Saturday, January 8, 2011

MINGGU, 2 JANUARI 2011

Malam ini hatiku diterkam kecemasan yang mencekam. Rasanya aku merasa bersalah pada diriku sendiri karena tak bisa memaksimalkan waktu untuk hal-hal yang bermanfaat di tengah tugas menumpuk dan menghadapi ujian esok.
Ketika kewajiban tak bisa kulaksanakan dengan baik rasanya ada anak panah yang menancap di hatiku dan mempengaruhi pikiranku. Keterpurukan ini semakin menjadi ketika tawaku tak terkendali setelah Dayat datang. Memang benar kata orang “Tawa memperkeras hati. Andaikan saja semua ini tak kutulis, mungkin aku bertambah parah. Tulisan ini sedikit mengobati kegelisahanku.
Tugas mata kuliah Hisab Gerhana Bulan tak kuselesaikan dengan baik. Secara instan, ku copy tugas temanku. Waktu yang singkat dan tugas yang banyak membuatku semakin malas menatap lembaran Syamsul Hilal dan Hisab Kontemporer. Benarkah yang kulakukan? Apakah tindakan seperti ini sah dilakukan oleh mahasiswa santri berprestasi sepertiku? Secara pragmatis subyektif hal ini dibenarkan. Aku sudah bisa menghitung gerhana bulan dengan kedua metode itu. Aku tak perlu susah-susah menulis delapan belas lembar lagi.
Aku sadar niatku mengerjakan tugas diborgol oleh kemalasan. Apalagi tingkah dosen yang seenaknya sendiri itu. Pindah jadwal kuliah, tak datang sesuai jadwal dan cara mengajarnya yang primitif. Aku tak bisa segan dengan orang semacam itu.
Buku “zikir dan sufi” telah menamparku. Menamparku yang malas berzikir, istighfar dan ibadah sunnah lainnya. Aku yang selalu merasa benar dengan apa saja yang kulakukan tanpa takut salah maupun dosa. Tindakan-tindakan ceroboh yang semakin memperkeruh hatiku bisa kulakukan secara istiqomah. Di satu sisi aku masih mengharap ampunan Tuhan. Bodohnya diriku.

No comments:

Post a Comment