Merasa kehilangannya saat aku berada dalam ketidakpastian dalam logika. Memang wilayahnya berbeda antara rasa dan logika.
Lagi-lagi ada yang memintaku untuk maju menjadi ketua umum HMI komisariat. Dengan jawaban yang diplomatis aku menolaknya.
Aku semakin akrab dengan Fe. Kami banyak berbagi cerita. Tanpa kuduga sama sekali ternyata dia seringkali mengalami gangguan dari jin. Bahkan pengakuannya, sewaktu masih di yogya, banyak keris yang mendekatinya tapi dibuangnya.
Pengalaman "dunia lain"nya membuatku ingin sekali melindunginya dengan doa-doa yang kubisa agar dia tidak lagi terganggu dan bisa hidup normal.
Rasanya, dia sudah tak lagi menutup diri, aku juga berusaha terbuka untuknya agar tak terjadi kesalahpahaman. Kuharap dia semakin terbuka lagi padaku agar keraguanku atasnya menghilang dan kita bisa saling memahami.
Jujur saja, dari cerita-ceritanya itu aku ingin lagi membaca doa-doa yang telah kutinggalkan. Wirid-wirid yang pernah diijazahkan oleh kiai sewaktu di pondok dulu. Aku malu pada Fe, dengan keterbatasan ilmu tentang islam yang dimilikinya, dia mampu berusaha mengamalkan ilmunya agar bisa semakin mendekat pada Allah. Aku tak mau kalah. Kalau dulu Ifa mengajariku untuk bersedekah, kini Fe mengajariku memanfaatkan ilmu untk mendekat pada Allah. Bukannya membandingkan. Tapi dua sosok wanita itu sama-sama mengajariku kebaikan. Kebaikan yang membuatku tak ingin dikalahkan.
Sunday, May 29, 2011
JUMAT, 27 MEI 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment