Rumahku yang jauh. Bapakku yang semakin tua. Emakku yang makin lemah. Maafkan anakmu ini. Hanya pandai berwacana tapi tak mampu membantumu secara nyata.
Seringkali aku tak menyadari diriku sendiri. Anak orang tak punya yang hanya mampu menyusahkan saja. Betapa kurangnya aku membantu kalian karena aku sendiri terkadang kesulitan membiayai hidup. Dalam kondisi seperti ini aku masih sering melakukan hal-hal yang di luar batas. Pikiran-pikiranku yang liar tak bisa kubendung sendiri. Pantaskah aku menggugat Tuhan atas kesusahan kedua orang tuaku. Tidak. Allah yang kuta'ati dan kutakuti serta kudekati.
Adikku yang tertua, Zainul, dia sudah dewasa, baik fisik maupun pikirannya. Dia mulai memikirkan kesusahan orang tuaku di rumah. Berbeda sekali dengan teman-teman seusianya. Sekolahpun tidak. Sedang adikku rajin ke sekolah meski kualitas berpikirnya tidak terlalu pintar. Dia mampu membaca pikiran kedua orangtuaku. Bahkan memikirkan cara untuk membantu mereka.
Kekuatan doa yang kuberikan setiap hari masih belum mampu menjawab semua persoalan hidup yang dihadapai kedua orang tuaku. Apa karena aku kurang ikhlas atau kurang khusyu mendoakan mereka? Mungkin juga.
Masalahku bertambah lagi. Aku juga harus memikirkan cara untuk mewujudkan keinginan bapak dan emakku. Untuk hidup saja mereka masih kesulitan apalagi untuk membiayai adik-adikku dan mewujudkan niatnya. Haji di tanah suci. Petani miskin semacam bapakku punya keinginan seperti itu. Hebat sekali bukan?
Wednesday, May 11, 2011
JUMAT, 5 MEI 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment