Wednesday, January 12, 2011

MINGGU, 9 JANUARI 2011

Setelah hidup lebih dari dua puluh tahun, akhirnya saya menemukan hal-hal yang bisa membuat saya senang hingga lupa waktu. Diantaranya adalah nonton acara di televisi, main game dan baca buku. Untuk minggu-minggu terakhir ini sepertinya saya banyak dibahagiakan oleh buku. Tiap kali bangun tidur dan tiap kali ada waktu longgar rasanya saya ingin terus membaca dan membaca. Kebetulan hari Jumat kemarin aku beli Empat buku baru dan semuanya sangat menarik dan berharga mahal. Keempat buku itu punya tema besar yang berbeda. Politik, islam progresif, budaya dan sejarah. Empat tema yang saya anggap bisa mempersiapkan diri dalam menghadapi masa depan.
Saya juga merasa bahagia karena bisa membeli handphone baru. Selain untuk mempermudah komunikasi, handphone baru ini juga selalu menemaniku saat ku baca buku. Alunan musik yang sendu menghindari kebisingan tak jelas di sekitar saya. Saya harap kondisi ini bisa bertahan lama kalau bisa sampai nyawaku tercabut.
Membaca adalah salah satu bentuk konsekwensi logis sebagai seorang makhluk yang diberi akal. Apalagi kalau dilihat dari sudut pandang orang islam, membaca adalah perintah pertama Tuhan. Selain itu, belajar merupakan suatu kewajiban yang harus dilaksanakan seorang muslim. Sayangnya sejauh yang saya amati, umat islam lebih suka melakukan ibadah sunnah seperti berzikir dengan waktu yang lama. Bukannya saya membenci aktifitas positif itu, namun bukannya kewajiban seharusnya dilakukan dahulu sebelum melakukan perbuatan yang hanya anjuran?
Saya lebih suka menganggap aktifitas membaca sebagai konsekwensi logis sebagai manusia dari pada hanya untuk menggugurkan kewajiban. Dengan kata lain saya melakukannya atas dasar kesadaran sebagai manusia. Seharusnya untuk semua aktifitas dilakukan degan kesadaran juga tak hanya dalam membaca.
Siapapun punya motivasi tersendiri untuk beramal. Namun motivasi itu ada kalanya karena hal-hal yang negatif. Itulah manusia, makhluk tersempurna yang punya potensi positif dan negatif. Tergantung mana yang kuat. Perbuatan baik bisa jadi buruk begitu pula sebalinya. Teregantung atas dasar apa suatu perbuatan dilakukan.
Tadi malam kuhadiri acara pelantikan Kamapala Semarang di salah satu gedung Taman Budaya Raden Saleh. Acaranya cukup megah namun tamu undangan tak memenuhi kursinya. Setting acara dibuat seperti acara Jakarta Lawyers club di Tv One. Agaknya pelantikan HMI Korkom Walisongo kemarin lebih ramai dari pada Kamapala Semarang meskipun konsumsi pelantikan HMI lebih sederhana.
Kebanyakan tamu undangan pelantikan tadi malam adalah tamu undangan non warga Lampung. Kulihat beberapa kader PMII dan HMI banyak hadir. Beberapa mahasiswa Falak juga hadir. Banyak juga mahasiswa falak berasal dari Lampung. Ketua umum Kamapala Semarang periode selanjutnya adalah aktifis senior PMII. Mas Hamdani.
Saya prediksi kemegahan pelantikan tadi malam tak bisa diimbangi dengan kerja pengurus Kamapala. Saya menjamin kegiatan Korkom HMI periode Sekarang akan lebih banyak agenda. Entah benar atau tidak. Ini adalah sebuah prediksi, melihat ketua korkom sekarang dipegang Mas Azka.
Setelah menghadiri pelantikan saya sempatkan untuk nonton wayang orang di gedung utama. Di gedung itu juga saya pernah lihat wayang kulit dan Ketoprak.
Untuk kesekian kalinya saya merasa prihatin dengan kesenian Jawa. Para pemain gamelan adalah generasi tua, bahkan sudah sangat tua. Saya khawatir kalau tak ada penggantinya kesenian seperti wayang orang, wayang kulit, musik gamelan yang khas akan hilang. Hanya sebagan kecil orang yang mampu memperhatikan kesenian tradisional itu. Pemuda-pemuda seusiaku lebih suka nonton film di bioskop dan musik-musik bertema cinta dan hura-hura.
Semua orang pasti tahu bahwa tradisi kesenian jawa seperti wayang kulit, gamelan, wayang orang, wayang golek dan sebagainya adalah sebagian dari kekayaan budaya Indonesia. Namn demikian, untuk masalah kelestarian hanya sedikit yang mau memperhatikan. Mungkin pemerintah sendiri tak mau tahu dengan kesenian tersebut. Baru kalau Malaysia membajak kesenian tadi, banyak yang marah tak terima. Itulah mental orang Indonesia.
Walisongo penyebar agama Islam di pulau Jawa saja menggunakan tradisi jawa sebagai sarana untuk berdakwah. Saya kira sampai sekarang pun masih ada yang menggunakan kesenian tradisional itu untuk dakwah. Seperti beberapa waktu yang lalu saat saya melihat wayang kulit. Dalangnya cukup hebat. Bayangkan saja seorang dalang bisa mempertontonkan wayang di luar negeri dengan bahasa asing. Bahkan sang dalang waktu itu bilang bahwa wayang yang ditampilkannya adalah wayang santri. Dalang yang mengaku asal Tegal itu katanya pernah diundang di Belanda untuk mempentaskan wayang kulit. Sungguh luar biasa. Apalagi kalau dalangnya up to date, biasanya akan memasukkan kritikan-kritikan menggelitik terhadap pemerintahan.
Akankah budaya itu akan bertahan lama di Indonesia? Saya berharap para dalang melakukan regenerasi dan membuat inovasi-inovasi agar cerita pewayangan semakin dinikmati banyak orang. Tak hanya dari kalangan menengah ke bawah. Tapi semua kalangan penduduk Indonesia. Hidup dalang.

No comments:

Post a Comment