Wednesday, December 1, 2010

RABU, 1 DESEMBER 2010

18: 25
Hari ini hari aids sedunia. Beberapa daerah di Indonesia memperingatinya. Kulihat di televise kebanyakan waria yang merayakannya. Meski agak muak dengan mereka, tapi entahlah aku sendiri masih ambivalen.
Masih kuingat tahun lalu ada pembagian pita di kampus tiga. Tapi tadi hanya kulihat ti televise. Dan aku sendiri tidak merayakan hari ini.
Di hari yang sama, Yogyakarta digoyang sedikit oleh pak Beye. Muncul di statemen di tivi SBY VS Sultan. Aku masih belum menangkap apa tujuan SBY menggoyang keistimewaan Yogya. Kemungkinan besar ada unsur politis.
Keharmonisan yogya dan ketundukan masyarakat rakyat yogya kepada sultan sepertinya mengalahkan kewibawaan SBY. Tapi sebab pastinya aku belum tahu. Namun yang pasti pak beye menganggap yogya bersistem monarki yang tak sesuai dengan demokrasi. Memang benar juga yogya agak monarki. Pemilihan gubernurnya, sri sultan yang bisa memimpin tanpa dipilih dalam pemilu. Ini secara nggak langsung terlihat tak demokratis.

Di atas jam setengah sebelas malam
Tadi pagi dapat kuliah keadvokatan dengan pak khoirin. Dan agak bĂȘte karena seharusnya jam kosong harus diisi hukum adat. Kuliah hukum memang membosankan. Tapi sudah jadi konsekwensiku menerima beasiswa penuh.
Pukul 15: 30 aku punya du agenda. LPJ LK 1 HMI di depan UBINSA dan diskusi rutin CDIS (center of democracy and Islamic studies) di kampus Fakultas Ushuluddin. Alhamdulillah, aku orang yang pertama kali datang sebelum presiden CDIS, Nurul Ikhwan dan teman-teman yang lain. Tema diskusi cukup membosankan buatku. Sudah sering baca literaturnya. Epistemology islam, hubungan antara wahyu, akal dan rasa. Apalagi pematerinya kurang menggigit, mas nadzir, Sth.i. bagi mahasiswa baru mungkin menarik juga atau malah kebingungan karena tadi penyampainnya sudah sampai ke ranah yang cukup jauh ditambah background peserta yang semuanya bukan orang ushuluddin atau syariah.
Aku sempat menyimpulkan kalau alquran juga punya potensi menyesatkan kalau penafsirnya salah tafsir. Tapi aku juga masih bingung, kenapa ada ayat yang menyebutkan bahwa quran itu sebagai petunjuk. Jika memang jadi petunjuk tak mungkin punya potensi menyesatkan.
Banyak teman-temanku sekelas yang masih apatis, yang tak mau tahu dengan kondisi Negara ini. Hanya sibuk dengan kuliah dan rutinitasnya tanpa mau sedikit berfikir kondisi Negara ini. Makanya aku terkadang muak melihat wajh-wajah mereka ketika di kelas.
Aku tertarik dengan orang-orang sosialis, yang terkadang tanpa embel-embel dari agama, mereka bisa memikirkan kemaslahatan bersama. Malah, orang-orang yang mengatakan dirinya beriman malah sibuk dengan pribadinya. Merasa berada di titik aman ketika bisa melaksanakan sholat secara rutin tanpa memikirkan orang-orang kelaparan di sekelilingnya. Meskipun aku masih bingung dan belum bisa memberikan kontribusi kepada orang-orang yang butuh uluran bantuan, aku akan terus mencoba memikirkan mereka.

No comments:

Post a Comment