Friday, January 21, 2011

MINGGU, 16 JANUARI 2011

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Kuasa Lagi Maha Penyayang. Saya hari ini hanya bisa terpuruk di kamar dengan ditemani buku “Api Islam Nurcholis Madjid” dan hape baru. Tak ada kegiatan pasti dan hanya ingin mengkhatamkan buku Api Islam dan memperkaya bacaan.
Ofi tadi sms dan minta saya membantunya belajar falak untuk persiapan ujiannya besok. Dia kesulitan menghitung waktu sholat. Saya sendiri belum menerima mata kuliah perhitungan waktu sholat. Tapi saya yakin bisa karena pernah belajar waktu pelatihan dan dulu juga pernah diajari pak Khumaidi waktu kelas Tiga Aliyah.
Tadi pagi jam setengah enam Iskandar sms saya. Dia memberi kabar kematian Muallif Rosyidi. Ketua Osis Aliyah pondok dulu. Ternyata sosok unik itu jadi salah satu orang yang beruntung. Mati muda. Istirahatlah kawanku. Tunggu kawanmu ini.
Kenangan tentangnya teringat jelas. Saat dia mengunci saya di ruang Osis yg sempit dari luar gara-gara bermain komputer di dalamnya tanpa izin darinya, ketika dulu sama-sama nekat ikut olimpiade Matematika di Universitas Muhammadiyah Gresik dan kenangan lainnya.
Muallif sama dengan saya, santri baru dari sekolah asal yang ilmu eksaknya lebih maju dari pada agama. Dia cerdas, konyol dan PD bukan main. Beberapa kali dia mengocok perut orang orang se-Mambaus Sholihin lewat aksinya di panggung.
Saya mulai mengenal Muallif saat debat calon ketua Osis. Dia calon dari MAU jurusan IPA. sedangkan saya mewakili Anas, kandidat MAK yang tak bisa hadir karena harus ke Blitar. Perkenalan yang dimulai dari adu argumen dalam perpolitikan osis itu selanjutnya menjadi satu tim koalisi pengurus Osis MA Mambaus Sholihin.
Muallif mendapat suara terbanyak disusul Fahri dan Anas. Diantara para calon Muallif adalah satu-satunya calon yang masuk dalam kategori santri baru. Luar biasa perannya. dalam waktu kurang dari dua tahun mampu membangun citra di hadapan santri MAU yang jumlahnya ratusan. Kalau tidak karena kecerdasan dan kesupelannya tak mungkin dia bisa menang. Fahri yang notabene santri lama dan cukup punya nama, dikalahkan oleh Muallif Rosyidi, pemuda jangkung dan cungkring asal Pekalongan itu. Salut buatmu kawan.
Saya teringat waktu awal kuliah di Semarang, Muallif pernah mengatakan keinginannya untuk kuliah di Semarang juga. seingat saya ia ingin cari jurusan akutansi. Saya cukup senang mendengar kabar itu, namun ketika sudah waktunya tahun ajaran baru, dia tak kunjung ada kabar. Nomer hpnya juga hilang. Biasanya saya sms dia kalau ada info beasiswa. Hampir setahun sudah, Iskandar salah satu alumni Mambaus Sholihin yang sekampus denganku bercerita tentang kesuksesan Muallif menjadi dai terkenal di daerahnya. Saat cukup senang mendengar kabar itu. sejak di pondok dia memang sudah menunjukkan bakatnya dalam berceramah dengan guyonan ringan.
Selang beberapa bulan terdengar informasi kalau dia sakit. Saya juga kurang tahu sakit apa dia. Kabarnya sakit berat. Sepertinya sakit paru paru. Dulu dia sering tak tidur malam. entah belajar di gedung sekolah, diskusi dengan Ali Akbar dan lainnya. Dia jarang tidur malam. tapi kurang tahu apa sakitnya yang pasti.
Kabar tadi pagi cukup mengejutkan. Dia sudah mendahului teman-teman ke surga. Insya Allah

No comments:

Post a Comment