06:15 am
Seharusnya tadi malam kubuat catatan ini. Tapi kutertidur pas asyik baca. Entah hari ini apalagi yang akan aku hadapi. Belum ada gambaran jelas, masih di angan-angan. Tanggal 29 sore aku ikut diskusi yang diadakan css. Sesuai rencana akhirnya kubisa menyampaikan motivasi pada pada mereka. Sayangnya temanya kurang ok. Di tengah kasus-kasus di pemerintahan masih belum tuntas, tema yang diambil malah psk. Biarlah. Mereka masih baru. Baru dengan program kerja dan kerjanya.
Di waktu yang sama, hmi mengadakan follow up sejarah dan konstitusi dengan Imron Hamzah, SH.i sebagai pemateri. Masih kurang ideal penyampaiannya. Buatku sih. Tapi niat Imron bagus. Kegiatan seperti itu saja diniatinya sebagai ibadah. Tholabul ilmi.
Aku sekarang masih belum tahu isu yang sedang panas di parlemen. Kurang lebih tiga hari tak lihat tv one atau metro gara-gara ambil jaket dan buat id card di jogja. Semalam Cuma lihat sekilas Jakarta lawyers club. Sepertinya tentang BK DPR yang dibahas. Aku ada kekecewaan mendalam juga pada mereka. Terutama ali maschan Moesa, BK DPR dari Fraksi PKB. Sosok religious tapi ikut-ikutan ke Yunani, yang katanya mampir ke Turki dan lihat tari perut disana.betapa bertentangannya. Uang yang digunakan bisa dibuat bangunrumah susun untuk orang-orang jalanan.
16:00 pm
Aku tak tahu sudah berapa bulan aku sholat tanpa peci. Bagi muslim klasik (kalau nggak mau bilang kuno), peci adalah perangkat wajib yang harus dipakai. Karena lebih sopan saat menghadap allah. Manusia sering menilai tuhan seperti manusia. Misalnya saja tentang kesopanan. Telingaku tak jarang mendengar orang bilang kalau sholat harus berpakaian seperti ini itu dengan alas an kalau kita menghadap kepala desa atau kiai saja, kita tak akan pakai kaos atau celana. Tapi itu adalah usaha manusia untuk tawadlu’ pada Allah.let them think about God like they are thinking. Respect them
Di atas jam setengah 11 malam
Hari ini cukup dengan satu kegiatan. Rapat koordinasi pengurus HMI komisariat syariah. Seperti biasa, semua telat kecuali aku. Sempat terjadi konflik, meski diusahakan dengan bahasa halus. Kabid Gender, Malicha masih mengalami konflik dengan Harianto, Kabid PPPA. Entahlah, aku hanya berusaha menengahi. Potensi manusia untuk merasa benar terlihat mencolok tadi. Semua merasa apa yang dikatakannya benar. Mansur, Malicha, Harianto, dan mungkin aku juga sama seperti mereka. Sayang, Ketumnya, si Izwan Ghozali yang kurang tegas. Nggak bisa menengahi. Entah disengaja atau tidak.
Yang terjadi tadi tak jauh berbeda dengan kondisi orang-orang di legislatif yang sering terlihat kayak anak kecil. Berdebat hingga adu jotos. Benar sekali apa yang dikatakan Gus Dur saat menjadi RI 1. Bahwa DPR tak ada bedanya dengan anak TK. Semua terbukti sekarang. Adu jotos terekam wartawan televise dan berulang kali ditampilkan di tivi. Itulah dampak fanatic partai. Mengandalkan golongan, mengandalkan ego dan merasa benar sendiri. Gayus Lumbuun, ketua BK DPR dari fraksi PDI-P pernah dibilang bangsat oleh ruhut Sitompul, orang democrat saat siding kasus century. Masih banyak lagi pertikaian lainnya yang tak terekam kamera. Atau terekam tapi tidak dipublikasikan karena tidak berani atau tidak layak tayang. Dan kemungkinan juga, wartawannya kurang professional sehingga bisa menerima suap agar tidak menampilkannya.
Bagiku, metro TV maupun Tv one yang kelihatannya Obyektif, sebenarnya hanyalah mainannya Surya Paloh dan Ical. Kritik pemerintahan dilakukan habis-habisan oleh Metro TV karena ada Surya Paloh yang merusak Citra Pak Beye agar dia bisa maju di 2014. Sedangkan boneka si Ical kurang berani mengkritik pemerintahan karena dia temannya presiden. Aku masih ingat ketika satu tahun pemerintahan SBY. Demo besar-besaran terjadi seperti tahun 1998. Bedanya demo kemaren terjadi di tiap-tiap daerah tidak berkumpul jadi satu di Jakarta. hanya metro tivi yang menyiarkan demostrasi besar-besaran secara langsung. Tivi one hanya sedikit nyerempet. Jangan mudah percaya pada berita bohong di tivi. Sometime, we will know the fact.
Wednesday, December 1, 2010
Selasa, 30 NOPEMBER 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment