Sunday, May 29, 2011

RABU, 25 MEI 2011

Tadi malam CDIS mengadakan diskusi tentang Asghar Ali Enginer, Teologi Pembebasan. Pada waktu yang sama, di audit kampus 3, teater mimbar mengadakan acara konser.
Sorenya, aku mengikuti rapat persiapan raker Ikajatim. Kulihat beberapa "seniman" mulai mendatangi audit. Sedang rapat Ikajatim harus ditunda karena pesertanya datang terlambat. Melihat itu, aku bisa mengambil kesimpulan yang sangat subyektif. Mahasiswa lebih suka agenda foya-foya dari pada diskusi atau rapat. Seringkali mahasiswa datang terlambat dalam agenda rapat dan diskusi. Namun acara konser didatangi lebih lama sebelum dimulai.
Sore ini aku tidak dapat berada dalam diriku. Rasanya aku berada di alam bayangan yang tidak jelas keberadaannya. Penyebabnya tidak lain karena akibat dari ketidakpatutan kelakuanku sehingga ingin sekali aku terus berucap istighfar tidak yang lain.
Diskusi CDIS yang seharusnya aku bisa mengatakan banyak hal malah tidak bisa kulakukan meski posisiku sebagai moderator.
Ingin saatnya bersimpuh, tadzarru' dihadapan Allah tanpa ada siapapun yang tahu.
Di saat aku menjadi moderator "tak bertanggung jawab", kubuka fb faroalinnasi darosati. Kulihat statusnya bahwa dia tervonis. Entah vonis apa itu. Hanya saja aku bisa berspekulasi berdasarkan premis-premis yang pernah kujumpai sebelumnya. Premis pertama, pertanyaannya sewaktu di bis terkait penyakit kanker otak. Karena aku suka berspekulasi, kutanyai dia apakah sedang terkena penyakit itu. Tapi dia mengelak.
Premis kedua tentang statusnya tadi sore. Bahwa dirinya sedang "tervonis". Entah vonis apa itu.Tapi jika kuhubungkan, sepertinya ada keterkaitannya antara status dan pertanyaannya kemarin. Apalagi sebelumnya dia kirim pesan singkat tidak bisa mengikuti diskusi CDIS karena sedang di rumah sakit.
Aku juga ingat beberapa kali dia mengeluh pusing saat sedang denganku. Kukira pusingnya biasa saja. Aku tidak pernah puas dengan jawaban-jawabannya. Kucoba tanya Icha, sahabatku yang kuliah di fakultas kedokteran Surabaya. Katanya, gejala-gejalanya adalah sering pusing dan sakit kepala. Agaknya kemungkinan kebenaran spekulasiku bisa mencapai tujuh puluh lima persen. Agar menjadi kebenaran yang pasti, aku harus mengklarifikasi pada faroalinnasi. Sampai sekarang aku masih memikirkannya, sebab sampai sekarang dia tak menjawab pesan singkatku. Entah apa yang sedang dilakukannya, mungkin sedang kesakitan. Semoga kau disembuhkan Allah Fe. Aku sedang berspekulasi tentang "vonis" itu.
Sampai malam aku masih tetap memikirkannya sambil mendengar lagu-lagu sendu yang sesuai dengan kondisi hatiku. Aku juga masih mencoba mengingat-ingat senyumnya saat "berduet" menyanyikan lagu pada acara training, membayangkan wajah ceria yang selalu ingin tahu, tentang dia yang tadi siang ingin kutemani makan dan terakhir kumenjumpainya saat aku pulang kuliah. Ketika kulihat faroa mendekatiku dan tersenyum padaku. Sempat berbincang sebentar dan berpisah lagi karena kekurangpercayaan diri bicara dengannya di hadapan mahasiswa-mahasiswa lain.
Karena aku masih memikirkannya, rauk mukaku terlihat seperti orang yang menahan beban yang berat di atas kepala. Kira-kira begitu yang diungkapkan salah satu temanku. Benar apa yang dikatakannya tapi aku mencoba berapologi untuk menghindari dia bertanya lebih dalam lagi. Aku memang lelaki yang suka memendam perasaan, seklipun perasaan itu bisa menusuk hati. Aku tak suka perasaanku diketahui oleh orang dan gemar merahasiakan dengan diriku sendiri.

No comments:

Post a Comment