Saturday, January 15, 2011

SELASA, 12 JANUARI 2011 (TENTANG TAN MALAKA)

Hidup dalam perantauan adalah kewajiban pemuda Minangkabau untuk memperbaiki nasibnya. Tak terkecuali Tan Malaka. Saat masih berusia 17 tahun, dia hijrah ke Belanda untuk melanjutkan studinya. Tentunya hal itu dilakukan setelah masa kanak-kanaknya sudah mendapatkan pendidikan islam dan pencak silat ala Minang. Itulah salah satu keunikan orang Minangkabau
Konon, Tan Malaka hafal al-quran. Agak sulit dipercaya tokoh aliran kiri sepertinya hafal quran, padahal dia sempat menyatakan “Dihadapan Tuhan saya seorang Muslim, tapi di hadapan manusia saya bukan muslim”. Terlepas dari apa yang menyebabkan dia mengucapkannya, bagi saya apa yang dilakukannya sangat berani.
Dalam keterangan buku “Tan Malaka bapak Republik Yang Terlupakan”, dijelaskan bahwa Tan pernah menawarkan pada konferensi komunis internasional agar komunis bisa bergabung dengan pan-islamisme. Alasannya, Islam punya tujuan yang sama dengan komunis untuk memberantas imperialis dan kapitalis yang meresahkan kaum proletar. Sayangnya masih banyak yang belum memahami Islam dengan benar sehingga argumennya ditolak.
Barangkali ketidakakuran antara komunis dan Islam adalah hasil hasutan kaum kapital yang takut posisinya terancam jika dua kekuatan tersebut bersatu memeranginya. Dalam hal ini tak ada sangkut pautnya dengan kepercayaan tapi ini terkait tujuan hidup.
Saya jadi teringat dengan Silahuddin yang sering membawa buku-buku sosialis di kelas. Saya yakin pemahamannya tentang sosialis lebih matang dariku. Saya harap suatu saat bisa diskusi dengannya.
Kembali pada Tan Malaka, pengalamannya menjelajah hampir separuh dunia dengan belasan nama samaran pada awal abad dua puluh sangat mengagumkan. Meskipun apa yang dilakukannya dianggap ‘melanggar hukum’ oleh kaum colonial. Perjalanannya dimulai dari Belanda, Jerman, Rusia, Hongkong, Jepang, China, Filipina, Singapura dan kembali ke Indonesia.
Saya ingin mendiskusikan Tan Malaka dalam forum-forum diskusi HMI atau CDIS. Perjuangan Tan Malaka cukup relevan dengan tujuan HMI. Saya berani mengatakannya karena Tan Malaka yang beraliran kiri masih setia dengan Islam. Tan Malaka memperjuangkan Islam sebagai agama pembebas kemiskinan, ketidakadilan dan ketimpangan sosial. Bisa jadi Teologi Pembebasnya Ali Asghar Enginer pada intinya sama dengan yang diinginkan Tan Malaka. Saya harap orang tulus, berani dan brilian sepertinya akan terus lahir dari bumi pertiwi. Tak harus dari tanah Minang. Salam Minang.

No comments:

Post a Comment