Sunday, December 5, 2010

Sabtu, 4 DESEMBER 2010

Di atas jam 1 malam
Sore tadi sekolah hukum dengan pak Harun, SH.i M.hum. Beliau nggak datang karena mengantar anaknya periksa ke dokter. Akhirnya dengan terpaksa aku harus memimpin diskusi dengan tema yang tak kuasai. Tentang asas legalitas dan asas retroaktif. Alhamdulillah, aku bisa mengatur jalannya diskusi. Lebih dari dua puluh orang yang hadir. Ada bebarapa ilmu baru ayng kudapat. Tentang asas legalitas yang tak absolut dan apa itu asas retroaktif.
Pembahasan pertama yang kukemukakan adalah tentang kasus ariel. Menurutku dia tak pantas diberi sanksi karena tak sesuai dengan asas legalitas. Perekaman video pornonya dengan Luna Maya dan Cut tari dilakukan pada tahun 2006 sedangkan UU pornografi pornoaksi baru disahkan DPR pada tahun 2008. Asas legalitas menyatakan bahwa suatu perkara tak bisa dikenai sanksi hukum jika tak ada aturan tertulis yang mengaturnya. Tapi setelah kutahu apa itu asas retroaktif, ternyata kasus ariel memang masuk dalam kategorinya. Seperti halnya terorisme yang dilakukan oleh Amrozi CS, dimana tak ada aturan tentang pengeboman Bali. Akhirnya dengan asas retroaktif yang menyatakan bahwa hukum bisa berlaku surut untuk tindakan yang belum ada aturannya dalam undang-undang dan perbuatan tersebut merupakan delik baru yang perlu dijatuhi hukuman.
Di tengah-tengah diskusi, Malicha kirim sms aku. Dia terlihat kecewa sekali dengan teman-teman pengurus lain. Si japrak, Harianto, Ghofur dan teman-teman yang malah ikut seminar di pandanaran dan datang terlambat pada agenda mingguan Komisariat.”Ya allah, ternyata mempertahankan prinsip dan tujuan sangat sulit dilakukan, kita lebih mudah melontarkan visi dan misi dalam forum, dalam faktanya sama telah menyimpang,t anggun jawab terlupakan begitu saja”. Begitulah isi smsnya.
Setelah diskusi Malicha bicara panjang lebar tentang ketidakpuasannya terhadap Ketum dan pengurus lain. Aku juga sama seperti dia. Ketika semua persiapan sekolah hukum sudah matang, tapi dari Kabid lainnya malah ikut seminar. Harianto, Izwan, Mansur dan Ghofur merasa kegiatan yang kuagendakan hanya untuk kader. Pengurus komisariat tak terlalu penting. Meskipun demikian, usahaku tak akan sia-sia untuk menambah kapasitas intelektual anggota HMI komisariat Syariah.
Ada beberapa poin yang perlu dikritisi terkait ketidakpuasanku dan Malicha. Terutama buat Izwan yang tak tegas dan terkesan bingung dengan langkahnya. Intinya dia belum punya arah untuk komisariat. Sejak rapat koordinasi pada hari Selasa kemarin aku sudah agak heran. Kenapa dia nggak bisa menengahi percecokan mulut antara Harianto, Malicha dan Mansur. Biarlah. Mungkin dia punya pertimbangan sendiri. Atau takut terjadi ketidakharmonisan antarpengurus. Bagaimpanapun juga, Japrak banyak membantuku dalam mensukseskan agenda sekolah hukum.
Ba’da maghrib aku meluncur ke kampus satu. Jalan kaki. Nunggu bis terlalu lama. Sudah jam setangah tujuh. Bis dari arah Ngaliyan pasti jarang yang ke bawah. Sampai kampus satu sudah ada As’ad, Muna, Khoirulm, Iskandar, fiki dan farij. Mereka sudah menunggu kedatangan semua teman-teman.
Dari pagi aku belum mandi. Ku ngobrol sebentar kemudian ke kamar mandi masjid kampus satu. Segar sekali badanku setelah diguyur air. Tak lama kemudian azdan isya’, sholat dan melanjutkan dengan agenda pasti HAMAM (Himpunan Alumni Mambaus Sholihin) yakni baca ratibul Attos dan Haddad. Aku bertindak sebagai pembawa acara. Pemimpin Dzikir, Iskandar dan farij.
Kembali ke Darun Najah hampir jam setengah sebelas. Di kamar sudah ada Lukman dan para penghuni Jabal Nar. Ku mulai ngobrol, tanpa terasa sampai jam 12 malam kita ngobrol. Ada Fi’ul yang sering komentar, Baha dan Lukman yang sering tak puas dengan argumenku.
Kita ngobrol kesana kemari. Tentang pemikiran Liberal, jilbab, Justisia, sejarah Soekarno, konflik Korut-Korsel, hingga kapitalis dan komunis dan lainnya. Di atas jam dua belas Lukman keluar dari obrolan. Kuharap obrolan kita bisa membuatnya mau berfikir lebih tentang kondisi bangsa ini. Mau bergerak buat Indonesia meski hanya lewat diskusi.
Aku, Baha’uddin dan ofan masih melanjutkan obrolan. Hingga akhirnya di Baha menceritakan mantan pacarnya dan pacarnya sekarang. Aku hanya diam dan satu dua kali bertanya pada nya. Biar aku masih dianggap mendengarkan omongannya. Meski tanganku asyik masin game dan smsan dengan Icha teman akrabku waktu SD.

No comments:

Post a Comment