Monday, December 20, 2010

SENIN, 20 DESEMBER 2010

Kemarin aku dibingungkan oleh tiga agenda dalam waktu yang sama. Antara tugas jadi juri, syura FLP dan lanjutan Muskom HMI Korkom Walisongo. Seandainya waktu MTs aku nggak pernah ngaji, pasti aku lebih bingung dari kemarin. Dulu, waktu ngaji uztadz Ali Imron pernah bilang andaikata ada undangan banyak dalam waktu yang sama, maka yang mengundang dulu harus didahulukan. Sampai sekarang aku masih menggunakannya sebagai pegangan.
Hampir sepuluh hari yang lalu mas Syamsul sudah memberitahuku terkait lomba MQK di kabupaten Batang, dimana aku mendapat posisi sebagai juri cabang Hadis tingkat Wustho dengan kitab Bulughul Marom. Sebelumnya mas Syamsul bilang kitab yang akan digunakan adalah kitab Subulus Salam, syarah dari Bulughul Marom. Karena kemampuan peserta yang kurang mumpuni maka kitab yang digunakan adalah Bulughul Marom yang lebih ringkas. Hampir saja aku tadi memenangkan peserta bukan karena kemampuan akan tetapi kecantikan. Tapi Alhamdulillah aku bisa menahan niat buruk itu. Dan sampai sekarang aku masih punya anggapan bahwa selagi masih punya nurani, manusia tak akan pernah bisa obyektif. Aku sendiri tadi merasa kesulitan menilai. Beberapa kali aku mencoret penilaianku. Bagaimanapun juga itulah aku, manusia yang berusaha obyektif.
Sebenarnya aku sudah dibingungkan oleh pilihan sejak tanggal 18. Ketika Musykom dimulai pada hari itu, aku juga dapat tugas mengukur arah kiblat empat masjid di Semarang. Agenda ini sudah lama direncanakan Ahmad Izzuddin. Namun baru bisa terlaksana tanggal 18 dan 19 Desember. Masjid yang kuukur berada di Tambak Aji, perumahan BPI, Bulu, dan Karang Ayu. Lokasinya berdekatan tak terlalu jauh. Beda dengan kelompoknya si Adhon yang jaraknya jauh antara satu masjid dan masjid yang lain. Sebelum dhuhur target semua masjid sudah diukur untuk menghindari cuaca yang selalu mendung di sore hari. Bulan Desember ini hujan turun tiap hari. Benar juga orang jawa bilang desember sebagai gede-gedene sumber.
Kelompokku menemukan sedikit kendala karena belum dapat rekomendasi dari ta’mir masjid BPI. Pak Eman selaku pendamping kelompok kecewa dengan kerja kami karena kasus itu. Menurutku sikap pak Eman salah. Ikhwan sudah usaha sebaik mungkin tapi belum bisa ketemu dengan ta’mir masjid.
Sebelumnya aku agak sentimen dengan proyek pengukuran arah kiblat, namun tugas kemarin membuatku merasa menemukan kepuasan sendiri. Bukan karena bisa makan enak setelah pengukuran selesai namun karena hati yang puas jika bisa mengukur masjid dengan teodolit. Hampir semua masjid masih melenceng (menurut pengukuran kami) beberapa derajat. Rasanya aku jadi hobi mengukur arah kiblat karena asyik menggunakan teodolit dan kerja sama tim yang kompak.
Tanggal 19 bukan masjid yang diukur tapi kuburan dan Musholla di Tugu dekat rumah pak Eman. Pak syifa masih setia membimbing kami dan sesekali guyonan denganku. Setelah pengukuran kiblat aku mendapat rezeki dari Allah. Uang makan untuk pengukuran arah kiblat sejumlah 40 ribu. Uang inilah yang kubuat berangkat ke Batang dengan Idris kemarin. Sampai di Batang uangku tinggal lima ribu. Dan hari ini pada jam 13:42 aku dipanggil mbak Kitri untuk tanda tangan kehadiran absen dewan juri. Dan segala puji bagi Allah aku dapat uang seratus ribu. Subhanallah wal hamdulillah wala ilaha illallah. Hanya engkau yang ku sembah Tuhanku.
Tadi malam Timnas Indonesia menang atas Filiphina 1-0. Gol indah dilesakkan Christian Gonzales. Pemain naturalisasi asal Uruguay. Dia sosok pemain bola yang religius padahal dia adalah Muallaf. Salut buat “el Loco”. Setelah nonton bola bareng-bareng. Ada briefing juri MQK dan moderator juri. Moderator untuk MQK hadis lumayan manis. Santri kelas tiga ponpes ini, ponpes Darussalam kemiri Subah Batang. Namanya Husna. Sayangnya dia kelihatan masih MTs. Seusia Pipin adikku. Jadi aku kurang tertarik. Lagipula aku juga masih sulit jatuh cinta.

No comments:

Post a Comment