Sunday, May 29, 2011

SELASA, 17 MEI 2011

Sekali lagi saya harus mengatakan dalam melakukan apapun harus ikhlas, pasrah pada Gusti Allah, tak terkecuali dalam ber-HMI. Semua proses yang ada di HMI harus dilakukan semurni mungkin demi ibadah sosial bukan kepentingan individual.
Kita harus bisa bebas dalam berpikir dan berjuang dalam HMI. Jangan mau dijajah oleh pragmatisme yang menjijikkan. Kalau sampai kita terintimidasi, saya yakin efek buruknya kembali pada diri sendiri. Ingat bahwa tujuan utama di HMI adalah murni lillahi ta'ala bukan karena apapun, apalagi uang. Saya sadari semua orang butuh uang tapi jangan gunakan HMI untuk mencari uang. Kalau bisa HMI adalah wadah untuk bersedekah.
Saya tak berpikir ternyata ada beberapa kader yang memanfaatkan HMI untuk menunjang karirnya di masa depan hingga mereka rela melakukan eksploitasi tak bertanggung jawab. Semoga saya dijauhkan Allah dari hal-hal demikian.
Dari dulu, masalah harta dan tahta mampu kukendalikan. Tapi saya juga harus sadari bahwa wanita masih sulit dikendalikan. Saya masih sering terbawa perasaan jika menghadapi wanita. Wanita mampu membuatku membuang waktu dan kesempatan untuk mengembangkan diri sendiri. Bagaimanapun, itu tidak masalah asal saya tidak terjatuh dalam jurang pragmatisme kewanitaan. Kalau sampai aku terjerat kesana, betapa hinanya diriku.
Sebentar lagi Rapat Anggota Komisariat HMI akan segera dilaksanakan. Beberapa teman menyarankanku untuk maju menjadi ketua umum. Tidak cukup hanya menyarankan, ada juga yang terkesan memaksaku untuk mencalonkan diri. Saya hanya bisa mengelak dengan mengatakan "maaf untuk sekarang saya tak bersedia, biarkan waktu yang berjalan mungkin saja aku berubah pikiran". Ya, hanya itu yang bisa kujawab.
Kalau memandang ke depan, saya kasihan dengan komisariat syariah jika dipegang oleh orang yang tak berkompeten, dan saya ingin menyelamatkannya. Tapi aku masih ragu apakah aku mampu menjadi ketua komisariat yang tantangannya lebih berat dari pada jadi presiden?
Di tengah kemelut hidup ber-HMI, kurasakan bahwa aku membutuhkan ada penenang hati. Selama ini aku butuh lirik-lirik yang bisa menangiskanku agar hati ini tenang kembali tanpa harus ada seorang wanita di sampingku. Sepertinya aku sudah puas cinta pada bayangan.
Agaknya kualitas intelektual diabaikan oleh banyak aktifis HMI. Keinginan mereka untuk membaca sedikit sekali. Aku merasa bingung ketika ingin berdiskusi tentang kajian-kajian sosial, politik, Islam, hukum dan lainnya.
Setelah ikut rapat persiapan aksi teatrikal yang akan dilakukan hari kamis besok, mas Sholihin sempat bilang."Mahasiswa falak kok sepertinya tak ada kepentingan ya. Murni berjuang".
"Seharusnya memang seperti itu" batinku. Aku semakin ragu dengan orang-orang yang ada di HMI, beberapa dari mereka adalah penganut berhala pragmatisme yang harus kujauhi. Mereka sulit bisa bisa ikhlas dalam berjuang.

No comments:

Post a Comment