Pengalaman menjadi demonstran cukup asyik. Berdemo dengan aksi teatrikal bersama aktifis-aktifis HMI Semarang. Aku mendapatkan bagian memerankan MK yang lehernya dijerat oleh SBY. Pertanda MK masih dientervensi presiden.
Pilihan yang cukup baik sebab beberapa kali aku mengatakan dengan agak guyonan pada teman-teman kalau aku ingin menjadi ketua MK menggantikan pak Mahfudz MD. Senior HMI yang dikagumi oleh bapakku. Ya, meski aku tadi hanya diam saja sambil berkalungkan karton bertuliskan MK. Hal itu cukup representatif bagi para wartawan, polisi dan masyarakat yang melihatnya.
Awalnya demonstrasi berjalan lancar-lancar saja. Teman-teman gantian berorasi menyampaikan aspirasi. Aku masih belum berani berorasi apalagi hari ini aku diterjang penyakit “malas bicara” gara-gara ada beberapa hal menjadi beban pikiran. Benturan kepentingan pragmatis para “pemain”, idealismeku, keegoisanku, buku-buku yang terbengkalai dan terakhir persoalan wanita. Ya, masalah-masalah itu secara giliran mengganggu stabilitas berpikir di otakku. Aku sudah tak tahu lagi bagaimana aku menanggulinya. Hanya bisa diam dan ber sms dengan Zenita, gadis yang baru saja kukenal lewat hp.
Aksi berakhir ricuh gara-gara salah satu teman kita yang berjiwa emosional terprovokasi dan tak terkontrol. Akhirnya beberapa polisi memukulinya. Saat kejadian aku ada di sana, hanya saja otakku sedang berlari entah kemana. Jadi aku tak terlalu takut dengan kejadian itu. Sekalipun kulihat mas Sholihin terbaring dan diinjak-injak polisi.
Beberapa jam kemudian beberapa media massa massa meliput aksi kami. Dari sekian berita, aku hanya suka yang diberitakan oleh Kompas. Obyektif dan menyampaikan aspirasi kami. Detik.com dan vivanews malah menyoroti kericuhan kami saja. Tidak pada subtansinya.
Dari pemberitaan itu aku tahu bahwa beberapa wartawan memang tidak bertanggung jwab. Memberitakan apa yang seharusnya tak diberitakan. Data-datanya salah seperti menulis nama dan kejadian tak sesuai dengan kenyataan. Dan aku bisa menyimpulkan kalau wartawan tak bisa dipercaya seratus persen.
Polisi muda yang “kurang ajar” juga perlu dikritik. Mereka seperti anak-anak TK. Berseragam, berdiri, diam tak mau bicara. Malah suka dengan bangga memukuli aktifis yang murni atas nama keadilan menyampaikan aspirasi. Terlihat dengan jelas kalau anggota dewan di gedung DPR tak mau menerima aspirasi kita dengan mempersiapkan polisi untuk menghadang kami. Sebetulnya itu adalah langkah mereka untuk membungkam mulut kami.
Praktek korupsi dibiarkan saja malah memukuli pengkritik koruptor. Aku sempat mendengar salah satu polisi bilang “wani piro?” saat kami ingin masuk ke gedung dewan. Entah dengan nada guyon atau tidak. Hal itu sudah mencerminkan kesehariannya menerima suap. Pantas masuk neraka.
Setelah mengetahui tingkah polisi-polisi itu, aku sms adikku. Kutanyai dia. Mau jadi polisi atau TNI. Alhamdulillah milih TNI. Jika jadi polisi, mungkin dia akan menghadangku saat aku melakukan aksi. Bisa perang saudara.
Itulah protret Indonesia. Aku masih bingung dengan cara apa untuk ikut andil bergerak memperbaiki negara ini dari segi apapun. Diam adalah tidak bertanggung jawab. Aku tak mau diam. Agaknya kanjeng nabi Muhammad juga aktifis yang tak pernah menyerah menyuarakan kebenaran. Bukan orang apatis tanpa suara dan hidup leha-leha di kursi empuk atau tiduran di kamar sambil smsan, telpon-telponan. Seperti yang dilakukan oleh kebanyakan mahasiswa saat ini.
Ironis sekali bukan. Dari ratusan ribu mahasiswa di Indonesia, hanya segelintir saja yang mau memperhatikan kondisi sosialnya. Mereka asyik pacaran, menghabiskan uang orang tuanya. Tapi bagaimanapun, itu adalah pilihan yang tak bisa disalahkan. Biarkan saja mereka memilih jalan hidupnya. Kita tunggu saja mereka nanti seperti apa di masa depan.
Sunday, May 29, 2011
KAMIS, 19 MEI 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment