Ada apa dengan ketidakpastian?
Kenapa harus saya pikirkan?
Siapa sebenarnya wanita
Saya adalah orang yang paling tidak sukses dipikat cinta, asmara dan luka.
Wanita tukang protes bernama Nana itu tak berhasil saya jadikan obyek agar saya bisa jatuh cinta padanya. Sebenarnya apa yang bisa membuat saya tertarik untuk mencintai wanita? Cantik kah? Anggun kanh? Indaha matanya, manis wajahnya atau tubuhnya yang seksi? Kenapa saya tak bisa dipengaruhi oleh keindahan-keindahan seperti itu?
Lebih baik saya menganggap wanita sebagai kakak atau adik saja. Atau harusnya saya menganggap wanita adalah seorang saudara yang belum menyadari benar statusnya sebagai salah satu bagian dari makhluk sosial. Faktanya, wanita lebih termarjinalkan. Meski sekarang banyak yang menganggap kondisi ini sebagai bentuk rencana Tuhan, saya takut dengan posisi wanita yang marginal membuat kehidupan ini tak seimbang.
Saya teringat film Perempuan Punya Cerita yang menggambarkan eksploitasi wanita dalam berbagai bentuk. Seringkali sikap laki-laki beralibi dengan cinta, setia, bukti kasih sayang dan alasan-alasan lain yang memuakkan.
Sampai kapan kondisi itu bertahan. Kapankah wanita bangkit dan sadar terhadap posisinya. Haruskah menunggu pria tak bernafsu menyadarkannya?
Semalam saya menghadiri acara pelantikan pengurus HMI Korkom Walisongo setelah habiskan waktu dengan Nana di toko buku di Gramedia dan nonton film Dalam Mihrab Cinta di 21 Citra Land. Jumat yang berwarna.
Untuk tingkat Korkom, pelantikan HMI semalam cukup megah. Dengan lokasi di lokasi Balai Kota Semarang dan dihadiri oleh Prof. Laode Kamaluddin, Kahmi yang juga rektor Unissula. Pada intinya, apa yang disampaikannya sama dengan Anis Baswedan bulan Nopember lalu di sela-sela Kongres HMI ke 28 di Depok. Kedua tokoh yang saya itu merasa khawatir dengan kader-kader HMI. Apakah siap menghadapi masa depan? Aku sendiri meragukannya. Generasi HMI sekarang adalah generasi pembolos kuliah, mendahulukan teman seideologi (pilih-pilih teman), tapi mereka berteriak melawan korupsi, menuntut keadilan dan kadang-kadang bertindak anarkis. Penilaian saya hanya sekedar melihat kader-kader di sekitar Semarang saja. Saya berharap ini tidak terjadi pada kader HMI lain.
Tapi apabila membandingkan kader HMI dengan mahasiswa tolol dan konyol, saya lebih memihak HMI. Perhatikan saja Mahasiswa yang bangga dengan jeprat-jepret foto dengan gaya-gaya narsis, mahasiswa yang sibuk dengan pacarnya. Mahasiswa seperti ini malah lebih memprihatinkan. Sebenarnya saya sendiri tak terlalu mempermasalahkan asal mereka juga sadar dengan statusnya sebagai generasi baru, terpilih dan tercerahkan.
Keadaan mahasiswa yang mudah dibungkam mulutnya dengan uang jumlahnya semakin meningkat. Orang-orang kritis sudah mulai berkurang. Banyak yang sudah merasa berada di titik aman dan nyaman dengan status dan aktifitasnya. Mereka tak mampu melawan para politikus yang semakin gila saja. Baru tahun 2011 sudah mempersiapkan pemilu 2014. Tujuan Negara terabaikan. Para kader partai yang sekarang jadi pejabat Negara ibarat berpoligami. Istrinya adalah program kerja partai dan program Negara.
Mahasiswa yang seharusnya mengontrol mereka saya lihat sedang asyik di taman-taman Tugu Muda. Berpose di depan Lawang Sewu dengan gaya generasi abad 21. Istilahnya narsis dan Lebay.
Wednesday, January 12, 2011
SABTU, 8 JANUARI 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment