Monday, May 16, 2011

MINGGU, 15 MEI 2011

Aku hanya bingung pada diriku sendiri, terutama pada perasaanku. Ya, rasa yang belum tentu berasal dari hati, rasa yang mungkin akibat dari manipulasi nafsu. Aku tak tahu.
Dari manapun perasaan itu, aku bisa merasakan bahwa semua yang aku lakukan hanyalah kebohongan saja. Apa yang kuucapkan pun tak lepas dari retorika-retorika manis beracun. Nuraniku mengatakan agar aku melawannya. Namun entah dengan apa aku bisa melawannya. Bahkan makanpun aku tak mampu merasakannya
Betapa aku sangat lemah untuk kasus laknat ini. Aku pun belum bisa jujur menceritakan pada tulisan-tulisanku. Munafik sekali aku ini.
Orang jauh di seberang sana tak bisa menjawab soalku. Mereka hanya memberi saran-saran apriori yang tak bisa kuterima.
Seingatku dua kali ini aku merasakannya. Tak berdaya aku. Tak kuasa aku. Ya, idealismeku mulai digerogoti oleh kegilaan tak terkontrol.
Aku sendiri malu melihat senyumku. Senyum aneh tak berarti. Buka senyum manis, senyum sinis atau senyum bangga. Senyum yang terbentuk dari bibir yang ku tarik ke kanan dan ke kiri tanpa arti dari hati. Senyum tak berlogika namun mengandung ribuan spekulasi. Bingungnya aku.

No comments:

Post a Comment