Wednesday, December 1, 2010

NU Muda Mau Kemana?

Kutulis kira-kira setahun sampai dua tahun yang lalu dimuat di majalah al fikrah

Akhir-akhir ini, baik disadari atau tidak energi kaum nahdliyin lebih banyak dihabiskan untuk kepentingan politik dari pada untuk mencari problem solving terhadap berbagai permasalahan ataupun untuk berdakwah. Dalam hal ini kader muda NU yang sangat diharapkan bisa membawa NU ke arah lebih maju malah lebih memilih politik praktis untuk mendongkrak karir maupun status ekonomi lainnya.
Menurut sebuah media yang pernah penulis temukan, Khittah an-Nahdliyyah atau khittah NU telah tercoreng dengan lahirnya PKB pada tahun 1998. Siapapun boleh berspekulasi lebih besar mana manfaat dan madharat dengan hadirnya PKB. Kehadiran PKB, terlebih dengan konflik internalnya yang sampai saat ini tak kunjung reda, baik secara langsung maupun tidak langsung telah meresahkan warga nahdliyin. Penulis tidak akan menjabarkan masalah ini dengan panjang lebar. Mudah-mudahan pengalaman ini mengajarkan warga nahdliyin bahwa politik membuat keretakan sosial dan memudarnya solidaritas warga NU karena perbedaan visi masing-masing.
Tidak hanya politik yang kini menjadi pilihan lain pemuda NU, di era yang penuh dengan permasalahan yang tak ada habisnya ini, NU juga telah dibingungkan dengan hadirnya aliran-aliran islam ”sempalan” yang secara teoritik lebih dinamis untuk dijadikan panutan apalagi bagi kaum muda yang suka dengan hal yang baru. Sangat disayangkan, tidak sedikit kalangan muda NU yang menjadi pengikutnya bahkan menjadi pembesarnya. Tidak perlu disebutkan siapa saja mereka, yang perlu digarisbawahi mereka semua adalah kalangan terpelajar yang paham aswajanya telah terusik dengan kehadiran aliran-aliran baru tersebut. Siapa yang salah?
Kondisi seperti ini sangatlah mengkhawatirkan. Apalagi problem kekinian yang dihadapi umat umat islam maupun yang terdapat pada tubuh NU sendiri semakin kompleks dan bertambah rumit. Lembaga Bahstul Masail yang menjadi ruang untuk memecahkan waqi’iyah sudah tak begitu terdengar lagi gemanya karena fatwa yang dimunculkan oleh forum Bahstul Masail tak mendapat respon positif dari kalangan nahdliyin sendiri.
Jika dibiarkan tanpa adanya penanggulangan, yang ditakutkan adalah hilangnya kader muda NU. Propaganda kelompok islam non-mainstream (islam radikal) yang secara diam-diam dan terprogram telah menyebabkan pudarnya nilai-nilai aswaja pada diri kaum muda NU. Hal ini didasarkan pada dinamika kehidupan dengan kompleksitas masalah yang tidak bisa dipecahkan atau dijawab tuntas oleh institusi NU. Sementara itu kelompok islam fundamental dengan tahapan pengkaderan yang jelas dan managemen yang diatur secara profesional akan membuat kalangan muda NU tertarik dengan keberadaannya sehingga lambat laun akan menggerus komimen ke-NU-annya.
Selain itu keberadaan JIL (jaringan islam liberal) yang selama ini menjadi musuh aliran islam garis keras. Sebelum tragedi pengeboman gedung WTC di Amerika Serikat pada tanggal 11 September 2001 sudah menjadi rahasia umum bahwa NU menentang hadirnya jaringan yang dimotori oleh Ulil Abshor Abdalla tersebut. Namun setelah peristiwa yang menggemparkan dunia tersebut, NU terkesan seperti berada di pihak JIL dengan memberikan lampu merah terhadap warganya agar tidak mengikuti aliran-aliran islam puritan (islam radikal) tersebut. Akan tetapi di lain pihak NU masih menganggap bahwa JIL harus diwaspadai meskipun jaringan ini mendapatkan sambutan hangat di kalangan akademisi di perguruan-perguruan tinggi khususnya perguruan tinggi yang berlebel islam.
Penulis pernah menjumpai fakta yang sangat memprihatinkan. Pertama ketika penulis bertanya alasan seorang teman yang berdomisili di Surabaya yang memilih tinggal di kos dari pada di pondok pesantren dengan alasan pesantren yang dekat dengan kampusnya menjadi basis dari salah satu dari aliran islam non-mainstream yakni HTI (Hizbut Tahrir Indonesia). Kedua, baru-baru ini penulis mendapat partanyaan dari salah seorang rekan yang juga tinggal di Surabaya tentang HTI. Pertanyaan tersebut dia kemukakan setelah ayah, ibu, dan kakak-kakaknya yang sudah masuk HTI mengajaknya menjadi salah satu pengikutnya. Kedua fakta ini cukup menjadi bukti bahwa aliran-aliran islam puritan telah banyak digandrungi oleh elemen-elemen masyarakat dari berbagai kalangan. Memang tawaran HTI untuk membentuk khilafah islamiyah dapat dikatakan sebagai ide yang cemerlang. Namun demikian perlu kita ketahui bahwa negara Indonesia adalah negara hukum. Sehingga asas demokrasi dan nasionalisme yang ditentang oleh HTI tidak bisa luput dari negara Indonesia.
Sebelum tahun 90-an Nurcholis Majid elah mengatakan bahwa pada awal abad 90 akan lahir kalangan muda terpelajar NU namun mereka belum tentu bisa menjadi penerus para sesepuh NU atau para kyai-kyai yang sudah memperjuangkan NU selama ini. Dan pernyataan itu ternyata benar. Salah satu penyebabnya adalah pergulatan ideologi kaum muda NU yang lebih memilih mencari sebuah pemikiran baru karena menurut mereka apa yang telah menjadi tradisi di NU sudah tidak relevan dengan konteks zaman modern. Pemikiran mereka yang kontradiktif terhadap pandangan para sesepuh NU juga didasari konsepsi khittah NU seperti penerapan terhadap prinsip-prinsip kemasyarakatan NU yang bertumpu pada konsep tawasuth dan i’tidal (sikap tengah atau moderat dan adil), tasammuh (toleran), tawazun (sikap seimbang) dan amar ma’ruf nahi munkar yang dalam implementasinya dapat diakui dapat membentuk warga nahdliyin yang moderat dilestarikan oleh warga nahdliyin.
Penulis mengajak para pembaca yang budiman untuk lebih befikir ke depan sebab ketika kita terjun di masyarakat secara otomatis masyarakat akan menjadikan kita tumpuan dan panutan yang dipatuhi. Jika kita tidak bisa memberikan penjelasan yang memuaskan terhadap mereka ditakutkan image pesantren bisa menurun dan akhirnya mereka akan ragu untuk belajar atau memondokkan anak atau saudaranya. Kita mempunyai beban moral yang lumayan berat. Dan perlu diketahui bahwa eksistensi NU tergantung pada perkembangan tarbiyah pondok pesantren. Wa ilallahi turja’ul umur

No comments:

Post a Comment