajuan ilmu.
Di akhir tahun ini juga aku sudah mulai berani melepas identitasku. Aku adalah Islam. Bukan Muhammadiyah bukan NU, LDII dan lainnya. Aku adalah muslim bebas tanpa embel-embel. Aku ingin identitas ormas seperti itu tak lagi menjadi fanatik di kalangan umat islam di Indonesia bahkan di dunia. Perbedaan memang hal yang wajar, tapi jangan jadikan perbedaan menjadi pertikaian. Organisasi adalah sarana bukan pembenar atau yang paling benar. Aku lebih suka berjuang untuk islam yang lebih luas bukan untuk organisasi tertentu saja. Organisasi disini bukan seperti HMI karena HMI adalah organisasi pengkaderan. Aku ingin seperti Azyumardi Azra, Anis Baswedan, Nurcholis Madjid dan tokoh-tokoh islam lainnya. Mereka pejuang islam yang tak diembel-embeli oleh ormas meskipun aku sendiri yakin mereka lahir dari keluarga ormas-ormas itu.
Pada tahun ini, aku menemukan teori baru. Bahwasanya diantara orang yang beruntung adalah orang yang mati muda. Terkadang aku ingin seperti itu. Namun di satu sisi, aku masih ingin punya cita-cita (mungkin lebih tepatnya janji pada diriku sendiri) yang banyak. Di samping itu pula, aku sendiri terkadang bingung dengan dosa. Dosa individual dan dosa sosial. Dosa individual karena belum bisa kontrol diri dengan baik dan dosa sosial karena masih bergesekan dengan orang lain tanpa menyadari bahwa aku menyakiti mereka. Tapi sekali lagi, inilah hidup, tak perlu disesali.
Orang-orang yang sempat membaca tulisan-tulisanku, kumohon berilah nasihat untukku. Aku tahu aku ini orang tak jelas yang terkadang tertutup dan kadang terbuka. Aku ingin menjadi orang yang berani, orang yang hanya sangat takut pada Tuhan. Hanya pada Tuhan.
Saturday, January 1, 2011
JUM"AT, 31 DESEMBER 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment