Saturday, January 22, 2011

RABU, 19 JANUARI 2011

Semua orang yang akan saya temui akan berbicara sesuai dengan apa yang mereka alami. Bisa jadi dengan pengalamannya itu mereka merasa paling benar. Saya juga seringkali merasa lebih benar dari orang yang saya ajak bicara. Seharusnya saya tidak begitu. Saya harus rendah hati dan mengalah
Hari ini saya pulang ke Lamongan dengan kereta ekonomi. Saya mencoba menghindari melihat wajah orang-orang yang ada di stasiun dan kereta karena tak mau terbebani dengan pikiran-pikiran aneh tentang siapapun yang kulihat.
Sejak di kereta saya menutup telinga dengan hedset untuk mnghindari kebisingan gerbong yang saya naiki. Buku-buku dengan format pdf di hape telah menemani perjalanan ini.
Kereta hari ini kosong. Saya duduk berselanjar di kursi yang seharusnya untuk tiga orang. Di depan saya ada seorang bapak setengah baya tertidur. Terlihat sekali raut kelelahan di wajahnya.
Perjalanan kali ini cukup nyaman dibandingkan sebelumnya. Biasanya kalau nggak panas ya keretanya penuh yang memaksa saya berdiri. Langit yang redup menambah indahnya suasana. Duduk di samping kaca seraya melihat hamparan kehijauan sawah. Sesekali melewati sungai yang airnya tak jernih lagi. Memang itulah Indonesia. Selama ini saya belum pernah melihat sungai jernih di negara ini.
Salah satu daerah yang pasti saya lewati adalah Grobogan. Tiap kali melewatinya, di benak saya terbersit kata kata "Ini indonesia tahun berapa ya?" tekstur bangunan rumahnya benar benar seperti bangunan rumah di desa saya saat masih SD dulu. Benar-benar klasik dan khas jawa.
Sayangya perjalanan saya diganggu oleh perokok perokok tak tahu diri. Memangnya ampas asapnya bisa meningkatkan kecerdasan? Sungguh orang yang egois. Saya benci dengan asap rokok. Dalam hal yang ini saya setuju dengan fatwa MUI. Merokok haram di tempat umum. Masalahnya banyak yang dirugikan. Temasuk saya juga sering dirugikan. Selain baunya yang mengganggu pernafasan, asap rokok juga semakin lama akan merusak kesehatan. Menurut pakar kesehatan, perokok pasif lebih terancam kesehatannya dari perokok aktif. Kurang ajar.
Kereta terakhir berhenti di Bojonegoro pukul sebelas kurang. Setelah beli karcis kereta jurusan Surabaya saya istirahat sebentar di sebuah musholla kampong di dekat stasiun Bojonegoro, bukan musholla stasiun. Sambil menunggu kereta yang berangkat pukul 12:40, di musholla itu saya bisa mandi, jamaah dan tiduran disana.
Menjelang dhuhur seorang bapak dengan peci dan sarung mendekati saya berbasa basi. "Mau ke Surabaya mas?"
"Saya mau ke Babat pak" jawab saya.
"Dari mana?"
"Dari semarang"
"Kerja apa di Semarang?"
"Saya kuliah pak"
"Dimana?"
"IAIN"
"Jurusan apa?"
“Syariah pak".
Bapak itu lalu memukul bedug Musholla dan mengumandangkan azan. Dalam benak saya bertanya."Apakah saya tak pantas jadi mahasiswa, atau wajah saya tak memenuhi kriteria seorang mahasiswa sehingga beberapa kali ditanya kerja apa?" Entahlah.
Setelah sholat saya menuju stasiun. Kereta sudah siap. ada ibu-ibu tua jalan di samping saya. Saya langsung masuk kereta dan Alhamdulillah masih ada tempat kosong.
Seperti biasa pedagang asongan berjalan kesana kemari menjajakan dagangannya. Sempat pengemis perempuan lewat dengan menggendong anaknya. Saya enggan memberinya uang. saya kuatir kalu dia malah enjoy dengan pekerjaannya sebagai pengemis padahal kondisinya masih kuat. Namun begitulah kondisi di Indonesia yang sulit cari kerja.
Tak lama kemudian rombongan pengamen datang. Pengamen yang kompak berjumlah lebih dari lima orang. Seniman jalan yang unik dengan alat musik berjumlah empat. gitar, ketimpung, kencer dan tak tau apa apa nama alat yang satunya. Lagu yang dinyanyikan pun lagu berbahasa Jawa dengan lirik yang asing buat saya.
Setelah sholat Isya saya berjumpa degan Arif yang sedang duduk dengan Zani dan Keswanto. Rudi Jekur datang. Saya ngobrol sebentar dan akhirnya ikut dia ke pasar agrobis, sekedar ingin tahu suasananya dan ingin akrab dengan dia. Di agrobis arif beli jaket dan kaos di sebuah toko. entah Arif tak punya malu atau dia pemberani. Penjaga toko yang manis diganggunya dengan agak porno.
Sesudah itu saya, Arif, Zani, Keswanto dan Rudi berhenti di sebuah warung kopi yang dijaga dua perawan muda. Saya berpikir, "Ini pemberdayaan perempuan atau eksploitasi ya?" Arif tampak akrab dengan salah satu penjaganya.
Mungkin perawan muda itu lebih baik kerja seperti itu dari pada kerja jadi PSK atau pencuri. Saya yakin kondisi ekonomi yang merenggut waktunya untuk bisa belajar. usinya mungin di bawah saya. Tapi sudah bekerja cari uang sendiri. kembali lagi saya menyalahkan neoliberalnya pemerintah. Entah berapa kali aku menyalahkannya. Tadi sore juga bapak sempat mengeluh karena panen gagal. Seharusnya ini tak terjadi. Kalau sudah gagal panen, keuntungan sedikit, bahkan mungkin rugi. Selanjutnya kalau beras di negara ini kurang, maka pemerintah import beras dan beras petani indonesia tak laku. Akhirnya petani chaos. Sampai kapan kondisi ini berlanjut. Lalu bagaimana solusinya.apakah harus dengan menerapkan khilafah islamiyah seperti yang digencarkan penganut islam garis keras? Jangan.

No comments:

Post a Comment