Tahun baru yang mungkin bisa dibilang agak kacau. Aku tak punya planning untuk bersenang-senang pada hari ini. Tahun baruku kuisi dengan pengukuran arah kiblat di dua Masjid. Masjid Miftahul Huda di kelurahan Purwoyoso dan masjid Al Falah di perumahan BPI. Kira-kira pukul sepuluh pagi, aku, Shofa Saddam, dan Fajar menuju masjid di Purwoyoso. Pengukuran yang cukup lama karena kesalahan teknis. Aku dan teman-teman tak tahu kalau baterai di Teodolit sudah low. Perhitungan yang seharusnya dilakukan pada pukul 10:31 diundur pada pukul 10:42. Terlambat sebelas menit. Pengukuran dengan teodolit harus tepat. Selain tepat waktu juga harus tepat bidikan. Harus benar-benar teliti.
Di masjid kedua Fajar tak lagi ikut. Mungkin dia malas atau sebenarnya dia hanya butuh nilai. Maka, dengan pengukuran satu masjid kewajibannya sudah gugur. Memang pengukuran tadi untuk ujian akhir semester mata kuliah Perangkat Rukyat. Tapi aku sendiri lebih suka menganggap itu sebagai pemuasan diri. Aku suka mengukur kiblat karena ada perasaan puas setelah berhasil mengukur.
Masjid kedua di BPI. Untuk menuju kesana kami naik bis. Sesuai dengan intruksi temanku (penjaga masjid) aku bertanya pada satpam. Ternyata lokasinya jauh dari pos satpam. Untungnya satpamnya baik hati. Ketika ada mobil bak lewat, aku disuruh numpang karena lokasinya jauh. Kulihat penumpang mobil bak adalah keluarga yang selesai menikmati liburan tahun baru. Di atas bakna ada empat anak kecil. Tiga cewek satu cowok. Aku kagum sekali pada tiga cewek kecil itu. Masih kecil sudah terlihat anggun dan cantik sekali. Aku teringat pada masa kecilku yang pernah naksir Indah yang dulu sangat cantik. Jauh lebih cantik dari sekarang.
Di masjid aku bertemu dengan Fauzin. Dia temanku di HMI dan CDIS. Sungguh luar biasa profesinya. Mahasiswa yang meluangkan waktunya untuk menjaga masjid. Aku punya beberapa teman yang punya profesi seperti itu. Sebagai penjaga masjid atau Musholla. Biasanya mereka harus adzan dan membersihkan masjid yang dijaga. Hanya dengan begitu mereka bisa mendapatkan fasilitas ruangan (lebih tepatnya kamar). Kos-kosan di kota Semarang tak ada yang gratis. Malah,ada juga yang dapat fasilitas komputer, kompor dan lainnya. Tergantung kebijakan takmir masjid. Kadang juga si penjaga harus mengajar TPQ yang ada di masjid atau Musholla.
Malam hari aku agak kalut. Karena baju kotorku belum kucuci dan sudah lama kurendam. Aku juga belum mandi. Untuk melakukan kedua aktifitas wajib itu aku harus memaksa diri. Seusai nyuci dan mandi aku sholat dan bingung mau melakukan aktifitas apa. Akhirnya kuputuskan untu bermain PES. Game favoritku.
Sungguh unlucky cucian yang baru saja kujemur diguyur hujan dan terkena angin. Mudah-mudahan dengan hujan ini pakaian semakin bersih dan tak jatuh karena angin. Sampai aku menulis, hujan tak kunjung reda malah tadi sempat mati lampu. Si Rohman mengumpat-umpat karena laptopnya mati ketika asyik nonton film. Alhamdulillah jam dua belas lampu kembali nyala. Kini lampu mati lagi dan kurasakan perutku lapar. Belum makan malam.
Saturday, January 1, 2011
SABTU 1 JANUARI 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment