Sebelum pukul enam pagi
Jam Sembilan malam aku sudah tidur. Lelah dan ngantuk, padahal aku sudah tidur siang yang tak nyenyak. Sempat terbangun jam setengah dua belas malam dan jam setengah empat. Tapi aku balik tidur lagi. Mau sholat malam malas karena di PKM nggak ada air. Kalau mau wudlu harus di masjid. Jauh sekali.
Kamis sore, ikut diskusi “Derita Devisa Negara, Derita Kita”. Menurutku diskusi ini sudah agak basi. Kasus TKW panas minggu-minggu yang lalu. Tapi cukup bagus juga. Malicha (KABID GENDER) bisa mendatangkan dua kader KAMMI dan GMNI. Sayangnya PMII nggak ada yang datang. Orang KAMMI cukup kritis juga. Selalu menanggapi apa yang kukemukakan. Sebelumnya kukira perwakilan KAMMI juga dari Syariah, ternyata tidak. Keduanya dari Tarbiyah. Kubicara kesana kemari tentang solusi untuk TKW dari aspek hukum dan undang-undang. Pantas saja, mereka selalu bertanya-tanya jika ada yang mencoba mengusulkan untuk membuat undang-undang khusus perlindungan TKW Arab dan Malaisia yang sering disiksa majikannya.
Selama apapun diskusi tadi, ternyata bagiku tak ada manfaat yang signifikan. Aku hanya bisa memberi solusi dan mengkritik orang-orang di atas. Tanpa tahu faktor-faktor sosialnya. Kalau diskusi tadi tak ada tinjak lanjut. Sama saja dengan buang-buang waktu. Azka lebih luas lagi bicaranya. Sedikit menyinggung komunis dan kapitalis. Memang ada hubungannya juga. Tapi akan terlalu panjang kalau dilanjutkan. Sedangkan Adzan maghrib sudah berkumandang.
Setelah diskusi langsung sholat maghrib dan ke PKM. Di jalan sempat terpikir apakah bisa ku jadi sosialis yang qurani. Seperti apa sosialis yang qurani dan siapakah tokoh yang pernah jadi sosialis qurani. Aku belum tahu. Mayoritas umat islam menitikberatkan alquran yang hanya membahas halal dan haram. Itu terlalu naïf. Umat islam sudah tahu apa itu alquran. Tapi masih saja dipahami secara parsial. Aku suka Muhammad Abduh. Aku setuju dengan pendapatnya kalau malaikat bukan makhluk bersayap. Tapi merupakan sistem yang berproses. Kalau malaikat dipahami seperti makhluk, menurutku akan menimbulkan kesan bahwa Allah butuh makhluk. Tapi kalau malaikat adalah sistem, maka ini bentuk kekuasaan Allah. Dia membuat sistem alam yang bisa menghasilkan hujan dengan nama Mikail. Bisa membuat akal aktif berupa jibril dan lainnya.
Surat albaqoroh yang menggambarkan peristiwa malaikat, iblis dan manusia, bagiku hanya sebuah simbol dan majaz yang menyimpan arti bahwa manusia bisa mengungguli sistem (malaikat) yang ada di dunia jika dia berpengetahuan. Sistem akan tunduk pada manusia dan berada di bawah posisi manusia. Namun demikian, manusia punya potensi negatife dan positif dalam dirinya. Posisi negatif itu disebutkan dalam alquran sebagai iblis dan setan. Kalau kekuatan itu tak bisa dikuasai, apalagi kalau malah terkuasai, jangan harap kebaikan akan datang padanya. Secara berproses, manusia akan mendapatkan dampak buruknya. Singkatnya, setan bukan makhluk mengerikan, tapi dia adalah potensi negatif dalam diri manusia yang selalu mengajak manusia untuk berbuat jelek sesuai keinginannya. Manusia bisa mengendalikannya kalau rohaninya diberi makanan sesuai porsi. Dalam artian, menurut pandanganku, bahwa manusia punya jasmani dan rohani yang keduanya harus dijaga kesehatannya dengan makan yang cukup, istirahat cukup dan mujahadah (olahraga). Sayangnya manusia masih banyak yang kurang menyadari. Aku juga seringkali tak menyadarinya. Sehingga hanya jasmani saja yang kurawat. Makanan rohani seperti sholat, berzikir, baca alquran dan ibadah individual lainnya hanya kuanggap untuk menggugurkan kewajiban, bukan sebagai kebutuhan primer.
Sunday, December 5, 2010
JUM’AT 3 DESEMBER 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment