Alhamdulillah. Hari ini cukup berarti. Banyak sekali pelajaran dan pengalaman baru. Bermula dari kuliah Ahmad Izzuddin yang terlambat datang. Seharusnya dia datang jam tujuh pagi. Tapi dia terlambat dan sekitar jam Sembilan baru masuk. Benar-benar orang yang tak komitmen. Sudah lama aku kurang suka dengan sifatnya. Maka, selama kuliah aku melanjutkan petualangan Diamond Rush.
Hari Rabu sore aku dapat undangan sms untuk aksi dalam rangka hari antikorupsi sedunia di depan gedung DPRD Semarang. Aku cukup pesimis untuk bisa ikut, karena tadi pagi aku harus kuliah Izzuddin, dosen bertangan besi yang sepertinya agak melunak. Entah karena apa.
Semenjak kuliah, teman-teman HMI sudah menungguku untuk berpartisipasi dalam aksi tersebut. Posisiku sebagai KABID KAM selayaknya mengikutinya meskipun aku sendiri masih ragu dengan kemurnian niat para demonstran. Akhirnya dengan izin Allah, aku masih berkesempatan mengikuti demo. Demi pengalaman dan tantangan, akhirnya kuputuskan ikut. Setengah sebelas aku berangkat dengan Adon, teman dekatku. Dari tadi dia sudah mengajakku. Di sana keraguanku terjawab. HMI tak dapat suap untuk demo. Demonstrasi HMI adalah panggilan alam. Kalau ada unsur suap itu bukan HMI.
Bis yang kutumpangi cukup lama. Dari Jerakah ke lokasi aksi, menghabiskan waktu kurang lebih sejam. Terlihat dari kejauhan, teman-teman sudah berorasi di depan gedung DPRD. Tak lama kemudian demonstran pindah tempat karena tak dapat cukup respon dari DPR. Kita menuju gedung Kejati Jateng. Disana kami berorasi dan mendesak aparat keamanan agar bisa masuk gedung Kejati dan menyampaikan aspirasi kami. Gedung megah Kejati dibangun oleh rakyat. Maka, kami juga berhak masuk kesana karena kami juga rakyat.
Polisi bertahan cukup lama. Provokasi demi provokasi dikeluarkan orator. Mulai dari Elvas, Iput, Azka, Zainal dan teman-teman lain. Azka mendesakku untuk orasi. Aku masih belum berani untuk orasi.. Ini adalah pengalaman pertamaku mengikuti aksi selama di HMI.
Tak lama kemudian, Ulil, selaku ketua HMI cabang Semarang dan Tajus Kabid PTKP cabang mampu masuk dengan baik-baik, namun teman-teman di luar masih merangsek masuk ke dalam. Akhirnya polisi melakukan kekerasan. Tangan mufid terinjak sepatu tebal polisi. Dia terluka. Kita minta pertanggung jawaban. Ahwani memaksa polisi bertanggung jawab atas perlakuan kerasnya.
Kurang lebih setengah jam, akhirnya ketua Kejati keluar menemui kita. Mas Ulil membacakan rilis dan tuntutan kami. Kemudian Kejati merespon kami dan bicara panjang lebar. Katanya, pihak Kejati sudah melakukan tindak pemberantasan korupsi yang lebih dari pada tuntutan kami. Aku kurang percaya. Lalu Mas Ulil minta pihak kejati untuk menandatangani tuntutan demonstran. Awalnya dia agak kesal karena merasa didekte oleh kami. Namun dia akhirnya menandatanganinya. Cukup aneh sikapnya. Mungkin dia takut sikapnya direkam dan diberitakan wartawan. Banyak sekali wartawan di sana. Dari komps, TV Borobudur dan lain-lain. Aku yakin besok akan masuk di Koran.
Sepulang aksi, aku dan adon sholat Dhuhur di masjid Baiturrahman Simpang lima dan melanjutkan perjalanan menuju pameran buku di gedung Admiral. Aku yang dari awal hanya membawa uang kurang dari lima belas ribu memang tak berencana beli buku. Hanya ingin melihat-lihat saja. Jam empat aku keluar dari pameran dan ke musholla untuk sholat ashar dan setelah itu tertidur di sana karena kelelahan.
Malamnya aku harus ke stadiun Citarum. Ada undangan dari LBH Semarang untuk mengikuti panggung rakyat dalam rangka memperingati hari anti korupsi. Di sana aku cukup terharu. Melihat usaha para LBH dalam membantu para nelayan, petani dan orang-orang yang dianiaya di peradilan.
Acara panggung rakyat diisi dengan teatrikal, diskusi dan penampilan kesenian rakyat. Diskusi publik diisi oleh Rohmah, selaku direktur LBH Semarang, pak Sahlan mantan hakim jogja dan dosen hukum. Ada ungkapan menggelitik dari mantan hakim jogja. Istilah hakim diplesetkan dnegan “hubungi aku kalau ingin menang”. KUHP, “kasih uang habis perkara”. Kurang lebih 20 tahun pak Sahlan menjabat jadi hakim di Jogja. Tahun 2003 dia mundur karena tak tahan terhadap kejahatan yang terjadi ditubuh peradilan. Menurutnya, hakim wanita lebih rawan suap daripada laki-laki. Pernah dia mau disuap oleh jaksa bernama niken, tapi di menolaknya. Baginya, solusi yang tepat adalah dengan pengadilan rakyat. Pengadilan Negara sudah tak dapat dipercaya. Pak Sahlan juga sempat mengatakan ungkapan professor Daniel dari Amerika. Menurutnya kalau mau memperbaiki pengadilan di Indonesia, pecat dulu semua hakim yang ada. Selepas diskusi, akumendekat ke pak sahlan. Aku sempat ngobrol sebentar dengannya. Hany obrolan ringan tentang asalnya, karena kebetulan pak Sahlan juga kelahiran lamongan.
Sejak awal acara, lagu-lagu Iwan Fals diputar operator. Lagu dengan lirik pedas terhadap pejabat-pejabat pemerintahan di Indonesia. Awalnya aku kurang suka lagu Iwan Fals. Baru setelah tadi mendengarnya aku ngefans liriknya. Seharusnya, di antara musisi Indonesia yang jumlahnya membeludak harus ada yang mencontohnya.
Saturday, December 11, 2010
KAMIS, 9 DESEMBER 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment